Galaxy S26 kini tampil sebagai penantang serius Pixel 10 karena membawa banyak fitur yang selama ini identik dengan ponsel Google. Di kelas flagship Android, perubahan ini membuat Samsung tidak lagi sekadar mengejar, tetapi mulai memberi pengalaman AI yang terasa lebih matang dan lebih siap dipakai harian.
Android Central menilai Galaxy S26 bahkan bisa terasa seperti “Pixel versi Samsung” di beberapa area penting. Bukan karena Samsung meninggalkan identitasnya, melainkan karena perusahaan itu mengadaptasi pendekatan AI ala Google lalu membungkusnya dengan integrasi yang lebih luas dan perangkat keras yang lebih kuat.
Semakin tipis jarak Galaxy dan Pixel
Selama beberapa generasi, Pixel dikenal sebagai rumah utama fitur AI dari Google. Sejak Pixel 6 dan kemunculan chip Tensor generasi awal, Google menempatkan AI sebagai inti pengalaman ponsel, mulai dari Magic Eraser hingga Live Translate.
Samsung kemudian bergerak cepat dan membangun Galaxy AI sebagai poros utama di lini premium. Hasilnya, sejumlah fitur yang dulu lekat dengan Pixel kini hadir di Galaxy, meski memakai nama berbeda atau menawarkan eksekusi yang lebih luas.
Perubahan ini membuat batas antara dua ekosistem flagship Android terasa semakin kabur. Samsung tidak lagi hanya meniru arah yang dibuat Google, tetapi mulai mengolahnya menjadi paket yang lebih konsisten di perangkatnya sendiri.
Fitur AI yang membuat Galaxy S26 terasa familiar
Sejumlah fitur di jajaran Galaxy terbaru menunjukkan kemiripan yang kuat dengan pendekatan Pixel. Di Galaxy S24, Samsung membawa Circle to Search dan Interpreter, lalu Galaxy S25 menambahkan Audio Eraser serta balasan berbasis AI, sementara Galaxy S26 menghadirkan Creative Studio dan Nudge.
Android Central menilai Nudge mirip dengan Magic Cue milik Google. Sementara itu, Now Bar dan Now Brief mengingatkan pada pendekatan informatif yang selama ini juga menjadi ciri khas At a Glance di Pixel.
Berikut fitur yang paling sering dibandingkan antara Galaxy dan Pixel:
| Fitur di Galaxy | Nuansa yang mirip Pixel |
|---|---|
| Circle to Search | Pencarian cepat berbasis konteks |
| Interpreter | Terjemahan langsung saat berkomunikasi |
| Audio Eraser | Penghapusan suara yang mengganggu |
| Photo Assist | Bantuan edit foto berbasis AI |
| Now Bar | Informasi ringkas yang selalu mudah dilihat |
| Now Brief | Ringkasan personal yang cepat dipahami |
| Nudge | Pengingat kontekstual berbasis AI |
| Gemini lintas aplikasi | Integrasi AI untuk banyak tugas |
Sebagian besar fitur itu memang memakai fondasi teknologi Google. Namun, implementasinya di Samsung dinilai lebih siap dipakai karena jangkauannya lebih luas dan alurnya lebih terintegrasi dalam penggunaan sehari-hari.
Photo Assist jadi pembeda yang paling terlihat
Salah satu sorotan utama ada pada Photo Assist di Galaxy S26. Fitur ini memungkinkan pengguna memberi instruksi edit dengan bahasa natural, lalu memindahkan elemen dari satu foto ke foto lain untuk digabungkan.
Di sisi Google, kemampuan serupa tersedia lewat Ask Photos atau Help Me Edit di Google Photos. Masalahnya, menurut Android Central, ketersediaannya belum merata bahkan pada Pixel 10 di beberapa wilayah.
Ini penting karena kualitas pengalaman AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model. Distribusi fitur, ketersediaan lintas pasar, dan kestabilan sistem sering kali menjadi penentu utama apakah sebuah fitur benar-benar berguna atau hanya terdengar menarik di atas kertas.
Bukan cuma AI, tenaga Galaxy S26 juga lebih meyakinkan
Galaxy S26 disebut unggul bukan hanya karena daftar fitur AI-nya yang panjang. Android Central juga menyorot Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang dipakai di seri ini sebagai salah satu faktor pembeda paling besar.
Dalam perbandingan internal mereka, chip Qualcomm itu dinilai tampil lebih kuat daripada Tensor G5 milik Google. Keunggulan itu berdampak langsung pada gaming, multitasking berat, dan pemrosesan AI di perangkat.
Dengan kata lain, Galaxy S26 menawarkan kombinasi yang sulit diabaikan. Pengguna mendapat fitur yang mirip atau bahkan lebih matang dari Pixel, namun dibarengi performa mentah yang lebih tinggi.
Perangkat keras ikut menguatkan posisi Galaxy S26
Samsung juga menambahkan pembaruan perangkat keras yang relevan untuk penggunaan nyata. Salah satunya adalah teknologi privacy screen bawaan pada layar yang membantu mengurangi risiko layar diintip tanpa aksesori tambahan.
Pixel 10 tetap punya daya tarik tersendiri, terutama untuk pengguna aksesori magnetik. Android Central menyorot dukungan magnetik Qi2 bawaan pada Pixel 10 Pro sebagai nilai penting di segmen tertentu.
Meski begitu, data jajak pendapat yang dikutip menunjukkan isu ini tidak berlaku sama bagi semua orang. Dari 1.100 respons pembaca, lebih dari 50% menilai absennya magnet Qi2 bawaan di Galaxy S26 sebagai dealbreaker, sementara 35% mengatakan hal itu bukan masalah besar.
Di sinilah Galaxy S26 mulai mencuri daya tarik Pixel
Kombinasi antara AI yang semakin matang, integrasi Gemini, dan performa chipset yang lebih kuat membuat Galaxy S26 terasa seperti perangkat yang mengambil ide terbaik dari dunia Pixel lalu menyajikannya dalam bentuk yang lebih praktis. Samsung tidak hanya mengejar Google di level fitur, tetapi juga di level kesiapan produk untuk pasar luas.
Secara harga, selisih Galaxy S26 dengan Pixel 10 disebut berada di kisaran $100 hingga $200 lebih tinggi. Namun bagi banyak pengguna, tambahan itu bisa terasa masuk akal jika yang dicari adalah AI yang lebih siap pakai, performa yang lebih bertenaga, serta pengalaman software yang lebih agresif dalam mendukung aktivitas harian.







