Di balik valuasi Nvidia yang kini disebut mencapai sekitar USD 5 triliun, ada keputusan Sega pada 1990-an yang menjadi penopang penting bagi kelangsungan perusahaan chip tersebut. Saat Nvidia kehabisan modal, Sega tetap menyalurkan USD 5 juta meski proyek GPU untuk Dreamcast telah dibatalkan.
Dana itu bukan sekadar pembayaran kontrak yang gagal, melainkan diubah menjadi investasi saham Nvidia. Keputusan mantan Presiden Sega Shoichiro Irimajiri tersebut kemudian menjadi salah satu kisah paling menentukan dalam perjalanan Nvidia di industri grafis dan game.
Hubungan Sega dan Nvidia kini kembali mengemuka setelah keduanya mengumumkan kolaborasi baru. Nvidia menyebut game Sega akan hadir pada laptop dan desktop yang memakai chip Arm RTX Spark.
Judul pertama yang diumumkan adalah Virtua Fighter Crossroads, seri baru dari waralaba game pertarungan Sega. Kolaborasi itu melanjutkan relasi kedua perusahaan yang telah berlangsung sekitar 30 tahun, sejak Nvidia terlibat membawa Virtua Fighter ke PC melalui kartu multimedia NV1.
Dari Proyek Dreamcast yang Gagal
Pada era 1990-an, Sega sempat menunjuk Nvidia untuk mengembangkan GPU khusus bagi konsol Dreamcast. Namun, Sega akhirnya membatalkan pesanan tersebut dan memilih GPU PowerVR buatan NEC karena teknologi Nvidia dinilai tidak mampu bersaing.
Pembatalan itu berpotensi menjadi pukulan besar bagi Nvidia yang saat itu berada dalam kondisi keuangan sulit. Irimajiri memilih tidak meninggalkan Nvidia setelah proyek tersebut berhenti dan tetap menyalurkan nilai kontrak senilai USD 5 juta.
Nilai tersebut kemudian direstrukturisasi sebagai kepemilikan saham, bukan pembayaran biasa atas proyek GPU Dreamcast. Jensen Huang mengenang dukungan itu sebagai faktor yang membuat Nvidia mampu bertahan ketika perusahaan benar-benar kehabisan modal.
| Tahap | Peristiwa | Nilai yang Disebut |
|---|---|---|
| 1990-an | Proyek GPU Dreamcast dibatalkan, dana kontrak dialihkan menjadi investasi saham Nvidia | USD 5 juta |
| 1999 | Sega mencairkan saham Nvidia saat perusahaan melakukan IPO | USD 15 juta |
| Saat ini | Kapitalisasi pasar Nvidia disebut telah melonjak | Sekitar USD 5 triliun |
Dana segar dari Sega dipakai Nvidia untuk melanjutkan pengembangan GPU gaming Riva 128 dan GeForce 256. Kedua produk tersebut kemudian sukses di pasar dan menjadi bagian penting dari fondasi bisnis grafis Nvidia.
Sega pada akhirnya menjual kepemilikan sahamnya ketika Nvidia melantai di bursa pada 1999. Nilai penjualan USD 15 juta berarti Sega memperoleh sekitar tiga kali lipat dari investasi awal sebesar USD 5 juta.
Keuntungan yang Terlihat Kecil dari Perspektif Hari Ini
Penjualan saham itu merupakan keputusan bisnis yang menguntungkan pada masanya. Namun, lonjakan nilai Nvidia dalam beberapa dekade berikutnya membuat investasi Sega tersebut kini sering dipandang sebagai peluang besar yang telah dilepas.
Menurut laporan inet.detik.com yang mengutip Techspot, kepemilikan Sega dapat bernilai ratusan miliar dolar AS apabila saham itu dipertahankan hingga saat ini. Perhitungan tersebut bersifat gambaran berdasarkan lonjakan kapitalisasi pasar Nvidia, bukan nilai yang benar-benar masih dimiliki Sega.
Huang kembali menceritakan periode tersebut dalam acara di Tokyo yang menandai 30 tahun kemitraan Sega dan Nvidia. Irimajiri hadir dalam acara itu bersama CEO Sega Haruki Satomi, COO Shuji Utsumi, serta desainer game Yu Suzuki.
Kolaborasi baru kedua perusahaan tidak dibatasi pada satu game. Nvidia menyatakan game Sega berikutnya juga akan mendukung teknologi rendering dan upscaling, termasuk ray tracing serta DLSS.
Nvidia turut memberi sinyal integrasi perangkat AI secara penuh dalam ekosistem tersebut. Teknologi neural rendering berbasis AI seperti Reflex dan G-Assist disebut menjadi bagian dari kemampuan yang akan didukung.
Belum ada daftar lengkap game Sega yang dipastikan hadir untuk RTX Spark. Sejumlah judul seperti Alien: Isolation 2, Total War: Warhammer 40.000, seri Yakuza, dan Persona masih berada pada tahap spekulasi yang beredar di dunia maya.
Bagi Sega dan Nvidia, kerja sama ini mempertemukan kembali dua perusahaan yang pernah terikat oleh proyek konsol gagal tetapi menghasilkan investasi bersejarah. Tiga dekade kemudian, kemitraan itu berlanjut melalui game dan teknologi AI yang menjadi fokus baru Nvidia.
