
Anjloknya angka kelahiran global kini bergerak jauh lebih cepat daripada yang selama ini diperkirakan. Di lebih dari dua pertiga dari 195 negara, rata-rata jumlah anak per perempuan sudah turun di bawah tingkat penggantian 2,1, sementara di 66 negara angkanya bahkan lebih dekat ke satu anak daripada dua.
Perubahan itu tidak lagi hanya terjadi di negara kaya. Sejumlah negara berkembang kini justru mencatat tingkat kesuburan yang lebih rendah daripada negara yang lebih makmur, sehingga krisis populasi berubah menjadi persoalan global yang menjangkau banyak wilayah sekaligus.
Dari ekonomi ke layar ponsel
Selama bertahun-tahun, biaya hidup dan harga hunian sering disebut sebagai penyebab utama anak muda menunda berkeluarga. Namun, penjelasan itu dinilai tidak cukup untuk menerangkan penurunan kelahiran yang terjadi serempak di banyak negara dalam waktu yang relatif berdekatan.
Lewat analisis data kependudukan hingga pencarian Google, para peneliti justru menyorot smartphone dan teknologi digital sebagai faktor yang patut diperhatikan. Riset Nathan Hudson dan Hernan Moscoso-Boedo di Universitas Cincinnati bahkan mengaitkan peluncuran jaringan seluler 4G dengan penurunan angka kelahiran di Amerika Serikat dan Inggris.
Hasil penelitian itu menunjukkan kelahiran turun paling awal dan paling cepat di wilayah yang lebih dulu mendapat akses internet cepat. Pola serupa juga tampak di berbagai negara saat smartphone mulai diadopsi massal oleh pasar lokal.
Titik balik di banyak negara
Di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, tren penurunan tajam disebut mulai terlihat sejak 2007. Perancis dan Polandia menyusul sekitar 2009, lalu Meksiko, Maroko, hingga Indonesia mengalami penurunan drastis pada kisaran 2012.
Pada 2023, angka kelahiran di Meksiko tercatat turun hingga berada di bawah level Amerika Serikat untuk pertama kalinya. Setelah itu, kondisi serupa ikut terlihat di Brasil, Tunisia, Iran, dan Sri Lanka.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan kesuburan tidak lagi terbatas pada negara dengan biaya hidup tinggi. Justru, banyak negara berpendapatan rendah dan menengah kini menghadapi tren penuaan penduduk sebelum sempat menjadi kaya.
Relasi sosial ikut berubah
Masalah utamanya juga tidak semata-mata karena pasangan memilih punya anak lebih sedikit. Menurut analisis itu, persoalan inti justru terletak pada makin sedikitnya orang yang berhasil menjalin hubungan asmara.
Gadget canggih mengubah cara anak muda menghabiskan waktu dan memangkas interaksi tatap muka secara tajam. Di Korea Selatan, durasi sosialisasi langsung di kalangan dewasa muda bahkan disebut terpangkas hingga separuh dalam 20 tahun terakhir.
Pakar demografi Lyman Stone menilai, semakin jarang seseorang bersosialisasi di dunia nyata, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menemukan pasangan hidup. Dalam situasi seperti itu, angka kelahiran ikut terdorong turun karena fondasi untuk membentuk keluarga makin rapuh.
Media sosial dan ekspektasi baru
Instagram dan TikTok juga ikut disebut menciptakan standar hubungan yang artifisial. Aplikasi itu dinilai menaikkan ekspektasi perempuan muda secara drastis, sementara banyak pria merasa tidak siap menghadapi tuntutan tersebut.
Menariknya, mayoritas laki-laki dan perempuan sebenarnya masih melaporkan keinginan untuk memiliki sekitar dua anak dalam hidup mereka. Artinya, hambatan terbesar bukan selalu soal niat, melainkan kesulitan membangun relasi di tengah gaya hidup digital yang makin dominan.
Dalam konteks itu, insentif finansial seperti program “bonus bayi” dinilai bisa kehilangan relevansi jika semakin banyak orang kesulitan mendapatkan pasangan. Tantangan besar ke depan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga cara menyatukan kembali generasi muda yang terisolasi dan mengubah kebiasaan digital yang membentuk kehidupan sosial mereka.
Source: tekno.kompas.com




