Awal tahun 2000-an menjadi masa ketika ponsel tidak selalu harus terlihat serius. Di periode itu, produsen dunia berlomba menciptakan bentuk paling nyeleneh agar perangkat mereka langsung mencuri perhatian pasar.
Eksperimen desain itu bukan sekadar ide di atas kertas. Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, ponsel dengan wujud menyerupai pena, daun, lipstik, hingga bedak benar-benar dijual kepada publik.
Ketika ponsel meniru benda sehari-hari
Salah satu model yang paling menonjol datang dari Haier lewat P7 Pen Phone. Ponsel yang dirilis pada 2004 itu tampil seperti pena panjang yang ramping, dengan layar kecil di bagian atas dan kamera mungil.
Desainnya membuat perangkat ini terlihat lebih seperti alat tulis ketimbang telepon genggam. Namun, penerimaan pasar tidak terlalu baik karena dianggap kurang praktis untuk penggunaan harian.
Nokia juga ikut masuk ke jalur eksperimental lewat seri 7600. Model yang meluncur pada 2003 ini memiliki bentuk mirip daun atau tetesan air.
Tata letak tombolnya mengelilingi layar persegi panjang di bagian tengah. Susunan itu membuat perangkat ini dinilai sulit dipakai untuk mengetik dengan satu tangan.
Mode, aksesori, dan teknologi dalam satu perangkat
Nokia kembali menarik perhatian pada 2004 lewat 7280, yang kemudian dikenal sebagai “Lipstick Phone”. Julukan itu muncul karena bentuknya menyerupai pemulas bibir dan perangkat ini memang diarahkan ke pasar fesyen.
Ponsel tersebut juga tidak memakai papan ketik. Sebagai gantinya, Nokia menggunakan roda putar atau dial untuk navigasi komunikasi.
Siemens tidak mau ketinggalan dalam tren serupa. Perusahaan itu memperkenalkan Xelibri 6 pada 2003 dengan bentuk wadah bedak lengkap dengan cermin di dalamnya.
Siemens memposisikan perangkat itu sebagai aksesori fesyen bagi anak muda. Produk tersebut bahkan dipromosikan sebagai pertemuan ekstrem antara dunia mode dan teknologi ponsel.
Menarik perhatian, tetapi belum tentu nyaman
Fenomena ponsel unik pada masa itu memperlihatkan betapa kerasnya persaingan produsen mencari pembeda. Bentuk yang tidak lazim menjadi senjata untuk menarik perhatian konsumen sebelum desain ponsel bergerak ke arah yang lebih seragam.
Tetapi keunikan visual tidak selalu sejalan dengan kenyamanan pakai. Sejumlah model justru menuai penilaian kurang praktis karena sulit dipakai untuk aktivitas harian, termasuk mengetik dan mengoperasikan perangkat dengan satu tangan.
Karena itu, ponsel-ponsel eksperimental tersebut kini lebih sering dikenang sebagai bagian penting dari sejarah desain perangkat telekomunikasi. Mereka menunjukkan bahwa industri gadget pernah memberi ruang luas bagi keberanian bereksperimen, bahkan sampai menjual ponsel yang nyaris lebih mirip aksesori daripada alat komunikasi.







