Firma riset IDC melaporkan bahwa Samsung tetap memimpin pasar smartphone global pada kuartal I-2026, saat daftar lima besar merek ponsel dunia kembali memperlihatkan dominasi nama-nama lama. Dalam laporan pengiriman perangkat Januari-Maret itu, Samsung mencatat 62,8 juta unit dengan pangsa pasar 21,7 persen, disusul Apple yang berada di posisi kedua.
Posisi lima besar juga diisi Xiaomi, Oppo, dan Vivo. Namun, dari lima merek teratas hanya Samsung dan Apple yang membukukan pertumbuhan positif, sementara tiga vendor lainnya masih tertekan oleh dinamika pasar yang melemah di awal tahun.
Samsung mempertahankan posisi teratas
Kinerja Samsung naik dibanding kuartal I-2025, ketika pangsa pasarnya masih 20,1 persen. IDC mencatat pertumbuhan tahunan Samsung mencapai 3,6 persen, dengan dorongan utama datang dari permintaan Galaxy S26 Ultra.
IDC juga menilai peluncuran Galaxy A series yang lebih dini ikut membantu mengisi kekosongan sebelum kehadiran Galaxy S26 yang meluncur lebih lambat dibanding model sebelumnya. Kombinasi itu membuat Samsung mampu menjaga volume pengiriman tetap tinggi di tengah pasar yang menurun.
Apple berada sangat dekat di belakang Samsung dengan 61,6 juta unit dan pangsa pasar 21,1 persen. Kenaikan Apple mencapai 3,3 persen, ditopang oleh performa kuat iPhone 17 series, terutama di China.
Tiga vendor besar masih tertekan
Xiaomi menempati peringkat ketiga, tetapi mengalami penurunan paling tajam di jajaran lima besar. Pengiriman perusahaan itu tercatat 33,8 juta unit, turun 19,1 persen dari 41,8 juta unit pada kuartal I-2025.
IDC menyebut Xiaomi memangkas pengiriman model lama untuk menghindari kenaikan harga. Langkah itu dinilai ikut menekan laju pertumbuhan perusahaan pada awal 2026.
Oppo berada di posisi keempat dengan 30,7 juta unit dan pangsa pasar 10,6 persen. Angka itu turun 9,9 persen dibanding 34,1 juta unit pada periode yang sama tahun lalu, meski IDC menilai kinerja Oppo di China masih cukup membantu menahan pelemahan lebih dalam.
Vivo melengkapi lima besar dengan 21,2 juta unit dan pangsa pasar 7,3 persen. IDC mencatat penurunannya 6,8 persen secara tahunan, dari 22,7 juta unit pada kuartal I-2025, meski pasar China dan kestabilan di India masih memberi dukungan bagi kinerja perusahaan.
Pasar global ikut menyusut
Di luar persaingan antarvendor, pasar smartphone global pada kuartal I-2026 juga melemah. IDC mencatat volume pengiriman hanya 289,7 juta unit, turun 4,1 persen dari 302 juta unit pada kuartal I-2025.
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan krisis memori berdampak langsung pada pengiriman dan permintaan ponsel. Ia menjelaskan, “Ketersediaan memori yang terbatas memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga memori yang jauh lebih tinggi mendorong kenaikan biaya bahan baku dan mendesak kenaikan harga oleh banyak merek ternama.”
Popal juga menyoroti bahwa di sejumlah pasar berkembang, harga bisa naik hingga 40-50 persen dan menekan permintaan secara signifikan. Kondisi itu sudah terasa di Indonesia, ketika hampir semua vendor menaikkan harga, meski tidak berlaku untuk seluruh model.
IDC menilai vendor sebenarnya sudah mencoba menahan tekanan lewat pengendalian biaya, pemangkasan aktivitas pemasaran, penyesuaian saluran distribusi, hingga pengurangan spesifikasi. Namun langkah-langkah tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan arah pasar.
Tekanan biaya dan pergeseran ke segmen premium
Research Director Mobile Phones IDC, Anthony Scarsella, menilai kenaikan harga memori memperburuk situasi pasar sejak awal tahun. Ia menyebut pasar negara maju seperti Amerika Serikat masih lebih tahan karena didominasi perangkat premium dan didukung program trade-in serta skema pembiayaan.
Sebaliknya, pasar negara berkembang yang sangat bergantung pada ponsel di bawah 200 dollar AS atau sekitar Rp 3,4 juta menghadapi tekanan lebih berat. Keterbatasan pilihan akibat biaya produksi yang naik membuat segmen ini semakin sulit bergerak.
IDC juga melihat industri smartphone bergerak ke arah kenaikan average selling price atau ASP. Tren premiumisasi diperkirakan terus berlanjut, bahkan ketika harga memori mulai stabil pada paruh kedua 2027, sehingga peta persaingan ponsel global akan semakin condong ke perangkat berharga lebih tinggi.
Source: tekno.kompas.com






