Baterai HP Sulit Dilepas karena 3 Hal, Tapi Eropa Bersiap Membalikkan Standar

Author: Qoo Media

Baterai yang tertanam rapat di dalam bodi kini menjadi standar pada hampir semua smartphone modern. Desain ini membuat ponsel lebih sulit diperbaiki sendiri, tetapi memberi produsen keleluasaan menghadirkan bodi tipis, material premium, dan perlindungan terhadap air.

Namun arah tersebut berpotensi berubah di Eropa. Uni Eropa telah mengesahkan aturan yang mendorong perangkat portabel dirancang agar baterainya dapat dilepas dan diganti oleh pemiliknya, dengan penerapan yang disebut akan dimulai pada 2027.

1. Baterai lepasan membuat biaya dan desain lebih rumit

Pada ponsel lama, pengguna cukup membuka penutup belakang untuk mengeluarkan baterai. Baterai cadangan pun dapat dibawa saat bepergian, lalu dipasang ketika daya ponsel habis atau baterai lama mulai menurun performanya.

Skema itu menuntut penutup belakang yang mudah dibuka, konektor yang tahan dipasang-lepas berulang kali, serta ruang untuk mekanisme pengunci. Seluruh komponen tersebut menambah biaya produksi dan membatasi ruang di dalam perangkat.

Ketika baterai disegel di dalam bodi, produsen dapat menggunakan konstruksi yang lebih kokoh. Ruang internal juga lebih mudah diatur untuk kebutuhan komponen lain, termasuk kamera beresolusi tinggi dan pengisian daya nirkabel.

Permintaan konsumen terhadap ponsel tipis dengan bodi aluminium atau kaca ikut mempercepat peralihan ini. Produsen perlu menjaga harga tetap kompetitif, sementara desain baterai lepasan dinilai lebih mahal untuk dipertahankan.

2. Bodi tertutup membantu ponsel tahan air

Keuntungan yang paling terlihat dari baterai tertanam adalah kemampuan membatasi jalur masuknya air. Tanpa penutup baterai yang bisa dibuka, bodi ponsel dapat dibuat lebih rapat dalam desain unibody.

Rancangan satu kesatuan itu mendukung hadirnya rating tahan air pada banyak smartphone modern. Kemampuan tersebut jauh lebih sulit diwujudkan apabila ponsel masih memakai penutup belakang dan akses baterai yang dapat dibuka setiap saat.

Perubahan ini membuat banyak ponsel kelas atas tetap dapat berfungsi setelah terkena hujan lebat atau terjatuh ke air. Pada era baterai lepasan, paparan air pada ponsel umumnya jauh lebih berisiko merusak komponen di dalamnya.

3. Baterai tertanam menyulitkan pencuri mematikan ponsel

Desain baterai permanen juga berkaitan dengan keamanan perangkat. Layanan pelacakan seperti Find My iPhone dari Apple dan Find My Device dari Google dapat membantu mencari ponsel selama perangkat masih memiliki daya.

Pada ponsel dengan baterai lepasan, pencuri dapat membuka penutup belakang lalu mencabut baterai untuk mematikan perangkat. Tindakan itu membuat pemilik kehilangan peluang untuk melacak lokasi ponsel yang dicuri.

Dengan baterai tertanam, mematikan ponsel secara paksa tidak lagi semudah mencabut satu komponen. Pelaku harus merusak perangkat, yang berpotensi menurunkan nilai jual kembali ponsel tersebut.

Karena itu, baterai yang sulit dilepas bukan semata-mata pilihan desain. Sistem ini juga membantu fitur pelacakan tetap bekerja lebih lama saat ponsel berada di tangan pihak yang tidak berwenang.

Aturan Eropa menyoroti masalah limbah elektronik

Di balik keunggulannya, baterai tertanam membuat pengguna lebih bergantung pada layanan perbaikan ketika kapasitas daya mulai menurun. Ponsel berisiko diganti lebih cepat, padahal komponen lain masih berfungsi dengan baik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jutaan ponsel dapat dibuang hanya akibat baterai yang tidak lagi awet. Aturan baru Uni Eropa berupaya memperpanjang usia pakai perangkat dengan mempermudah penggantian baterai.

Ketentuan Isi Aturan atau Pengecualian
Penerapan Disebut mulai berlaku pada 2027 di Eropa.
Penggantian baterai Pemilik perangkat harus dapat melepas dan mengganti baterai tanpa bantuan khusus, dengan alat yang tersedia secara komersial.
Ketersediaan suku cadang Baterai pengganti harus tersedia setidaknya lima tahun setelah produksi suatu model dihentikan.
Pengecualian Produsen dapat memenuhi syarat tertentu bila baterai masih menyimpan sedikitnya 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian penuh.

Menurut tekno.kompas.com, cakupan aturan itu tidak hanya berpotensi menyentuh ponsel. Tablet, jam pintar, dan headphone nirkabel juga dapat masuk kategori perangkat portabel yang terdampak.

Apple disebut memiliki peluang memanfaatkan pengecualian tersebut. Perusahaan itu mengeklaim baterai iPhone 14 dan model yang lebih baru mampu mempertahankan sedikitnya 80 persen kapasitas maksimal setelah 1.000 siklus pengisian penuh.

Meski begitu, pengecualian itu tidak berlaku otomatis karena Apple tetap perlu meyakinkan regulator melalui data yang memadai. Bila tidak memenuhi ketentuan, desain iPhone untuk pasar Eropa setelah aturan berlaku dapat berbeda dari perangkat yang dijual di wilayah lain.

Efek aturan tersebut juga berpotensi meluas di luar Eropa karena produsen umumnya menjalankan produksi dalam skala besar. Ponsel dengan baterai yang lebih mudah diganti dapat ikut beredar di pasar lain, termasuk Indonesia.

Source: tekno.kompas.com
Terbaru