MacBook Neo Rp 10 Jutaan, Rasanya Jauh Dari Laptop Murah

Apple akhirnya menghadirkan MacBook yang selama ini paling banyak diminta: model yang lebih terjangkau tanpa kehilangan rasa premium. MacBook Neo masuk ke pasar sebagai MacBook termurah dalam beberapa tahun terakhir, dengan harga mulai Rp 10,7 juta.

Di kelas harga itu, laptop ini langsung menarik perhatian karena tidak terasa seperti perangkat murah. Kombinasi bodi aluminium, layar 13 inci, chip Apple A18 Pro, dan daya tahan baterai panjang membuat posisinya berbeda dari banyak laptop Windows di rentang harga serupa.

Desain premium masih jadi senjata utama

MacBook Neo tetap membawa bodi unibody aluminium yang terasa kokoh sejak pertama diangkat dari kotak. Bobotnya 1,23 kg dengan ketebalan 1,27 cm, sehingga tetap nyaman dibawa ke kampus, kantor, atau perjalanan harian.

Apple juga memberi empat pilihan warna yang lebih berani, yakni Silver, Blush, Citrus, dan Indigo. Selain itu, chassis aluminium berbahan 90% material daur ulang terasa solid dan tidak menunjukkan gejala flex saat ditekan.

Engselnya juga terasa presisi dan bisa dibuka dengan satu tangan. Untuk urusan input, Magic Keyboard tetap nyaman dipakai mengetik panjang, sementara trackpad besar khas Apple masih jadi salah satu yang terbaik di kelasnya.

Ada beberapa kompromi di varian termurah. Keyboard backlit dan Touch ID belum tersedia, sementara port yang disediakan hanya dua USB-C dan satu jack audio 3,5 mm.

Layar dan audio terasa di atas rata-rata

MacBook Neo memakai layar Liquid Retina 13 inci dengan resolusi 2408 x 1506 piksel dan tingkat kecerahan hingga 500 nits. Panel ini menampilkan warna yang tajam dan akurat, serta nyaman dipakai dalam berbagai kondisi cahaya.

Dukungan color gamut P3 membuat foto dan video terlihat lebih hidup, termasuk saat dipakai untuk editing ringan. Desain bezel yang tipis dan simetris tanpa notch juga masih dipertahankan, sesuatu yang justru disukai sebagian pengguna.

Untuk hiburan, layar ini dinilai sangat memuaskan saat dipakai menonton Netflix, YouTube, atau Disney+. Di bagian atas layar, Apple menyematkan kamera FaceTime HD 1080p yang cukup baik untuk meeting online dan video call.

Kamera tersebut masih menghasilkan gambar yang terang dan tajam meski dipakai di ruangan dengan pencahayaan kurang ideal. Apple juga menambahkan fitur software seperti background blur, meski belum mendukung Center Stage.

Sektor audio ikut memberi kejutan positif. Speaker stereo dengan dukungan Spatial Audio dan Dolby Atmos menghasilkan suara yang lantang dan jernih.

Performa dan penyimpanan tidak terasa hemat-humasan

Di balik bodinya, MacBook Neo menggunakan chip Apple A18 Pro dengan RAM 8 GB dan SSD 256 GB. Dalam penggunaan harian, respons sistem terasa cepat, mulai dari membuka banyak tab Safari sampai menjalankan aplikasi produktivitas.

Pengujian benchmark menunjukkan hasil yang kuat untuk kelasnya. Di Geekbench 6.7.1, skor single-core mencapai 3.535, multi-core 8.838, dan OpenCL 19.399.

Pada Cinebench 2026, skor CPU single thread tercatat 528 poin, CPU multi thread 1.503 poin, dan MP Ratio 2,85x. Skor single-core yang tinggi membuat banyak aktivitas terasa mulus dan minim lag.

SSD bawaan juga cukup ngebut. Hasil Blackmagic Disk Speed Test mencatat read 1.590,2 MB/s dan write 1.606,7 MB/s, sehingga booting, membuka aplikasi, dan transfer file terasa instan.

Dalam pengujian nyata, MacBook Neo masih sanggup menangani editing video 4K dengan nyaman. Game Wuthering Waves juga berjalan lancar pada pengaturan default dengan frame rate stabil dan minim stuttering.

Catatan muncul di kapasitas penyimpanan. SSD 256 GB terasa sempit untuk gamer, terutama karena ukuran Wuthering Waves bisa cepat menghabiskan ruang yang tersedia.

Baterai jadi nilai jual yang paling mencolok

Apple membekali MacBook Neo dengan baterai 36,5 Wh. Saat dipakai memainkan Wuthering Waves selama 30 menit, kapasitas baterai turun sekitar 15 persen, angka yang tergolong normal untuk game grafis sedang di laptop fanless.

Untuk aktivitas harian seperti mengetik, browsing, meeting online, dan menonton video, konsumsi dayanya sangat irit. Dalam satu hari kerja penuh, baterai yang terpakai hanya sekitar 50 persen.

Dengan pola penggunaan normal, laptop ini bahkan bisa bertahan hingga dua hari tanpa perlu mencari colokan. Pengisian daya memakai adaptor 20W membutuhkan waktu sekitar 2 jam 10 menit dari 0 hingga 100%.

Di segmen laptop tipis Rp 10 jutaan, daya tahan baterai ini termasuk yang paling kuat. Bagi pengguna yang sering bekerja mobile, efisiensi dayanya menjadi salah satu alasan paling sulit diabaikan.

MacBook Neo pada akhirnya terasa seperti langkah cerdas Apple untuk memperluas ekosistem Mac ke lebih banyak pengguna. Di harga sekitar Rp 10 jutaan, perangkat ini menawarkan desain premium, layar berkualitas, kamera yang layak untuk meeting, performa cepat, dan baterai yang sangat impresif.

Source: inet.detik.com

Terkait