Pasar PC murah mulai menghadapi tekanan serius akibat kenaikan harga RAM yang tajam. Sejumlah firma riset memperkirakan kondisi ini akan memangkas pengiriman PC global dan membuat laptop atau desktop entry-level makin sulit ditemukan dalam beberapa waktu ke depan.
Data dari IDC, Omdia, dan Gartner menunjukkan arah yang sama, yakni pelemahan pasar PC global pada 2026. Penurunan itu diproyeksikan berada di kisaran 10% sampai 12%, dengan faktor utama berasal dari lonjakan biaya memori yang kini menjadi beban besar bagi produsen.
Harga RAM Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga RAM disebut sebagai pemicu paling besar di balik revisi proyeksi pasar tersebut. Di industri, gejala ini bahkan kerap dijuluki “RAMaggedon” karena efeknya meluas ke berbagai kategori perangkat.
IDC memperkirakan pengiriman PC global akan turun sekitar 11% pada 2026. Omdia memproyeksikan penurunan lebih dalam, yakni 12%, sementara Gartner memperkirakan kontraksi sekitar 10%.
Ketiga lembaga itu menilai memori kini menjadi komponen yang paling menekan struktur biaya produksi. Saat harga RAM naik, produsen tidak punya banyak ruang untuk menjaga harga jual tetap rendah, terutama pada model dengan margin keuntungan yang sudah sangat tipis.
Segmen yang paling rentan adalah PC entry-level. Perangkat di kelas harga bawah selama ini mengandalkan efisiensi biaya yang ketat, sehingga kenaikan kecil pada komponen inti dapat langsung mengganggu kelayakan bisnisnya.
PC di Bawah USD 500 Terancam
Perangkat dengan harga di bawah USD 500 disebut sebagai kelompok yang paling sulit dipertahankan. Saat ongkos produksi naik, produsen dipaksa memilih antara menaikkan harga jual atau mengurangi spesifikasi, dan dua opsi itu sama-sama berisiko melemahkan daya tarik produk.
Gartner bahkan memperkirakan segmen ini bisa hilang sepenuhnya pada 2028. Prediksi tersebut menunjukkan bahwa PC murah bukan hanya tertekan sementara, tetapi berpotensi tersingkir secara bertahap dari pasar jika harga memori tetap tinggi.
Bagi konsumen, perubahan ini bisa terasa dalam bentuk harga laptop yang naik meski spesifikasi tidak berubah banyak. Di sisi lain, model murah yang dulu mudah ditemukan kemungkinan akan berkurang, baik di toko fisik maupun kanal penjualan daring.
Produsen juga cenderung lebih berhati-hati merilis perangkat dengan harga sangat agresif. Margin yang terlalu tipis membuat produk murah menjadi sulit dipertahankan ketika salah satu komponen utama mengalami lonjakan harga.
Mengapa RAM Sangat Menentukan
RAM adalah komponen penting yang dipakai hampir di semua perangkat komputasi modern. Ketika harganya naik, dampaknya tidak hanya mengenai satu jenis produk, tetapi merembet ke laptop, desktop, tablet, hingga smartphone.
Tidak seperti aksesori tambahan, memori adalah bagian inti yang tidak bisa dihilangkan. Karena itu, kenaikan biayanya langsung tercermin pada total ongkos produksi dan akhirnya memengaruhi strategi harga dari merek-merek besar.
Dalam perangkat murah, ruang kompromi spesifikasi juga semakin sempit. Sistem operasi modern, aplikasi produktivitas, dan fitur berbasis AI menuntut kapasitas memori yang lebih besar, sehingga produsen sulit menekan biaya hanya dengan menurunkan kapasitas RAM terlalu jauh.
Kondisi itu membuat PC murah berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, biaya komponen naik, sementara di sisi lain kebutuhan spesifikasi minimum justru terus meningkat.
Dampak ke Smartphone dan Tablet
Tekanan harga memori tidak berhenti di pasar PC. Smartphone diperkirakan menghadapi tantangan serupa karena menggunakan rantai pasok komponen memori yang sama.
Artinya, kenaikan biaya RAM bisa memicu efek domino di pasar elektronik konsumen. Jika produsen ponsel dan tablet juga menghadapi biaya yang lebih tinggi, maka strategi promosi harga murah di banyak segmen dapat ikut tertekan.
Situasi ini muncul ketika pasar perangkat elektronik baru mulai pulih setelah penurunan pascapandemi. Jika harga komponen utama kembali melonjak, laju pemulihan itu berisiko melambat.
Bagi pelaku industri, tantangan bukan hanya menjaga volume penjualan, tetapi juga mempertahankan profitabilitas. Produk murah biasanya membantu menarik konsumen baru, namun justru menjadi yang paling rentan saat biaya produksi meningkat.
Arah Industri Bisa Bergeser
Jika tekanan biaya berlanjut, industri PC kemungkinan bergerak ke produk dengan harga lebih tinggi. Strategi ini dinilai lebih aman karena perangkat premium dan menengah atas memberi ruang margin yang lebih besar.
Perubahan tersebut berpotensi mengubah peta pasar dalam beberapa tahun ke depan. Konsumen yang sebelumnya mengandalkan laptop murah untuk belajar, kerja ringan, atau kebutuhan administrasi mungkin akan menghadapi pilihan yang lebih terbatas.
Ada beberapa dampak yang paling mungkin muncul di pasar:
- Jumlah model PC murah berkurang.
- Harga rata-rata laptop entry-level naik.
- Produsen fokus pada seri menengah dan premium.
- Siklus pembelian konsumen menjadi lebih panjang.
- Pasar perangkat bekas dan refurbished bisa ikut terdorong.
Perubahan itu juga dapat memengaruhi sektor pendidikan dan usaha kecil. Dua kelompok ini biasanya sangat sensitif terhadap harga dan sering bergantung pada perangkat komputasi berbiaya rendah.
Faktor Geopolitik Ikut Menambah Risiko
Sejumlah analis menilai proyeksi penurunan pasar PC tersebut belum sepenuhnya memasukkan dampak geopolitik terbaru. Konflik yang melibatkan Iran disebut berpotensi menambah tekanan baru pada rantai pasok global.
Ketegangan geopolitik dapat mendorong harga energi dan bahan baku naik. Jika itu terjadi, biaya produksi perangkat teknologi bisa bertambah lagi di luar tekanan dari komponen memori.
Bila biaya logistik, energi, dan bahan pendukung ikut naik, maka peluang mempertahankan PC murah akan makin kecil. Kombinasi faktor ini membuat risiko terhadap segmen entry-level menjadi jauh lebih besar daripada sekadar masalah RAM semata.
Berikut gambaran singkat proyeksi pasar PC global dari lembaga riset utama:
| Lembaga riset | Proyeksi penurunan pasar PC global |
|---|---|
| IDC | 11% |
| Omdia | 12% |
| Gartner | 10% |
Dalam situasi seperti ini, produsen kemungkinan akan menata ulang portofolio produk mereka. Fokus pasar bisa bergeser ke perangkat dengan nilai jual lebih tinggi, sementara PC murah di bawah USD 500 makin sulit dipertahankan karena tekanan harga RAM, biaya produksi, dan ketidakpastian global yang belum mereda.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: inet.detik.com






