Infinix Naik Ke Rp10 Jutaan, Taruhan Paling Berisiko Di Pasar Smartphone Indonesia

Infinix sedang mencoba keluar dari citra lamanya sebagai merek ponsel murah di Indonesia. Langkah itu terlihat saat perusahaan mulai merilis perangkat di kisaran Rp5 jutaan hingga di atas Rp10 jutaan, jauh di atas rentang harga yang selama ini melekat pada lini produknya.

Pergeseran ini penting karena pasar smartphone Indonesia sangat sensitif terhadap persepsi merek. Saat sebuah brand yang identik dengan harga terjangkau masuk ke kelas menengah ke atas, tantangannya bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga kepercayaan konsumen terhadap kualitas, desain, dan layanan purnajual.

Langkah besar Transsion lewat Infinix

Infinix berada di bawah Transsion Group, perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal kuat di segmen menengah ke bawah. Selama ini, dua merek saudara mereka, Tecno dan Itel, juga tetap fokus pada pasar yang lebih sensitif terhadap harga.

Pengamat gadget dan teknologi Aryo Meidianto menilai langkah Infinix naik kelas sebagai sinyal kuat strategi baru Transsion. Ia menyebut, upaya masuk ke segmen menengah ke atas bukan perkara mudah karena karakter konsumennya berbeda dan ekspektasinya lebih tinggi.

“Segmen Transsion group sebelumnya untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah dan untuk masuk ke segmen menengah ke atas ini menjadi tantangan tersendiri bagi Infinix yang tentu saja tidak akan mudah,” kata Aryo kepada Selular pada 1 April 2026.

Pasar atas menawarkan margin yang lebih besar

Masuk ke kelas menengah ke atas punya daya tarik besar bagi produsen smartphone. Di segmen ini, margin keuntungan biasanya lebih sehat dibanding pasar entry-level, sehingga ruang untuk membangun citra premium juga terbuka lebih lebar.

Namun, keuntungan itu datang bersama risiko besar. Konsumen di kelas ini cenderung lebih kritis terhadap detail produk, mulai dari kualitas layar, kamera, performa chipset, material bodi, hingga pengalaman penggunaan harian.

Untuk itu, Infinix tidak cukup hanya mengandalkan reputasi sebagai brand yang agresif di harga. Perusahaan harus menunjukkan bahwa produknya benar-benar bisa bersaing dengan merek yang sudah lama mapan di kelas menengah dan premium, seperti Samsung, Oppo, Vivo, dan Xiaomi.

Modal awal dari posisi pasar yang kuat

Transsion memiliki pijakan yang cukup kuat di Indonesia. Mengacu pada data Omdia, grup ini menempati posisi kedua pasar smartphone Indonesia sepanjang 2025, tepat di bawah Xiaomi.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa merek-merek Transsion sudah punya basis distribusi dan pengenalan merek yang luas. Berikut gambaran peringkat yang disebut dalam laporan itu:

PeringkatMerek/Grup
1Xiaomi
2Transsion
3Samsung
4Oppo
5Vivo

Modal pasar ini penting bagi Infinix karena naik kelas membutuhkan lebih dari sekadar produk baru. Brand harus membawa kepercayaan yang sudah tertanam di segmen bawah ke lapisan konsumen yang lebih mahal dan lebih selektif.

Dari harga Rp1 jutaan ke perangkat di atas Rp10 jutaan

Selama bertahun-tahun, Infinix lekat dengan ponsel di rentang Rp1 jutaan hingga Rp4 jutaan. Citra itu terbentuk dari strategi penjualan yang menonjolkan spesifikasi besar dengan harga yang tetap terjangkau bagi konsumen luas.

Sekarang arah itu berubah lebih cepat. Salah satu contoh paling mencolok adalah Infinix Note 60 Pro yang dibanderol mulai Rp5.499.000. Infinix juga menyiapkan Note 60 Ultra untuk pasar Indonesia pada April 2026.

Perangkat tersebut menarik perhatian karena desainnya digarap oleh Pininfarina, perusahaan desain otomotif asal Italia yang dikenal lewat karya-karya mobil ikonik, termasuk Ferrari. Saat diperkenalkan di Mobile World Congress Barcelona, perangkat itu disebut memiliki banderol 760 dolar AS atau sekitar Rp12,8 juta.

Apa yang harus dibuktikan Infinix

Agar langkah ini tidak menjadi risiko yang berbalik arah, Infinix perlu menjawab beberapa hal penting di mata konsumen. Brand yang ingin naik kelas harus menunjukkan bahwa harga lebih tinggi memang sejalan dengan pengalaman yang lebih baik.

Berikut hal yang paling krusial untuk dibuktikan Infinix:

  1. Kualitas material dan finishing harus terasa premium.
  2. Performa chipset dan kamera harus kompetitif di kelas harga baru.
  3. Desain perlu punya identitas kuat agar mudah dibedakan dari pesaing.
  4. Layanan purnajual harus konsisten dan mudah diakses.
  5. Branding harus mampu mengubah persepsi publik dari “murah” menjadi “bernilai”.

Komunitas pengguna bisa jadi senjata utama

Product Marketing Manager Infinix Indonesia, Jordan, menyebut langkah ini memang menjadi tantangan bagi timnya. Ia tetap optimistis karena menilai Infinix sudah punya tempat di hati pengguna Indonesia dan memiliki komunitas yang besar.

“Ya ini tantangan bagi kami dan Infinix tetap optimis untuk bersaing di produk menengah ke atas,” ujar Jordan kepada Selular pada 6 Maret 2026.

Komunitas yang besar bisa membantu mempercepat adopsi produk baru, terutama jika Infinix mampu menghadirkan perangkat yang terasa berbeda dari lini sebelumnya. Dalam pasar yang sangat kompetitif, loyalitas awal sering menjadi pembeda sebelum konsumen menilai detail teknis.

Taruhan berisiko di tengah kompetisi ketat

Naik ke Rp10 jutaan berarti Infinix bermain di arena yang jauh lebih keras. Di kelas ini, keunggulan harga saja tidak cukup untuk memenangkan pasar, karena konsumen sudah membandingkan banyak aspek secara lebih serius.

Jika Infinix berhasil, langkah ini bisa memperluas posisi Transsion di Indonesia dan membuka ruang pertumbuhan baru di segmen yang lebih menguntungkan. Jika gagal, brand berisiko kembali dipersepsikan kuat hanya di kelas bawah, sementara pesaing merebut perhatian konsumen yang mencari ponsel premium dengan reputasi yang lebih matang.

Berita Terkait

Back to top button