MacBook Neo kembali menarik perhatian setelah sebuah mod pendingin ekstrem menunjukkan peningkatan performa yang sangat mencolok. Dalam pengujian yang dibagikan YouTuber ETA Prime, laptop fanless itu berubah dari perangkat yang cepat mengalami thermal throttling menjadi mesin yang jauh lebih stabil saat dipakai untuk gaming dan beban kerja berat.
Hasil paling menonjol terlihat pada game No Man’s Sky, yang sebelumnya hanya berjalan di sekitar 30 FPS. Setelah mod pendingin dipasang, framerate naik ke kisaran 58–60 FPS, dan dengan upscaling serta pengaturan medium, performanya bahkan bisa menyentuh sekitar 80 FPS.
Desain fanless jadi titik lemah utama
MacBook Neo memakai desain tanpa kipas dengan graphene pad standar untuk membantu menyalurkan panas dari SoC A18 Pro ke bodi aluminium. Pendekatan itu cukup untuk penggunaan ringan, tetapi mulai kewalahan saat perangkat dipaksa bekerja lebih keras.
Dalam kondisi beban tinggi, suhu internal dilaporkan dapat menembus 105°C. Saat suhu setinggi itu muncul, sistem akan menurunkan clock agar komponen tetap aman, dan efeknya langsung terasa pada penurunan performa.
Mod pendingin yang dipasang jauh lebih agresif
ETA Prime tidak hanya menambah pendingin kecil pada perangkat. Mod yang digunakan mengubah pendekatan termal secara menyeluruh dengan memasang heatsink tembaga khusus langsung di atas chip, lalu menambahkan beberapa thermal pad Arctic.
Selain itu, perangkat juga dipasangkan dengan unit Peltier berpendingin cairan dari luar bodi. Solusi ini memang tidak praktis untuk penggunaan harian, tetapi cukup efektif untuk menunjukkan seberapa besar pengaruh sistem pendingin terhadap potensi perangkat.
Ringkasan hasil pengujian
- Suhu beban turun dari 105°C menjadi 74°C.
- No Man’s Sky naik dari sekitar 30 FPS menjadi 58–60 FPS.
- Dengan upscaling dan pengaturan medium, game bisa mencapai sekitar 80 FPS.
- Skor Geekbench 6 multi-core meningkat dari 7.921 menjadi 9.394.
Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa hambatan utama bukan terletak pada silikonnya semata. Masalah terbesar justru ada pada kemampuan pendinginan bawaan yang terlalu konservatif untuk skenario berat.
Performa gaming ikut terdorong signifikan
Dalam pengujian game, perubahan frame time menjadi bagian penting yang ikut diamati. Sebelum mod dipasang, grafis frame time cenderung tidak rata dan membuat pengalaman bermain terasa kurang mulus.
Setelah sistem pendingin diperkuat, grafik frame time menjadi jauh lebih stabil. Ini penting karena performa gaming bukan hanya soal angka FPS tinggi, tetapi juga soal kestabilan waktu antar frame agar gerakan di layar terasa konsisten.
Kenaikan skor CPU juga terasa jelas
Lonjakan tidak berhenti pada game. Di Geekbench 6 multi-core, skor perangkat naik sebesar sekitar 20 persen dari 7.921 menjadi 9.394. Kenaikan ini menandakan ruang performa prosesor jadi lebih terbuka ketika suhu berhasil dikendalikan dengan lebih baik.
Perbaikan performa juga disebut terlihat pada beban single-core, meski data yang dibagikan lebih menekankan hasil multi-core dan stabilitas kerja jangka panjang. Hal ini penting karena laptop tipis sering tampil kencang di awal, lalu melambat setelah panas menumpuk beberapa menit.
Mengapa temuan ini relevan untuk pengguna
Eksperimen ini menegaskan bahwa banyak perangkat tipis sebenarnya masih menyimpan potensi performa yang belum keluar penuh. Dalam banyak kasus, penurunan kinerja terjadi bukan karena chipnya lemah, melainkan karena sistem pendingin membatasi kerja prosesor terlalu cepat.
Berikut gambaran sederhana dampak mod terhadap hasil pengujian:
| Skenario | Hasil stok | Hasil dengan mod |
|---|---|---|
| Suhu beban | 105°C | 74°C |
| No Man’s Sky | Sekitar 30 FPS | 58–60 FPS |
| No Man’s Sky dengan upscaling | Tidak stabil | Hingga 80 FPS |
| Geekbench 6 multi-core | 7.921 | 9.394 |
Meski begitu, mod seperti ini tidak bisa dianggap solusi umum bagi pengguna harian. Pemasangan pendingin cair eksternal dan Peltier membuat perangkat jauh dari profil aslinya sebagai laptop tipis dan ringan.
Apa yang bisa dibaca dari eksperimen ini
Temuan ETA Prime menunjukkan bahwa desain termal memegang peran besar dalam menentukan pengalaman nyata pengguna. Pada perangkat ringkas, selisih beberapa derajat saja dapat mengubah kestabilan game, durasi performa tinggi, dan respons kerja saat beban berat.
MacBook Neo dari eksperimen ini akhirnya menjadi contoh yang jelas bahwa peningkatan pendinginan bisa membuka performa yang sebelumnya tertahan. Selama panas masih menjadi penghalang utama, potensi chip di dalam perangkat semacam ini kemungkinan belum benar-benar keluar sepenuhnya.







