Pasar Ponsel Asia Tenggara Turun 9 Persen, Samsung Jadi Satu-Satunya yang Naik

Pasar ponsel di Asia Tenggara melemah pada kuartal I-2026, tetapi Samsung justru bergerak ke arah sebaliknya. Di tengah penurunan total pengiriman 9 persen, pabrikan asal Korea Selatan itu menjadi satu-satunya vendor yang mencatat pertumbuhan.

Omdia mencatat total shipment smartphone di kawasan ini mencapai 21,6 juta unit pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka itu turun dari 23,7 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan pasar yang masih tertekan sejak awal tahun.

Samsung memimpin pasar dengan pengiriman 4,6 juta unit dan pangsa sekitar 21 persen. Capaian itu naik 4 persen secara tahunan, sekaligus menempatkan Samsung sebagai pemain paling konsisten ketika kompetitor lain justru kehilangan volume.

Tekanan di lima besar pasar

Di bawah Samsung, empat vendor besar lain sama-sama mencatat penurunan shipment. Oppo turun 17 persen menjadi 4,2 juta unit, Xiaomi melemah 12 persen ke 3,7 juta unit, Transsion turun 10 persen ke 3,4 juta unit, dan Vivo merosot 7 persen ke 2,1 juta unit.

Perubahan ini ikut menggeser peta persaingan di Asia Tenggara. Oppo memang masih berada di posisi besar dengan pangsa 20 persen, tetapi Samsung berhasil mengambil alih posisi puncak lewat pertumbuhan yang lebih stabil.

Omdia juga mencatat bahwa merek lain di luar lima besar justru tumbuh 7 persen. Kelompok ini mencatat 3,7 juta unit pengiriman dan menguasai 17 persen pasar, naik dari 15 persen pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Samsung ditopang dua lini utama

Kinerja Samsung tidak berdiri sendiri. Omdia menyebut pencapaian itu ditopang oleh performa kuat Galaxy S26 Series di segmen flagship dan penjualan Galaxy A Series yang solid di kelas menengah.

Kombinasi dua lini tersebut memberi Samsung keuntungan di tengah pasar yang sedang berhati-hati. Saat vendor lain menghadapi tekanan volume, Samsung masih bisa menjaga pengiriman sekaligus memperluas pangsa pasar.

ASP naik ke level rekor

Meski volume turun, harga jual rata-rata smartphone di Asia Tenggara justru menanjak tajam. Omdia mencatat average selling price mencapai 349 dollar AS atau sekitar Rp 6,1 juta per unit, naik 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang masih di bawah 300 dollar AS atau sekitar Rp 5,3 juta.

Kenaikan itu terutama dipicu oleh biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND yang ikut naik. Tekanan ini terasa paling besar di segmen entry-level dan menengah karena porsi biaya memori di kelas tersebut cukup signifikan.

Akibatnya, vendor mulai menyesuaikan strategi. Sebagian menaikkan harga jual, sebagian lain memangkas spesifikasi tertentu, dan ada pula yang mengatur suplai produk lebih ketat agar margin tetap terjaga.

Pasar masih dibayangi harga dan suplai

Research Manager Omdia, Le Xuan Chiew, mengatakan vendor kini lebih fokus menjaga profitabilitas dan menaikkan ASP ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume. Sikap itu mencerminkan arah industri yang sedang bergerak lebih defensif di tengah biaya produksi yang makin berat.

Omdia memperkirakan volatilitas harga dan suplai masih akan berlangsung dalam waktu dekat. Vendor masih harus menghadapi keterbatasan pasokan komponen sekaligus menghitung dampak kenaikan harga terhadap daya beli konsumen.

Dalam kondisi seperti ini, segmen HP murah menjadi yang paling rentan. Segmen tersebut sangat sensitif terhadap fluktuasi harga, sehingga tekanan pasar di Asia Tenggara kemungkinan belum akan cepat mereda dalam beberapa kuartal ke depan.

Source: tekno.kompas.com
Exit mobile version