Bangkai pesawat kargo Boeing 737 milik K2 Airways yang jatuh di Laut Arab akhirnya ditemukan setelah operasi pencarian dan penyelamatan sekitar 12 jam. Meski begitu, penyebab pasti insiden dengan registrasi AP-BOI itu masih belum bisa dipastikan.
Para penyelidik kini menunggu evakuasi dan analisis kotak hitam yang menyimpan data penerbangan serta percakapan di kokpit. Sejumlah pakar menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, tetapi data pelacakan penerbangan dan informasi awal dari otoritas setempat sudah memberi beberapa petunjuk penting.
5 dugaan awal yang kini dipertimbangkan
| Dugaan | Uraian Singkat |
|---|---|
| Kerusakan sistem kendali penerbangan | Menjadi salah satu kemungkinan yang disebut mantan pilot Delta Air Lines, Mark Stephens. |
| Kesalahan penataan muatan | Cargo misload ikut masuk dalam daftar dugaan awal. |
| Gangguan mesin | Masalah pada mesin belum dikesampingkan. |
| Kesalahan manusia | Bisa terjadi saat pesawat berada di udara maupun di darat. |
| Sabotase | Opsi ini juga belum sepenuhnya dikesampingkan. |
Pesawat dengan nomor penerbangan KTA1732 itu terbang dari Sharjah, Uni Emirat Arab, menuju Karachi, Pakistan. Di pertengahan perjalanan, saat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki, awak pesawat dilaporkan memberi tahu pengatur lalu lintas udara bahwa sistem navigasi mengalami gangguan.
Sesudah laporan itu, pesawat mulai mengalami perubahan ketinggian yang tidak normal selama sekitar tiga menit sebelum menghilang dari radar. Data dari Flightradar24 menunjukkan pesawat sempat turun, naik lagi, lalu menukik dengan kecepatan sekitar 22.400 kaki per menit.
Anthony Brickhouse, analis keselamatan penerbangan, menilai pola perubahan ketinggian tersebut akan menjadi salah satu fokus utama penyidik. Menurut dia, semua kemungkinan masih terbuka sampai bukti fisik dari bangkai pesawat dan kotak hitam dianalisis.
Bukan Boeing 737 Max
Kecelakaan ini tidak terkait dengan persoalan yang pernah menimpa Boeing 737 Max. Pesawat yang jatuh merupakan Boeing 737 seri 400, generasi lama yang mulai beroperasi pada 1999 sebagai pesawat penumpang sebelum dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2011.
Pesawat itu juga bukan varian 737 Max yang sempat mengalami dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019 akibat masalah sistem MCAS. K2 Airways mulai mengoperasikan pesawat tersebut pada 2024 melalui skema sewa, dan menurut situs resmi maskapai, itulah satu-satunya pesawat dalam armadanya.
Insiden ini kembali menyoroti catatan keselamatan penerbangan Pakistan yang dalam dua dekade terakhir mengalami sejumlah kecelakaan besar. Hingga kini, otoritas Pakistan masih melanjutkan investigasi untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat tersebut.
