Samsung kembali mengubah peta persaingan ponsel kelas menengah lewat Galaxy A37 dan Galaxy A57. Dua model ini datang dengan harga lebih tinggi, masing-masing $450 dan $550, sehingga diskusi soal material plastik di segmen menengah kembali menguat.
Kenaikan itu bukan sekadar soal angka di etalase. Samsung juga menambahkan sejumlah fitur baru, tetapi selisih harga yang makin dekat ke lini yang lebih premium membuat konsumen semakin kritis menilai apakah bodi plastik masih pantas dipertahankan di kelas harga seperti ini.
Harga Naik, Ekspektasi Ikut Berubah
Galaxy A37 dan Galaxy A57 sama-sama diposisikan sebagai penerus Galaxy A36 dan A56, dengan kenaikan harga $50 dari generasi sebelumnya. Langkah ini menunjukkan bahwa Samsung tidak hanya menaikkan banderol, tetapi juga mencoba menyesuaikannya dengan pembaruan fitur dan spesifikasi.
Di pasar menengah, kenaikan seperti ini sering memicu reaksi cepat. Pembeli yang awalnya mencari ponsel “aman” dengan harga terjangkau kini harus mempertimbangkan pilihan yang makin dekat ke kelas lebih tinggi, terutama saat opsi penyimpanan dasar tetap dimulai dari 128GB.
Galaxy A37: Plastik, Tapi Tidak Sederhana Saja
Galaxy A37 hadir sebagai model yang lebih murah, namun Samsung tetap membekalinya dengan layar 6,7 inci, refresh rate 120Hz, dan pengisian kabel 45 watt. Baterai 5.000 mAh yang dipakai juga masih menjadi salah satu nilai jual utama di kelas ini.
Ponsel ini menggunakan chipset Exynos 1480 dan mempertahankan bodi plastik. Samsung menawarkan pilihan warna charcoal, gray-green, white, dan lavender, sementara varian 256GB dibanderol $540.
Meski memakai material yang lebih sederhana, A37 tetap mendapat fitur Galaxy AI yang terbatas. Daftarnya mencakup object eraser untuk menghapus objek di foto, terjemahan bahasa, dan Bixby yang sudah ditingkatkan.
Galaxy A57 Beralih ke Metal
Berbeda dari saudaranya, Galaxy A57 tampil lebih meyakinkan dari sisi material karena sudah memakai bodi metal. Perubahan ini langsung memberi kesan yang lebih premium, apalagi saat bobotnya turun menjadi 179 gram dari 198 gram pada A56.
Samsung hanya menyediakan warna navy untuk A57. Namun, kombinasi layar 6,7 inci, desain yang lebih ringan, dan material metal membuat model ini tampak lebih dekat ke pengalaman ponsel kelas atas.
Di bagian dapur pacu, A57 ditenagai Exynos 1680 dan membawa kemampuan olah foto yang lebih lengkap. Fitur AI fotografinya mencakup Best Face, yang bisa membantu memperbaiki foto grup saat ada orang yang berkedip.
Perbandingan Utama Galaxy A37 dan A57
- Galaxy A37: $450, bodi plastik, layar 6,7 inci, Exynos 1480, baterai 5.000 mAh
- Galaxy A57: $550, bodi metal, layar 6,7 inci, Exynos 1680, bobot 179 gram
- Keduanya: refresh rate 120Hz, IP68, penyimpanan awal 128GB
- Keduanya: kamera depan 12 megapiksel
- Keduanya: mulai dijual pada 9 April
Tabel singkat ini menunjukkan bahwa Samsung mencoba membedakan dua model lewat material, performa, dan fitur AI. Namun, jarak harga yang tidak lagi terlalu jauh dari lini yang lebih premium membuat strategi itu ikut diuji pasar.
Material Plastik Semakin Sulit Dibela
Perdebatan soal plastik kembali muncul karena harga Galaxy A37 dan A57 sudah semakin tinggi. Dalam praktiknya, material plastik memang membantu menekan biaya produksi, tetapi konsumen kini menuntut lebih banyak ketika harga mendekati kelas premium.
Samsung menambahkan IP68 water resistance pada kedua perangkat untuk memperkuat nilai jual. Perusahaan juga memperluas fitur Circle to Search, termasuk pembaruan seperti Find the Look untuk membantu identifikasi outfit.
Walau begitu, perangkat dengan bodi plastik kini harus membawa pembenaran yang lebih kuat daripada sekadar tahan lama atau ringan. Ketika sebuah ponsel dijual di atas $400, banyak pembeli mulai melihat material sebagai bagian dari pengalaman, bukan hanya sebagai pembungkus komponen internal.
Harga Makin Dekat ke Kelas Atas
Varian 256GB Galaxy A57 dipatok $610, dan selisihnya dengan Galaxy S25 FE yang dijual $650 menjadi sangat tipis. Kondisi ini membuat calon pembeli bisa langsung membandingkan fitur yang ditawarkan masing-masing perangkat.
S25 FE membawa seluruh fitur Galaxy AI dan kamera telefoto, dua hal yang memberi alasan kuat bagi sebagian konsumen untuk naik kelas. Di titik ini, Galaxy A57 harus bersaing bukan hanya dengan ponsel sesama lini menengah, tetapi juga dengan produk yang sebelumnya dianggap berada satu tingkat di atasnya.
Perwakilan Samsung menyebut perubahan biaya ini berkaitan dengan kondisi pasar saat menjelaskan soal kelangkaan RAM yang masih berlangsung. Penjelasan itu memperlihatkan bahwa kenaikan harga tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi tekanan pasokan dan dinamika industri komponen.
Daya Tarik Galaxy A Masih Diuji
Samsung tetap punya modal kuat di seri Galaxy A lewat kombinasi layar besar, refresh rate tinggi, baterai 5.000 mAh, dan fitur tahan air IP68. Namun, saat harga naik dan material berbeda mulai jadi sorotan, nilai tiap model harus dijelaskan lebih meyakinkan kepada konsumen.
Galaxy A37 masih mengandalkan plastik sebagai solusi efisiensi, sedangkan A57 mencoba menutup jarak dengan bodi metal dan fitur yang lebih lengkap. Dengan penjualan yang dimulai pada 9 April, pasar akan segera menunjukkan apakah strategi ini cukup kuat untuk menjaga daya tarik seri Galaxy A di tengah ekspektasi yang terus naik.
