Samsung masih berada di posisi teratas pasar SSD enterprise global. Namun, data terbaru menunjukkan keunggulan itu tidak lagi terlalu nyaman karena para pesaing mulai memperkecil jarak dengan laju pertumbuhan yang lebih cepat.
Laporan TrendForce menempatkan Samsung sebagai pemimpin pasar pada kuartal keempat 2025. Perusahaan membukukan pendapatan sekitar $3.66 miliar di segmen enterprise SSD, didorong permintaan pusat data yang terus meningkat untuk beban kerja AI.
Samsung masih unggul, tetapi pangsa pasar menurun
Meski tetap memimpin, pangsa pasar Samsung secara kuartalan turun dari 35,1% menjadi 33,8%. Penurunan ini bukan berarti bisnisnya melemah, karena pendapatannya justru tumbuh 49,7% dibanding kuartal sebelumnya.
Angka itu menunjukkan pasar enterprise SSD masih berkembang kuat. Hanya saja, rival utama tumbuh lebih agresif sehingga tekanan kompetitif terhadap Samsung kini makin terlihat.
TrendForce menilai salah satu kekuatan penting Samsung ada pada model bisnis yang terintegrasi secara vertikal. Samsung memproduksi komponen utama seperti DRAM dan NAND Flash sendiri, sehingga perusahaan memiliki kontrol pasokan yang lebih baik saat pasar memori bergejolak.
Kemampuan ini penting di tengah kebutuhan pelanggan enterprise terhadap suplai yang stabil. Pusat data dan operator cloud umumnya tidak hanya mengejar performa, tetapi juga kepastian ketersediaan produk dalam skala besar.
AI mengubah arah permintaan penyimpanan
Lonjakan kebutuhan enterprise SSD saat ini sangat terkait dengan ekspansi infrastruktur AI. Beban kerja AI inference mendorong operator pusat data untuk memakai media penyimpanan yang lebih cepat, efisien, dan responsif dibandingkan teknologi lama.
Dalam ekosistem data center modern, kebutuhan tidak lagi sebatas kapasitas besar. Pelanggan juga mengutamakan latensi rendah, konsistensi performa, serta efisiensi daya untuk menekan biaya operasional.
Di titik ini, SSD semakin relevan sebagai tulang punggung penyimpanan. Dalam beberapa skenario, keterbatasan pasokan HDD juga ikut mendorong sebagian pelanggan enterprise beralih ke SSD.
Samsung dinilai berada di posisi kuat untuk menjaga momentum tersebut. TrendForce menyebut lini enterprise SSD QLC 176-layer milik Samsung berpotensi mencatat pertumbuhan pengiriman yang signifikan pada 2026.
QLC menjadi senjata penting di data center
SSD berbasis QLC kini mendapat perhatian lebih besar di pasar enterprise. Teknologi ini menarik karena menawarkan kapasitas tinggi dengan efisiensi biaya per kapasitas yang lebih kompetitif untuk kebutuhan skala besar.
Bagi operator cloud dan pusat data AI, pendekatan itu sangat relevan. Mereka membutuhkan penyimpanan padat untuk menampung data dalam volume besar, tetapi tetap harus menjaga efisiensi investasi infrastruktur.
Meski begitu, adopsi QLC tetap bergantung pada keseimbangan antara kapasitas, performa, dan daya tahan. Karena itu, vendor yang mampu mengoptimalkan ketiga aspek tersebut berpeluang merebut lebih banyak kontrak dari pelanggan hyperscale.
SK Group menekan dari posisi kedua
Ancaman terbesar bagi Samsung saat ini datang dari SK Group, yang mencakup SK hynix dan Solidigm. Menurut data TrendForce, pendapatan grup ini naik 75,2% secara kuartalan, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan Samsung.
Pangsa pasar SK Group juga naik dari 26,8% menjadi 30,2%. Kenaikan itu membuat jarak dengan Samsung semakin tipis dan mempertegas bahwa persaingan di pasar enterprise SSD sedang memasuki fase yang lebih ketat.
Kinerja SK Group banyak didorong oleh fokus Solidigm pada SSD QLC berkapasitas tinggi. Segmen ini sedang naik daun karena operator data center membutuhkan solusi penyimpanan padat untuk ekspansi cloud dan layanan AI.
Dengan tren seperti itu, persaingan tidak lagi hanya soal siapa yang paling besar. Pasar mulai memberi penghargaan lebih pada vendor yang cepat membaca kebutuhan baru pusat data.
Micron ikut menguat, pemain lain tetap bertahan
Micron juga memperlihatkan pergerakan yang solid di posisi ketiga. Perusahaan ini mencatat pertumbuhan pendapatan 41,4% secara kuartalan dengan pangsa pasar 13%.
Strategi Micron dinilai efektif karena lebih menitikberatkan bisnis pada SSD enterprise yang memiliki margin lebih tinggi. Pendekatan itu membantu perusahaan menangkap peluang dari pergeseran belanja pelanggan menuju data center.
Di luar tiga besar, Kioxia dan SanDisk masih bertahan dalam lima besar pasar enterprise SSD. Pangsa pasar keduanya masing-masing tercatat 10,8% dan 4,1%.
Peta pasar enterprise SSD
Berikut ringkasan data pasar dari TrendForce untuk kuartal keempat 2025:
| Perusahaan | Pangsa pasar | Pertumbuhan QoQ |
|---|---|---|
| Samsung | 33,8% | 49,7% |
| SK Group | 30,2% | 75,2% |
| Micron | 13,0% | 41,4% |
| Kioxia | 10,8% | – |
| SanDisk | 4,1% | – |
Data tersebut memperlihatkan bahwa Samsung masih nomor satu. Namun, laju pertumbuhan pesaing menunjukkan peta pasar bisa berubah lebih cepat dibanding beberapa periode sebelumnya.
Faktor yang akan menentukan persaingan berikutnya
Ada beberapa variabel utama yang akan menentukan arah kompetisi pasar enterprise SSD. Bukan hanya inovasi produk, tetapi juga ketahanan rantai pasok dan kemampuan memenuhi pesanan hyperscaler dalam jumlah besar.
Tiga faktor yang paling menonjol saat ini adalah:
- Ketersediaan NAND Flash dan DRAM untuk menjaga suplai.
- Permintaan SSD QLC berkapasitas tinggi untuk pusat data AI.
- Percepatan migrasi dari HDD ke SSD pada sebagian beban kerja enterprise.
Samsung masih diuntungkan oleh kendali kuat atas rantai pasok internal. Namun, pertumbuhan cepat dari SK Group dan penguatan posisi Micron menunjukkan bahwa kepemimpinan pasar kini semakin bergantung pada ketepatan strategi produk, kapasitas produksi, dan kemampuan menjawab kebutuhan baru pusat data yang bergerak menuju AI, efisiensi energi, dan penyimpanan berkapasitas masif.







