
Kembalinya HP bergaya BlackBerry menunjukkan satu hal sederhana: sebagian pengguna ternyata masih membutuhkan ponsel yang membuat mereka mengetik lebih sadar, bukan sekadar lebih cepat. Setelah layar sentuh sempat membuat keyboard fisik seolah selesai, kini perangkat dengan tombol nyata kembali menemukan tempat di pasar yang lebih kecil, tetapi sangat spesifik.
Gelombang ini tidak datang dari merek lama saja. Startup seperti Clicks Technology di Inggris dan Unihertz dari China ikut mendorong kebangkitan HP dengan keyboard fisik, sementara komunitas penggemarnya tetap aktif meski BlackBerry sudah berhenti memproduksi hardware pada 2016 dan menutup layanan software pada 2022.
Daya tarik utamanya bukan nostalgia semata
Bagi sebagian pembeli, keyboard fisik justru terasa baru, bukan lama. Salah satu pendiri sekaligus Chief Marketing Officer Clicks Technology, Jeff Gadway, mengatakan 45% basis pelanggannya belum pernah menggunakan HP keyboard fisik.
Ia menilai mereka melihat perangkat itu sebagai cara yang lebih terencana untuk memakai ponsel. Pandangan itu penting karena menunjukkan pasar ini tidak hanya hidup dari kenangan masa lalu.
Membantu mengurangi waktu layar
Salah satu alasan kebangkitan keyboard fisik ada pada kebiasaan digital yang makin sulit dikendalikan. Chonnie Alfonso, yang kerap menampilkan gadget retro di YouTube, merasa perangkat ber-keyboard memberinya hambatan kecil yang justru membantu mengurangi waktu di HP.
Ia menilai doomscrolling jadi kurang menarik saat memakai HP bergaya BlackBerry. Dengan begitu, ia lebih mudah membatasi media sosial dan mengatur jadwalnya sendiri.
Clicks Technology juga menempatkan pendekatan itu sebagai inti produk. Gadway mengatakan perangkatnya menonjolkan fitur pesan dan fungsi inti agar pengguna tetap fokus pada tugas, bukan terseret membuka aplikasi lain.
Fitur lama yang kembali dicari
Kelebihan HP BlackBerry-style tidak berhenti pada tombol fisik. Clicks juga menawarkan keyboard dalam berbagai bahasa, penutup belakang yang dapat diganti, memori yang bisa diperluas, dan jack headphone fisik 3,5 mm.
Bagi Wei Lun Ng, antusias audio berusia 23 tahun, jack headphone berkabel terasa lebih praktis. Ia menyebut headphone kabel tidak mudah terputus, tidak gampang hilang, dan biasanya lebih murah.
Fitur itu juga punya nilai aksesibilitas. Gadway mengatakan beberapa pengguna dengan gangguan penglihatan atau masalah kontrol motorik merasa lebih mudah mengetik dengan tombol fisik.
Mereka yang sering salah ketik juga bisa lebih terbantu. Dalam konteks ini, keyboard fisik tidak lagi sekadar ciri khas lama, tetapi alat yang menjawab kebutuhan yang sangat konkret.
Ceruk kecil, tapi peminatnya nyata
Pasar ponsel ber-keyboard fisik memang tidak besar, tetapi minatnya terlihat jelas. Beberapa perusahaan seperti Zinwa Technologies dan iKKO ikut merilis ponsel dengan keyboard buatan sendiri, menyusul jejak Clicks dan Unihertz.
Respons publik juga tergolong kuat. Kampanye Kickstarter Unihertz untuk versi kedua ponsel Titan menarik lebih dari 8.200 pendukung dan mengumpulkan dana lebih dari USD 4,8 juta per 8 Mei, menjelang akhir kampanye pada 13 Mei.
Clicks pun menunjukkan permintaan yang solid. Target pre-order enam bulannya berhasil dilampaui hanya dalam 30 hari, menandakan ada kelompok konsumen yang memang mencari pengalaman mengetik seperti ini.
Tantangan tetap ada di balik kebangkitannya
Meski tren ini menguat, industrinya tidak bebas hambatan. Meningkatnya permintaan infrastruktur AI telah menekan pasokan memori dan ikut mendorong kenaikan harga komponen.
Artinya, HP dengan keyboard fisik sedang bangkit di pasar yang niche, di tengah biaya produksi yang juga ikut tertekan. Namun selama masih ada pengguna yang mencari kontrol, fokus, aksesibilitas, dan kenyamanan mengetik, alasan untuk menghidupkan kembali gaya BlackBerry tampaknya belum hilang.
Source: inet.detik.com




