Proyek pertahanan luar angkasa andalan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai bergerak dari wacana ke tahap nyata. Pentagon disebut telah menunjuk dua perusahaan teknologi, Impulse Space dan Anduril Industries, untuk mengembangkan prototipe inti sistem “Golden Dome” yang dirancang mendeteksi dan menghancurkan rudal sejak fase awal peluncuran.
Langkah ini menandai babak baru dalam ambisi Amerika Serikat membangun jaringan pertahanan berbasis satelit. Program tersebut diposisikan sebagai “perisai langit” yang memanfaatkan teknologi luar angkasa, sensor canggih, dan kecerdasan buatan untuk melacak ancaman sebelum mencapai wilayah daratan Amerika Serikat.
Apa itu Golden Dome dan mengapa dianggap penting
Golden Dome adalah proyek pertahanan yang menargetkan kemampuan deteksi, pelacakan, dan pencegatan rudal serta drone dari orbit. Konsepnya sederhana di atas kertas, tetapi sangat rumit dalam praktik karena membutuhkan sistem yang sangat cepat, akurat, dan selalu siaga di lingkungan luar angkasa.
Program ini menghidupkan kembali gagasan lama Amerika Serikat tentang pertahanan rudal berbasis luar angkasa. Sejak era Presiden Ronald Reagan, Washington sudah pernah mencoba membangun konsep serupa lewat Strategic Defense Initiative atau yang populer dijuluki “Star Wars”, tetapi teknologi saat itu belum cukup matang untuk mewujudkannya.
Kini, Golden Dome mencoba memakai pendekatan yang berbeda. Pemerintah AS bertumpu pada kemajuan satelit komersial, perangkat lunak berbasis AI, dan kemampuan industri pertahanan swasta yang berkembang pesat.
Dua startup rahasia yang dipilih Pentagon
Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber anonim, Impulse Space dan Anduril Industries menjadi dua perusahaan yang dipercaya mengembangkan prototipe sistem inti proyek ini. Impulse Space disebut akan berperan sebagai subkontraktor untuk Anduril, sehingga keduanya akan bekerja dalam rantai pengembangan yang saling terhubung.
Impulse Space dipimpin Tom Mueller, sosok yang dikenal sebagai salah satu karyawan awal SpaceX milik Elon Musk. Perusahaan ini punya fokus pada teknologi mobilitas luar angkasa, yang dinilai relevan untuk mendukung sistem pelacakan dan penargetan rudal di orbit.
Anduril sendiri dikenal sebagai pemain agresif di industri teknologi pertahanan. Perusahaan ini mengembangkan sistem berbasis AI untuk militer, termasuk drone, pengawasan, dan perangkat otonom yang bisa memperkuat jaringan pertahanan modern.
Perusahaan besar juga ikut masuk radar
Selain dua startup tersebut, sejumlah nama besar di industri pertahanan juga dilaporkan terlibat pada tahap awal. Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan True Anomaly disebut ikut masuk dalam pembahasan awal teknologi Golden Dome.
Keterlibatan pemain besar menunjukkan proyek ini tidak berdiri di atas satu jalur teknologi saja. Pemerintah AS tampaknya ingin menggabungkan pengalaman kontraktor lama dengan kecepatan inovasi startup untuk mengejar sistem yang masih sangat eksperimental.
Mengapa proyek ini sangat mahal dan sulit
Tantangan terbesar Golden Dome bukan hanya soal pengembangan teknologi, tetapi juga biaya. Studi yang dikutip dalam laporan menyebut proyek ini bisa menelan dana hingga US$3,6 triliun sampai 2045, angka yang membuat banyak pihak mempertanyakan kelayakannya.
Berikut sejumlah hambatan utama yang dihadapi proyek ini:
- Akurasi pelacakan: Sistem harus mampu membaca lintasan rudal sejak awal peluncuran dalam waktu sangat singkat.
- Kecepatan respons: Interceptor berbasis luar angkasa harus bereaksi hampir seketika untuk mencegat ancaman.
- Integrasi satelit: Jaringan satelit harus saling terhubung dan bekerja tanpa celah.
- Biaya operasional: Pengembangan, peluncuran, dan pemeliharaan sistem di orbit sangat mahal.
- Risiko geopolitik: Sistem seperti ini bisa memicu respons balasan dari negara pesaing.
Pada Juni 2025, United States Space Force bahkan baru mengeluarkan permintaan informasi untuk menjajaki kemampuan teknologi tersebut dari industri. Ini menunjukkan bahwa banyak bagian dari proyek masih berada di tahap konsep, meski pengembangannya kini sudah mulai bergerak.
Kritik soal potensi perlombaan senjata luar angkasa
Sejumlah pengamat menilai Golden Dome bukan hanya proyek pertahanan, melainkan juga pemicu ketegangan baru. Brookings Institution menyebut program ini berisiko mendorong perlombaan senjata di luar angkasa, terutama bila China dan Rusia memutuskan mengembangkan sistem tandingan.
Kekhawatiran itu muncul karena proyek pertahanan luar angkasa dapat mengubah keseimbangan strategis global. Jika satu negara menempatkan sistem pencegat di orbit, negara lain bisa menganggapnya sebagai ancaman terhadap kemampuan serangan balasan mereka.
Dalam skenario seperti itu, perlombaan teknologi militer tidak lagi terbatas di darat, laut, atau udara. Persaingan bisa bergeser ke ruang angkasa, area yang selama ini masih dijaga agar tidak sepenuhnya dipenuhi senjata.
Potensi jadwal dan arah pengembangan
Meski belum ada jadwal resmi yang dibuka ke publik, laporan sebelumnya menyebut uji coba besar pertama Golden Dome kemungkinan dilakukan menjelang pemilu presiden AS 2028. Informasi itu memberi gambaran bahwa proyek ini diarahkan untuk menunjukkan hasil dalam beberapa tahun ke depan, meski jalannya masih panjang.
Dengan masuknya Impulse Space dan Anduril, Golden Dome kini melangkah dari sekadar visi politik menjadi program teknis yang mulai dibangun. Tetapi pertanyaan besarnya tetap sama, yakni apakah sistem ini benar-benar bisa menjadi pertahanan ruang angkasa yang efektif, atau justru berubah menjadi ambisi mahal yang sulit diwujudkan dalam skala operasional.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: inet.detik.com






