Samsung tampaknya serius menutup salah satu titik lemah Exynos di Galaxy S26, dan fokus utamanya ada pada manajemen panas. Bukan hanya Heat Path Block atau HPB yang ikut diperkuat, tetapi juga rancangan Tailored 3D Thermal Interface Material yang disebut membuat pelepasan panas lebih efisien.
Langkah ini penting karena kestabilan performa ponsel kelas atas sangat bergantung pada suhu kerja yang terkendali. Di ruang internal yang sempit seperti smartphone, penurunan suhu sekitar 1 derajat saja sudah dianggap berarti untuk menjaga kinerja chip tetap berkelanjutan.
Lapisan kecil yang punya pengaruh besar
Thermal Interface Material, atau TIM, memegang peran penting dalam sistem pendingin smartphone. Material ini ditempatkan di antara prosesor dan heat sink seperti vapor chamber untuk mengisi celah udara yang muncul secara alami di antara dua permukaan.
Samsung sebelumnya sudah memakai pendekatan khusus bernama Tailored 3D TIM. Solusi ini juga digunakan pada seri Galaxy S25 untuk meningkatkan efisiensi termal dibanding pendekatan lama.
Pada generasi terbaru, Samsung tidak berhenti di situ. Exynos 2600 disebut hadir dengan HPB berbasis tembaga, dan Samsung juga menyempurnakan desain Tailored 3D TIM untuk Galaxy S26 yang memakai chip tersebut.
HPB ditempatkan di atas die AP atau chip utama. Komponen ini sudah membantu manajemen panas, tetapi Samsung tampaknya melengkapinya dengan penyempurnaan pada TIM agar jalur pembuangan panas bekerja lebih maksimal.
Kombinasi HPB dan 3D TIM
Menurut pejabat Samsung, kombinasi struktur 3D TIM dan HPB meningkatkan kemampuan pembuangan panas secara signifikan dibanding generasi sebelumnya. Samsung menjelaskan bahwa 3D TIM membantu menyebarkan panas lebih luas dan melepaskannya secara merata ke bagian depan dan belakang perangkat.
Pendekatan itu tidak hanya ditujukan untuk menurunkan suhu kerja chip. Sistem pendinginan tersebut juga dirancang untuk melindungi komponen internal sekaligus menjaga keberlanjutan performa AP saat dipakai dalam beban berat.
Secara teknis, TIM menjadi sangat penting karena panas sulit berpindah secara optimal bila ada celah udara di antara prosesor dan sistem pelepas panas. Dengan material antarmuka yang lebih baik, transfer panas menjadi lebih stabil dan efisien.
Dalam smartphone modern, ruang yang tersedia sangat terbatas sehingga desain pendinginan harus presisi. Karena itu, perubahan pada lapisan tipis seperti TIM bisa berdampak nyata meski terlihat sederhana di atas kertas.
Hasil pengujian internal Samsung
Samsung menyebut hasil pengujian internal memperlihatkan perbaikan yang terukur. Suhu chip AP turun sekitar 1,18 derajat Celsius dibanding penggunaan 2D TIM lama.
Bagian belakang perangkat juga menjadi lebih dingin sekitar 0,73 derajat Celsius. Angka ini memang tidak besar secara absolut, tetapi tetap penting untuk perangkat tipis dengan kepadatan komponen yang tinggi.
Penurunan suhu pada chip dapat membantu menekan risiko throttling saat beban kerja tinggi. Di saat yang sama, suhu permukaan belakang yang lebih rendah juga bisa meningkatkan kenyamanan saat perangkat digunakan dalam waktu lama.
Samsung membandingkan hasil ini dengan generasi TIM 2D sebelumnya. Artinya, peningkatan yang dibawa bukan hanya berasal dari chip baru, tetapi juga dari perubahan pada rancangan jalur pembuangan panas.
Dampak pada Galaxy S26 yang lebih ringkas
Salah satu temuan yang paling menarik adalah suhu permukaan maksimum Galaxy S26 model dasar dan Galaxy S26 Ultra dilaporkan berada pada level yang sebanding saat keduanya sama-sama memakai Exynos 2600. Temuan ini memberi sinyal bahwa model yang lebih ringkas tetap bisa menjaga performa termal dengan baik.
Hal itu penting karena model dasar biasanya punya ruang internal lebih kecil. Ukuran vapor chamber yang lebih kecil juga biasanya menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga suhu tetap terkendali.
Jika hasil tersebut tercermin pada produk akhir, Galaxy S26 standar bisa tampil lebih kompetitif dari sisi manajemen panas. Samsung tampaknya berupaya agar model compact tidak tertinggal jauh dari varian Ultra dalam urusan kestabilan suhu.
Strategi pendinginan Samsung juga terlihat tidak bertumpu pada satu komponen besar saja. Perusahaan menggabungkan beberapa lapisan solusi, mulai dari blok penghantar panas berbasis tembaga hingga material antarmuka termal yang dirancang ulang.
Bagi lini Galaxy S26 berbasis Exynos, perubahan ini bisa menjadi pembeda yang sangat penting. Alih-alih hanya mengejar tenaga mentah, Samsung kini menempatkan efisiensi pelepasan panas sebagai bagian utama dari paket performa.
Source: sammyguru.com






