Infinix Hot 60 Pro+ masih layak dilirik bagi pembeli yang mencari ponsel Rp 2 jutaan dengan nilai lebih pada desain dan fitur modern. Perangkat ini tidak hanya mengandalkan spesifikasi dasar, tetapi juga membawa bodi sangat tipis, layar AMOLED, fitur AI, dan baterai besar dalam satu paket.
Di segmen harga yang padat persaingan, daya tarik utama ponsel ini ada pada kombinasi gaya dan kenyamanan pakai harian. Bagi pengguna yang lebih mementingkan pengalaman visual, bobot ringan, dan fitur praktis ketimbang performa gaming berat, Infinix Hot 60 Pro+ masih tergolong kompetitif.
Desain tipis jadi pembeda utama
Salah satu nilai jual paling menonjol ada pada desain bodinya yang hanya setebal 5,95 mm dengan bobot 155 gram. Angka ini membuat Infinix Hot 60 Pro+ terasa lebih ringan dan lebih ramping dibanding banyak ponsel lain di kelas harga serupa.
Material bodinya juga memberi kesan lebih premium. Mengacu pada artikel referensi, Infinix memakai aluminium dengan klaim setara standar aerospace, sehingga perangkat tidak terasa murahan meski bermain di segmen menengah bawah.
Pilihan warna seperti Titanium Silver ikut memperkuat kesan modern. Finishing bodinya juga disebut tidak mudah meninggalkan sidik jari, sebuah detail kecil yang penting untuk pengguna yang ingin ponselnya tetap terlihat bersih saat dipakai tanpa casing tebal.
Layar AMOLED 144Hz, tetapi ada catatan
Di bagian depan, Infinix Hot 60 Pro+ mengusung layar AMOLED 6,78 inci. Panel ini menjadi daya tarik penting karena menawarkan resolusi tinggi dan refresh rate sampai 144Hz, sesuatu yang cukup jarang ditemukan secara agresif di kelas Rp 2 jutaan.
Namun, ada batasan dalam implementasinya. Berdasarkan data referensi, refresh rate 144Hz hanya aktif pada aplikasi tertentu seperti Settings dan Phone, sehingga pengalaman 144Hz tidak terasa merata di seluruh sistem maupun semua aplikasi.
Meski begitu, pengaturan refresh rate per aplikasi memberi fleksibilitas tambahan. Fitur ini berguna untuk pengguna yang ingin menyeimbangkan kelancaran animasi, konsumsi daya, dan kebutuhan spesifik seperti bermain game atau scrolling media sosial.
Kekurangan lain yang perlu dicatat adalah belum adanya dukungan HDR. Untuk penikmat konten video, absennya HDR berarti kualitas tampilan pada layanan streaming tertentu belum bisa dimaksimalkan seperti di ponsel yang sudah mendukung standar tersebut.
Software modern dengan dukungan update panjang
Infinix Hot 60 Pro+ menjalankan XOS 15 berbasis Android 15. Dari sisi usia pakai, ini menjadi kabar positif karena ponsel ini disebut mendapat dukungan tiga kali pembaruan sistem operasi dan lima tahun security patch.
Komitmen pembaruan ini cukup penting untuk kelas harga terjangkau. Dukungan software yang panjang dapat membantu perangkat tetap aman, relevan, dan tidak cepat tertinggal, terutama bagi pengguna yang ingin memakai ponsel lebih dari dua hingga tiga tahun.
Meski demikian, sisi software belum sepenuhnya tanpa catatan. Artikel referensi menyebut masih ada bloatware dan multitasking yang kadang terasa kurang mulus, sehingga pengalaman antarmuka belum bisa disebut sempurna.
Fitur AI jadi nilai tambah di kelasnya
Salah satu aspek yang membuat ponsel ini menonjol adalah kelengkapan fitur AI. Infinix menyertakan integrasi Gemini, Circle to Search, dan Folax yang disebut sebagai asisten berbasis DeepSeek.
Fitur AI itu tidak sekadar jadi pemanis promosi. Pengguna juga mendapat fungsi yang lebih praktis seperti menerjemahkan, merangkum, dan mengolah teks dalam Bahasa Indonesia, yang relevan untuk kebutuhan belajar, bekerja, dan komunikasi sehari-hari.
Ada pula fitur kreatif seperti Sketch to Image dan editing foto berbasis AI. Kehadiran fitur-fitur ini memberi kesan bahwa Infinix mencoba membawa pengalaman yang biasanya identik dengan ponsel lebih mahal ke segmen yang lebih terjangkau.
Performa cukup untuk penggunaan harian
Untuk dapur pacu, Infinix Hot 60 Pro+ memakai MediaTek Helio G200. Secara posisi, chipset ini masih berada di level yang tidak jauh dari Helio G99, sehingga ekspektasi performanya perlu dijaga tetap realistis.
Dalam artikel referensi, skor AnTuTu ponsel ini ada di kisaran 500 ribuan poin. Hasil itu tergolong cukup standar untuk kelasnya dan lebih cocok untuk aktivitas harian seperti chatting, media sosial, streaming, browsing, serta game kasual.
Perangkat ini bukan pilihan paling ideal bagi pengguna yang mengejar gaming berat dengan setting tinggi secara stabil. Namun untuk mayoritas pengguna umum, performanya masih memadai selama kebutuhan tidak terlalu ekstrem.
Menariknya, manajemen suhu justru menjadi salah satu kelebihan. Dalam pengujian berat, suhu disebut tetap stabil di kisaran 36 sampai 39 derajat Celsius, sebuah hasil yang patut diperhatikan mengingat bodinya sangat tipis.
Baterai besar dan pengisian cepat
Urusan daya, Infinix Hot 60 Pro+ dibekali baterai 5.160 mAh. Kapasitas ini tergolong besar dan memberi fondasi yang baik untuk pemakaian seharian, termasuk bagi pengguna aktif yang sering online, menonton video, dan berpindah aplikasi.
Berdasarkan pengujian pada artikel referensi, daya tahan ponsel ini bisa tembus lebih dari 13 jam. Hasil itu menempatkannya sebagai perangkat yang aman untuk dipakai dari pagi hingga malam tanpa rasa cemas berlebihan soal baterai.
Pengisian dayanya mendukung 45W. Waktu isi penuh disebut berada di kisaran 65 hingga 70 menit, sementara fitur bypass charging juga tersedia untuk membantu menjaga suhu saat bermain game sambil mengisi daya.
Kamera utama lebih penting daripada jumlah modul
Dari sisi kamera, Infinix Hot 60 Pro+ memang terlihat seperti punya tiga modul belakang. Namun artikel referensi menegaskan bahwa yang benar-benar berfungsi utama adalah kamera 50 MP dengan sensor Sony IMX822.
Pendekatan ini justru lebih masuk akal daripada sekadar menambah sensor pelengkap yang minim manfaat. Kamera utamanya mampu menghasilkan foto dengan warna yang punchy tetapi tetap natural, serta detail dan dynamic range yang cukup baik pada cahaya ideal.
Saat kondisi mulai gelap, hasilnya masih bisa diandalkan untuk kelas harganya. Hanya saja, ketiadaan OIS membuat potensi blur lebih besar jika tangan tidak stabil, terutama ketika memotret malam hari atau di pencahayaan redup.
Kemampuan zoom juga masih terbatas karena mengandalkan digital zoom. Saat diperbesar, detail gambar cepat turun, sehingga kamera ini lebih cocok dipakai pada panjang fokus normal untuk hasil yang tetap aman.
Kamera depan 13 MP dinilai cukup memadai untuk selfie dan video call. Hasil fotonya terlihat natural dengan dynamic range yang lumayan, meski noise mulai muncul saat cahaya sekitar menurun.
Poin yang paling menonjol di kelas Rp 2 jutaan
Jika diringkas, ada beberapa alasan yang membuat Infinix Hot 60 Pro+ masih menarik di kelasnya:
- Desain sangat tipis 5,95 mm dan ringan 155 gram.
- Material bodi memberi kesan lebih premium.
- Layar AMOLED 6,78 inci dengan refresh rate hingga 144Hz.
- Dukungan update 3 kali OS dan 5 tahun security patch.
- Fitur AI cukup lengkap untuk kelas Rp 2 jutaan.
- Baterai 5.160 mAh dengan fast charging 45W.
- Kamera utama 50 MP dengan sensor Sony IMX822.
Di sisi lain, ada beberapa kompromi yang tetap perlu diperhatikan. Performa chipset masih tergolong standar, 144Hz belum aktif luas di semua aplikasi, software masih memiliki bloatware, dan kamera malam tanpa OIS membutuhkan tangan yang lebih stabil.
Bagi pembeli yang memprioritaskan ponsel tipis, ringan, modern, dan punya fitur kekinian yang terasa berguna, Infinix Hot 60 Pro+ masih punya posisi kuat di rak ponsel Rp 2 jutaan. Kombinasi desain premium, layar AMOLED, fitur AI, baterai awet, dan kamera utama yang cukup solid membuat perangkat ini tetap relevan di tengah persaingan yang semakin rapat.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: inet.detik.com






