Samsung Sendirian Naik Di Asia Tenggara, Rival HP Kompak Terseret Turun

Samsung berhasil merebut posisi teratas pasar smartphone Asia Tenggara pada kuartal I-2026 versi Omdia. Pengiriman ponsel Samsung mencapai 4,6 juta unit dengan pangsa pasar sekitar 21 persen, di tengah pasar kawasan yang justru menyusut.

Kabar ini menonjol karena Samsung menjadi satu-satunya vendor di lima besar yang mencatat pertumbuhan tahunan. Omdia menilai performa Galaxy S26 Series dan kuatnya penjualan Galaxy A Series di segmen menengah menjadi pendorong utama.

Pasar turun, Samsung naik

Secara keseluruhan, total shipment ponsel di Asia Tenggara pada kuartal I-2026 mencapai 21,6 juta unit. Angka itu turun 9 persen dibanding kuartal I-2025 yang masih berada di level 23,7 juta unit.

Di saat pasar melemah, Samsung justru menambah volume pengiriman dari 4,4 juta unit menjadi 4,6 juta unit. Pangsa pasarnya juga naik dari 19 persen menjadi 21 persen.

Omdia menyebut pertumbuhan Samsung sebesar 4 persen secara year-on-year. Dalam daftar lima besar, Samsung mengungguli Oppo, Xiaomi, Transsion, dan Vivo.

Empat rival utama kompak melemah

Oppo menempati posisi kedua dengan pengiriman 4,2 juta unit dan pangsa pasar 20 persen. Namun, angka itu turun dari 5,1 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan minus 17 persen.

Xiaomi berada di urutan ketiga setelah mengirim 3,7 juta unit. Vendor ini juga mencatat penurunan 12 persen dibanding kuartal I-2025, saat pengirimannya masih 4,2 juta unit.

Transsion, yang mencakup merek Infinix, Tecno, dan Itel, berada di posisi keempat. Pengirimannya turun dari 3,7 juta unit menjadi 3,4 juta unit, meski pangsa pasarnya tetap di 16 persen.

Vivo melengkapi lima besar dengan 2,1 juta unit pengiriman. Capaian itu lebih rendah dibanding 2,8 juta unit pada kuartal I-2025, sehingga pangsa pasarnya menyusut dari 12 persen menjadi 9 persen.

Metode hitung yang dipakai Omdia

Data Omdia menggunakan metode sell-in shipment, bukan sell-out. Artinya, angka yang dihitung adalah perangkat yang dikirim vendor ke distributor, toko, atau kanal penjualan, bukan unit yang sudah dibeli konsumen akhir.

Metode ini penting untuk dibaca bersama tren pasar, karena angka pengiriman bisa berbeda dari penjualan ritel di lapangan. Dalam konteks Asia Tenggara, hasil tersebut menunjukkan pergeseran strategi vendor di tengah pasar yang tidak sedang tumbuh.

Harga rata-rata justru mencetak rekor

Meski volume turun, harga jual rata-rata smartphone di Asia Tenggara mencapai rekor baru 349 dollar AS per unit. Omdia menyebut angka itu naik 19 persen dibanding tahun sebelumnya yang masih di bawah 300 dollar AS.

Kenaikan ASP ini dipicu naiknya biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND. Beban biaya itu paling terasa di segmen entry-level dan menengah karena porsi komponen memori di kelas tersebut cukup besar.

Dampaknya, vendor mulai menaikkan harga, mengurangi spesifikasi tertentu, atau mengatur suplai lebih ketat. Omdia melihat para produsen kini lebih fokus menjaga profitabilitas dan menaikkan ASP ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume.

Le Xuan Chiew, Research Manager Omdia, mengatakan tren itu terlihat jelas di kawasan ini. Ia juga menilai volatilitas harga dan suplai smartphone masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Tekanan harga diperkirakan masih terasa dalam beberapa kuartal ke depan, terutama di segmen HP murah yang sensitif terhadap perubahan biaya. Di tengah kondisi itu, posisi Samsung di puncak pasar Asia Tenggara menjadi sorotan karena dicapai saat sebagian besar pesaing justru bergerak turun.

Source: tekno.kompas.com
Exit mobile version