Kacamata pintar berbasis AI kini mulai masuk daftar perangkat yang dibatasi di sejumlah pengadilan Amerika Serikat. Meski belum ada larangan nasional, beberapa otoritas lokal menilai perangkat ini terlalu berisiko untuk dibawa ke ruang sidang karena bisa merekam foto, video, dan audio tanpa menarik perhatian.
Kasus terbaru datang dari Philadelphia, saat sistem pengadilan setempat melarang semua jenis kacamata yang memiliki kemampuan merekam di seluruh gedung, pengadilan, dan kantor First Judicial District. Aturan itu bahkan berlaku jika perangkat tersebut dipakai sebagai kacamata resep, sehingga sorotan utama bukan lagi pada bentuknya, melainkan pada fungsi kameranya.
Larangan belum seragam, tetapi trennya makin jelas
Kebijakan di Amerika Serikat masih berbeda antarwilayah. Artinya, satu pengadilan bisa membuka ruang bagi perangkat tertentu, sementara pengadilan lain menutupnya rapat karena alasan keamanan dan privasi.
Selain Philadelphia, Hawaii dan Wisconsin juga disebut telah mengambil langkah serupa terhadap kacamata AI yang dilengkapi kamera. Colorado pun dilaporkan sedang mempertimbangkan aturan sejalan, terutama untuk menekan risiko perekaman diam-diam di area sensitif.
Pola ini menunjukkan bahwa regulator tidak sedang menolak teknologi secara total. Fokusnya lebih sempit, yakni pada risiko yang muncul saat perangkat tampak seperti aksesori biasa, tetapi diam-diam bisa merekam orang lain di ruang yang seharusnya terlindungi.
Mengapa kacamata AI dianggap berbahaya
Yang memicu kekhawatiran bukan kacamata augmented reality berukuran besar yang mudah dikenali. Sorotan justru mengarah pada smart glasses seperti lini Meta Ray-Ban, karena desainnya menyerupai kacamata harian dan sering tidak menimbulkan kecurigaan.
Dalam praktiknya, pengguna dapat mengambil foto atau merekam video tanpa harus mengangkat ponsel. Situasi itu membuat orang di sekitar bisa terekam tanpa tahu bahwa kamera sedang aktif atau tanpa sempat memberi persetujuan.
Meta memang memasang lampu LED kecil sebagai penanda saat kamera bekerja. Namun, efektivitas indikator itu dipertanyakan karena cahayanya tidak selalu mudah terlihat, terutama bagi orang yang belum familiar dengan perangkat tersebut.
Kenapa pengadilan menjadi lokasi paling sensitif
Pengadilan punya aturan dokumentasi yang ketat karena ruang sidang berisi informasi dan identitas pihak-pihak yang rentan. Saksi, terdakwa, korban, juri, hingga pengunjung bisa terdampak jika ada perekaman yang tidak sah.
Dalam ruang seperti ini, petugas keamanan membutuhkan alat yang mudah dikenali untuk memastikan tidak ada dokumentasi tersembunyi. Kacamata pintar justru membuat pengawasan lebih sulit karena bentuknya menyatu dengan benda yang sudah umum dipakai sehari-hari.
Berikut risiko yang paling sering disebut regulator dan pengelola fasilitas:
- Perekaman tanpa persetujuan dari orang yang terekam.
- Sulitnya petugas membedakan kacamata biasa dan perangkat berkamera.
- Potensi kebocoran data dari rekaman di ruang sensitif.
- Gangguan terhadap keamanan sidang dan perlindungan privasi pengunjung.
- Kekhawatiran atas perluasan fitur seperti pengenalan wajah.
Kekhawatiran meluas ke luar gedung pengadilan
Isu ini tidak hanya berhenti di ruang sidang. Beberapa operator wisata dan transportasi juga mulai melirik pembatasan serupa karena mempertimbangkan area yang memiliki ekspektasi privasi yang wajar.
Royal Caribbean, misalnya, melarang smart glasses di area yang dianggap memiliki privasi bagi tamu atau kru. MSC juga disebut menerapkan pembatasan sejenis, yang menandakan bahwa masalah ini sudah bergeser dari sekadar debat teknologi menjadi persoalan tata kelola ruang publik dan ruang privat.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa kacamata AI kini diperlakukan sebagai perangkat perekam berisiko tinggi di banyak tempat. Selama tidak ada standar yang seragam, keputusan akan terus bergantung pada apakah sebuah lokasi menilai keamanan dan privasi lebih penting daripada kebebasan memakai perangkat pintar.
Laporan investigasi ikut memperkuat sorotan
Kekhawatiran publik meningkat setelah media Swedia, Svenska Dagbladet dan Göteborgs-Posten, melaporkan dugaan bahwa rekaman dari perangkat itu ditinjau oleh pekerja subkontraktor Meta. Salah satu pekerja yang disebut sebagai data annotator bahkan menyatakan, “We see everything – from living rooms to naked bodies.”
Pernyataan lain yang dikutip dalam laporan itu berbunyi, “You think that if they knew about the extent of the data collection, no one would dare to use the glasses.” Kutipan tersebut memicu pertanyaan baru soal sejauh mana data pengguna diproses dan siapa saja yang dapat melihatnya.
BBC melaporkan bahwa Information Commissioner’s Office di Inggris ikut menelaah klaim itu dan telah menghubungi Meta. Fortune juga melaporkan adanya gugatan class action terhadap Meta Platforms terkait persoalan tersebut, yang semakin memperbesar tekanan terhadap produsen perangkat.
Apa yang kini dicermati regulator
Perhatian regulator tidak hanya tertuju pada kemampuan merekam, tetapi juga pada kemungkinan fitur yang lebih jauh. Laporan tentang potensi penambahan teknologi pengenalan wajah pada kacamata AI disebut ikut memicu reaksi politik dari sejumlah senator Amerika Serikat.
Dalam situasi seperti ini, pengawasan kemungkinan akan makin ketat di tempat-tempat yang rawan penyalahgunaan. Pengadilan, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas publik lain bisa saja menerapkan aturan yang lebih spesifik jika perangkat serupa terus dianggap mengaburkan batas antara teknologi praktis dan pelanggaran privasi.
Untuk pengguna, pesan yang paling penting cukup jelas: kacamata AI tidak selalu diperlakukan seperti aksesori biasa. Di banyak lokasi, perangkat itu kini sudah masuk kategori alat rekam yang harus diperiksa aturannya sebelum dipakai masuk ke ruang sidang atau area lain yang sensitif terhadap privasi.





