IDC mencatat perubahan menarik di pasar smartphone global pada kuartal I-2026, ketika Samsung kembali memimpin daftar lima besar merek ponsel dunia. Perusahaan asal Korea Selatan itu mengirimkan sekitar 62,8 juta unit dengan pangsa pasar 21,7 persen, sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama sebelumnya.
Di belakang Samsung, Apple menempel ketat dengan 61,1 juta unit dan pangsa 19,6 persen. Selisih tipis itu menunjukkan persaingan dua merek teratas masih sangat ketat, sementara tiga posisi berikutnya justru diwarnai pelemahan pengiriman.
Samsung dan Apple tetap jadi penggerak utama
IDC menyebut kinerja Samsung ditopang permintaan kuat dari Galaxy S26 Ultra. Peluncuran Galaxy A series yang lebih awal juga membantu menutup jeda sebelum kehadiran Galaxy S26 yang rilis lebih lambat daripada model sebelumnya.
Apple juga mencatat pertumbuhan positif dengan laju 3,3 persen. Kenaikan itu didukung performa kuat iPhone 17 series, terutama di China, yang menjaga volume pengiriman tetap tinggi di tengah pasar yang melemah.
Xiaomi, Oppo, dan Vivo alami tekanan
Di posisi ketiga, Xiaomi mengirimkan 33,8 juta unit, turun 19,1 persen dibanding kuartal I-2025. IDC menjelaskan, perusahaan itu memangkas pengiriman model lama untuk menghindari kenaikan harga, dan keputusan tersebut ikut menekan pertumbuhan.
Oppo berada di peringkat keempat dengan 30,7 juta unit, turun 9,9 persen secara tahunan. Meski begitu, IDC menilai Oppo masih terbantu kinerja positif di China, termasuk karena integrasi perusahaan dengan Realme.
Vivo melengkapi lima besar dengan 21,2 juta unit. Angka itu turun 6,8 persen dibanding tahun sebelumnya, meski pasar China tetap memberi kontribusi besar dan India menjaga performa perusahaan tetap stabil.
Pasar global ikut tertekan
Secara keseluruhan, IDC mencatat pengiriman smartphone global pada kuartal I-2026 mencapai 289,7 juta unit. Jumlah itu turun 4,1 persen dari 302 juta unit pada kuartal I-2025, menandakan awal tahun yang berat bagi industri perangkat seluler.
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menilai krisis memori menjadi salah satu pemicu utama. Ia mengatakan, “Ketersediaan memori yang terbatas memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga memori yang jauh lebih tinggi mendorong kenaikan biaya bahan baku dan mendesak kenaikan harga oleh banyak merek ternama.”
Menurut Popal, di beberapa pasar negara berkembang, harga ponsel bahkan naik 40-50 persen. Kondisi itu sangat terasa di pasar yang sensitif terhadap harga, termasuk Indonesia, ketika hampir semua vendor menaikkan harga pada berbagai segmen.
Tekanan lebih besar untuk pasar murah
Research Director Mobile Phones IDC, Anthony Scarsella, menyoroti bahwa pasar negara maju seperti Amerika Serikat masih lebih tahan karena didominasi perangkat premium. Program trade-in dan skema pembiayaan juga menjaga daya beli konsumen di wilayah tersebut.
Sebaliknya, negara berkembang yang bergantung pada ponsel di bawah 200 dollar AS atau sekitar Rp 3,4 juta akan menanggung tekanan lebih besar. Keterbatasan pilihan akibat biaya produksi yang naik berpotensi mempersempit pasar perangkat murah dalam beberapa waktu ke depan.
IDC juga melihat arah industri bergerak ke harga jual rata-rata atau average selling price yang lebih tinggi. Tren premiumisasi ini muncul seiring kenaikan biaya komponen dan strategi vendor yang makin fokus pada produk bernilai lebih tinggi, sehingga persaingan pasar ponsel global akan semakin bergeser ke segmen atas.
Source: tekno.kompas.com