OpenAI disebut tengah menyiapkan ponsel dengan pendekatan yang tidak mengikuti pola iOS dan Android. Perangkat ini dirancang dengan konsep AI-agentic, sehingga interaksi utama pengguna tidak lagi bertumpu pada deretan aplikasi, melainkan pada agen AI yang membantu menjalankan tugas.
Jika arah ini benar-benar terwujud, perubahan yang dibawa bisa jauh lebih besar dari sekadar tambahan fitur cerdas. Di pasar smartphone yang sudah matang, kehadiran ponsel berbasis agen AI berpotensi menjadi pembeda baru karena menawarkan cara pakai yang lebih langsung dan lebih kontekstual.
Sejumlah informasi menyebut OpenAI tidak bergerak sendirian dalam proyek ini. Kuo mengatakan perusahaan itu bekerja sama dengan Qualcomm dan MediaTek untuk menyiapkan prosesor khusus, sementara Luxshare disebut menangani desain sistem sebagai mitra manufaktur.
Keterlibatan tiga nama besar tersebut menunjukkan proyek ini sudah dirancang dari sisi perangkat keras, sistem, dan produksi. Langkah itu penting karena pengalaman AI yang diincar tidak cukup hanya dibangun lewat perangkat lunak, tetapi juga perlu fondasi chip dan integrasi sistem yang rapat.
Cara pakai ponsel yang berbeda
Bocoran yang beredar menyebut ponsel ini akan memakai kerangka interaksi yang berbeda dari smartphone pada umumnya. Alih-alih menempatkan aplikasi sebagai pusat pengalaman, sistemnya disebut akan mengandalkan agent, icon, task, grid, dan stream.
Model ini diarahkan agar pengguna tidak harus terus berpindah aplikasi, menu, dan pengaturan untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Ponsel diharapkan mampu memahami tujuan pengguna lalu mengeksekusi tugas dengan alur yang lebih singkat.
Pendekatan seperti itu menempatkan AI bukan sebagai fitur tambahan, tetapi sebagai lapisan utama yang mengatur pengalaman memakai perangkat. Dengan cara ini, ponsel tidak hanya menunggu perintah manual, melainkan aktif membantu berdasarkan konteks.
Gagasan tersebut juga sejalan dengan pandangan bahwa ponsel masih akan menjadi kategori perangkat besar di masa depan. Tantangan utamanya bukan lagi sekadar menaikkan spesifikasi, melainkan membuat perangkat lebih peka terhadap kebutuhan pengguna dan lebih efisien dalam membantu aktivitas harian.
Mengapa ponsel jadi sasaran utama
Dalam pengembangan AI personal, ponsel dianggap sebagai perangkat yang paling dekat dengan manusia sepanjang hari. Posisi itu membuatnya ideal untuk menangkap konteks pengguna secara terus-menerus.
Ponsel juga menyimpan banyak data penting, mulai dari pola baterai hingga kebiasaan menjalankan tugas sehari-hari. Dari fondasi seperti itu, sistem AI bisa mempelajari rutinitas pengguna dan menyesuaikan bantuan secara berkelanjutan.
Arah ini menunjukkan ambisi yang lebih luas daripada sekadar menambahkan fitur AI ke smartphone yang sudah ada. OpenAI tampaknya ingin membangun pengalaman yang membuat ponsel benar-benar memahami kebutuhan pengguna, bukan hanya menunggu perintah buka aplikasi lalu pilih fitur.
Pendekatan tersebut juga menjawab keluhan umum soal terlalu banyak langkah untuk tugas sederhana. Jika konsep AI-agentic berjalan sesuai rencana, ponsel dapat berperan sebagai perantara kerja digital yang memahami konteks, prioritas, dan pola pemakaian.
Jadwal peluncuran ikut maju
Selain konsep produknya, jadwal peluncuran juga menjadi sorotan. Sebelumnya, kemunculan perangkat ini dikaitkan dengan 2028, tetapi Ming-Chi Kuo menyebut peluncurannya kini bisa terjadi pada paruh pertama 2027.
Perubahan target waktu itu memberi kesan bahwa pengembangan internal dan kerja sama industrinya sudah bergerak lebih jauh dari perkiraan awal. Meski begitu, informasi yang beredar masih berada pada tahap awal, sehingga detail finalnya tetap bisa berubah.
Percepatan ini juga dinilai memberi keuntungan momentum bagi OpenAI. Perusahaan itu disebut diperkirakan menjalani IPO pada akhir tahun, sehingga penguatan narasi produk konsumen bisa menjadi faktor penting.
Pada akhirnya, daya tarik terbesar proyek ini tetap ada pada janji pengalaman penggunaan yang berbeda. Jika ponsel OpenAI benar-benar hadir dengan prosesor khusus, desain sistem bersama mitra manufaktur, dan antarmuka berbasis agen AI, pasar smartphone bisa melihat kategori baru yang tidak hanya menambah fitur pintar, tetapi mengubah cara perangkat dipakai sehari-hari.
