Tim Cook memang sudah menyerahkan kursi CEO Apple kepada John Ternus, tetapi perannya di sekitar pusat kekuasaan belum benar-benar berakhir. Dalam struktur baru Apple, Cook tetap akan menjadi figur penting yang menangani aspek strategis perusahaan, termasuk menjaga hubungan dengan para pembuat kebijakan di berbagai negara.
Bagi Apple, posisi itu sangat berarti karena dinamika bisnis perusahaan ini tidak pernah lepas dari tekanan politik, terutama di Amerika Serikat. Di titik inilah Cook kembali disebut sebagai sosok yang bisa menjadi pawang Donald Trump bagi Apple.
Cook tetap jadi wajah Apple di lingkaran politik
Apple menyebut Cook akan membantu menangani berbagai aspek strategis perusahaan. Salah satu tugas utamanya adalah tetap aktif berhubungan dengan para pembuat kebijakan di seluruh dunia, sebuah peran yang membuatnya tetap dekat dengan pengambilan keputusan penting bagi Apple.
Secara praktis, tugas itu berarti Cook masih akan berada di garis depan ketika Apple perlu bernegosiasi dengan pemerintah. Target terbesarnya tetap sama, yakni menjaga hubungan kerja yang stabil dengan Presiden Donald Trump dan lingkaran kebijakannya.
Jejak Cook di tengah politik Washington
Cook bukan sosok baru dalam permainan politik tingkat tinggi. Selama memimpin Apple, ia dikenal piawai menavigasi kepentingan bisnis raksasa di tengah tekanan dari pemerintah, termasuk saat perusahaan harus menyeimbangkan hubungan dengan China dan kekhawatiran politisi di dalam negeri.
Ia juga sempat meraih hasil yang menguntungkan bagi Apple lewat kedekatannya dengan Trump. Di periode pertama pemerintahan Trump, iPhone dilaporkan mendapat pengecualian dari kebijakan tarif, yang menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan Cook bisa memberi dampak langsung ke bisnis perusahaan.
Namun, peran itu tidak selalu mulus. Cook kerap berada dalam posisi serba salah karena harus menjaga kepentingan Apple tanpa terus-menerus memicu kritik dari publik, karyawan, maupun pelanggan yang sensitif terhadap relasi perusahaan dengan politisi.
Kontroversi yang sering mengiringi manuver Cook
Dalam perjalanan itu, Cook beberapa kali terseret sorotan publik. Pada 2019, ia mendampingi Trump mengunjungi sebuah pabrik perakitan di Texas, saat Trump mengklaim kebijakannya memaksa Apple membangun pabrik baru di Amerika Serikat, padahal pabrik tersebut sudah beroperasi sejak lama.
Ia juga pernah menuai perhatian ketika memberikan hadiah simbolis berupa kaca tahan banting berlapis emas 24 karat buatan Corning. Selain itu, Cook baru-baru ini dikritik karena menghadiri acara nonton bareng film dokumenter istri Trump di Gedung Putih, yang oleh sebagian pihak dinilai tidak tepat karena berdekatan dengan peristiwa tewasnya seorang pengunjuk rasa di Minneapolis dalam insiden yang melibatkan agen federal.
Meski kerap menuai komentar miring, langkah-langkah semacam itu menunjukkan pola yang konsisten: Cook memilih tetap berada dekat dengan pusat kekuasaan agar Apple punya ruang negosiasi yang lebih luas. Cara seperti ini membuatnya tetap relevan meski jabatan formal CEO sudah berpindah tangan.
Apple masih butuh negosiator andal
Bagi Apple, hasil dari pendekatan Cook dianggap sepadan dengan risiko reputasi yang muncul. Selain pernah menikmati pengecualian tarif dalam periode pertama Trump, perusahaan juga kembali berhasil menghindari sebagian kebijakan tarif baru pada periode kedua.
Trump sendiri sempat salah menyebut namanya sebagai “Tim Apple”, tetapi hubungan antara keduanya tetap ditandai oleh pujian dan pertemuan yang berulang. Bahkan, Cook pernah diundang ke acara pelantikan Trump, yang menegaskan bahwa hubungan personal masih menjadi aset penting bagi Apple.
Di sisi lain, Cook tidak selalu bisa melindungi Apple dari semua tekanan regulasi. Pada era Biden, Departemen Kehakiman melayangkan gugatan antimonopoli besar terhadap perusahaan, dan prosesnya masih berjalan hingga kini.
Apple juga belum sepenuhnya aman dari dampak kebijakan tarif baru yang disebut berpotensi membebani perusahaan hingga miliaran dolar AS hanya dalam satu kuartal. Dengan tantangan seperti regulasi kecerdasan buatan dan aturan batasan usia pengguna di toko aplikasi, peran Cook sebagai penghubung politik tetap dibutuhkan meski ia bukan lagi CEO.
John Ternus kini resmi duduk di kursi tertinggi Apple, tetapi tim di belakangnya tampaknya masih mengandalkan Cook sebagai tameng politik utama. Selama tekanan kebijakan terus datang dari Washington, nama Tim Cook masih akan muncul sebagai sosok yang menjaga jalur komunikasi Apple tetap terbuka dengan Donald Trump.
Source: inet.detik.com