OnePlus Terancam Hengkang dari AS dan Eropa, Akhir Era “Flagship Killer”?

OnePlus dikabarkan akan menghentikan operasinya di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa dalam waktu dekat. Jika benar terjadi, langkah ini bisa menjadi titik balik besar bagi merek yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penantang agresif di kelas premium.

Laporan tersebut pertama kali muncul lewat WinFuture dan kemudian dikutip sejumlah media teknologi, termasuk Android Police, GSMArena, Droid-Life, hingga The Verge. Hingga kini, OnePlus belum memberikan pernyataan resmi atas rumor tersebut.

Rumor yang kembali menguat

Kabar soal restrukturisasi OnePlus sebenarnya bukan isu baru. Pada Januari lalu, sejumlah media teknologi di AS sudah melaporkan bahwa OnePlus tengah menjalani proses restrukturisasi besar.

Saat itu, perusahaan membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa operasional di Amerika Utara, termasuk layanan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, tetap berjalan normal.

Namun, spekulasi serupa kembali muncul pada bulan-bulan berikutnya. Pada Maret, OnePlus kembali disebut akan mengurangi kehadirannya di pasar global, lalu pada April muncul laporan bahwa sejumlah petinggi OnePlus di Eropa dan Inggris meninggalkan perusahaan.

PeriodeIsu yang MunculSikap OnePlus
JanuariRestrukturisasi besarMembantah, operasional Amerika Utara disebut normal
MaretPengurangan kehadiran di pasar globalBelum ada pernyataan detail
AprilSejumlah petinggi di Eropa dan Inggris disebut keluarMenyebut sedang mengevaluasi peta jalan regional dan strategi produk

Dalam laporan terbaru, induk perusahaan OnePlus, Oppo, disebut akan mengumumkan keputusan itu dalam beberapa hari ke depan. The Verge melaporkan perusahaan juga belum merespons permintaan komentar terkait rumor tersebut.

Fokus ke China dan India

WinFuture menyebut OnePlus kemungkinan tetap dipertahankan di China dan India, tetapi posisinya akan lebih sebagai lini produk di bawah Oppo, bukan merek global yang berdiri sendiri. Jika skenario ini terjadi, peta bisnis OnePlus akan berubah cukup drastis.

Belum diketahui apakah langkah tersebut akan memengaruhi peluncuran perangkat OnePlus di pasar lain, termasuk Asia Tenggara. Situasi ini juga membuat banyak pihak menunggu penjelasan resmi dari Oppo maupun OnePlus.

OnePlus didirikan pada 2013 dan mulai dikenal luas setelah meluncurkan OnePlus One pada 2014 dengan slogan “Never Settle”. Saat itu, perusahaan menawarkan spesifikasi kelas flagship dengan harga yang jauh lebih murah dibanding pesaing seperti Samsung dan Apple.

Dalam beberapa tahun terakhir, OnePlus semakin terintegrasi dengan Oppo, mulai dari penggabungan tim riset dan pengembangan hingga penyatuan basis kode OxygenOS dan ColorOS. Jika kabar hengkang dari AS dan Eropa benar, maka itu akan menjadi perubahan terbesar dalam sejarah OnePlus sejak ekspansinya sebagai merek global.

Source: tekno.kompas.com
Terkait