Kenaikan harga smartphone dan laptop mulai terasa sejak awal tahun ini dan diperkirakan akan berlanjut sepanjang 2026. Lonjakan harga komponen, khususnya chip memori RAM dan penyimpanan, menjadi pemicu utama tekanan harga tersebut di pasar perangkat elektronik konsumen.
Beberapa laporan industri menyebutkan bahwa peningkatan harga perangkat bisa mencapai 5 persen hingga 20 persen. Tekanan ini tidak hanya memengaruhi produk kelas atas, tetapi juga sudah merambah ke segmen menengah yang selama ini dikenal sebagai pasar volume tinggi.
Biaya Komponen Memori yang Meningkat Drastis
Data terbaru menunjukkan biaya chip memori naik secara signifikan dalam waktu singkat. Analis industri mencatat harga chip memori melonjak lebih dari 300 persen dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan biaya ini membuat struktur ongkos produksi berubah drastis.
Sebelumnya, memori hanya menyumbang sekitar 10 sampai 15 persen dari total biaya pembuatan smartphone. Kini, porsinya meningkat menjadi sekitar 30 hingga 40 persen, yang berarti hampir setengah dari harga komponen berasal dari memori. Kenaikan harga kontrak untuk konfigurasi memori standar seperti 8GB RAM dengan penyimpanan 256GB bahkan mencapai hampir 200 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pengaruh Ekspansi Pusat Data AI terhadap Harga Chip
Analis mengaitkan lonjakan harga chip memori dengan ekspansi pesat pusat data yang mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Permintaan besar dari sektor AI ini mempersempit ketersediaan chip memori secara global. Imbasnya, harga komponen untuk perangkat elektronik konsumen turut terdongkrak.
Sektor AI yang sedang berkembang pesat membutuhkan volume chip memori tinggi untuk mendukung operasional data dan komputasi. Hal ini menyebabkan perlombaan mendapatkan pasokan chip yang kian ketat di seluruh dunia. Efeknya terlihat nyata pada kenaikan harga smartphone dan laptop yang menggunakan chip serupa.
Respons Produsen terhadap Kenaikan Biaya
Beberapa vendor perangkat sudah mulai menyesuaikan harga jual mereka. Misalnya, Vivo mengonfirmasi kenaikan harga eceran mulai pertengahan Maret lalu. Perusahaan menyatakan faktor utama adalah lonjakan biaya semikonduktor dan memori secara global yang sulit dihindari.
Sebelumnya, Oppo juga menaikkan harga untuk seri A, seri K, dan model OnePlus dengan kisaran kenaikan antara 200 hingga 500 yuan. Oppo bahkan mengumumkan bahwa harga beberapa model yang sudah meluncur pun akan disesuaikan kembali, walaupun nominal kenaikannya tidak diungkapkan secara detail.
Situasi ini menunjukkan bahwa penyesuaian harga terjadi baik pada produk baru maupun yang sudah beredar di pasar. Vendor harus mengambil kebijakan ini untuk menjaga margin keuntungan di tengah biaya produksi yang membengkak.
Tekanan Pasar Smartphone yang Belum Pulih
Kenaikan harga komponen datang saat pasar smartphone global tengah tertekan. Data dari Counterpoint Research menyebutkan bahwa pengiriman global diperkirakan turun menjadi 1,1 miliar unit, turun lebih dari 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini merupakan angka terendah sejak tahun 2013.
Penurunan permintaan ini membuat posisi produsen semakin sulit. Dengan volume penjualan menurun namun biaya produksi meningkat, opsi untuk bersaing dengan harga lebih murah menjadi terbatas. Beberapa produsen premium memilih strategi diskon dan promosi untuk mempertahankan pasar, seperti yang dilakukan Apple dan Huawei di China.
Namun, mekanisme diskon ini lebih efektif bagi merek dengan margin besar. Sementara itu, vendor yang mengincar segmen menengah ke bawah harus memikirkan cara untuk tetap kompetitif walaupun harus menaikkan harga.
Segmen Menengah dan Laptop Jadi yang Paling Terpengaruh
Segmen pasar menengah ke bawah diprediksi menghadapi dampak kenaikan harga paling besar. Vendor seperti Xiaomi dan Transsion yang menguasai pasar ini disebut paling rentan akibat basis konsumen mereka sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Laptop juga mengalami tekanan harga yang serupa. Komponen memori dan penyimpanan yang sama-sama mengalami kenaikan harga menjadi faktor penyebab. Beberapa merek laptop seperti ASUS dan Infinix sudah melakukan penyesuaian harga per Maret. Di Indonesia, kenaikan harga ini sudah diterapkan untuk berbagai produk smartphone dan laptop dari beberapa vendor besar.
Penyesuaian harga terjadi merata hingga ke segmen menengah bawah. Kenaikan harga produk tersebut bahkan ada yang mencapai ratusan ribu rupiah. Situasi ini sepertinya tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Tips bagi Konsumen sebelum Membeli
Kondisi pasar seperti ini menuntut konsumen untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Membandingkan harga antara model lama dan baru dalam seri yang sama agar tidak terjebak kenaikan yang tidak sepadan.
- Mengecek kapasitas RAM dan penyimpanan, karena dua komponen ini paling terpengaruh kenaikan harganya.
- Memantau promosi resmi dari vendor atau marketplace terpercaya untuk mendapatkan harga lebih kompetitif.
- Mempertimbangkan membeli perangkat generasi sebelumnya jika perbedaan performanya tidak signifikan.
- Untuk kebutuhan dasar, mempertimbangkan opsi produk bekas dengan catatan risiko yang harus diperhitungkan.
Selama permintaan chip memori dari sektor AI tetap tinggi dan pasokan belum membaik, produsen diperkirakan akan terus menyesuaikan harga jual smartphone dan laptop. Tekanan harga kemungkinan akan terus berlanjut hingga kondisi pasokan chip global kembali stabil. Consumen diharapkan lebih selektif dan cerdas memilih produk dengan mempertimbangkan faktor harga dan kebutuhan.





