
Infinix mulai mendorong langkah yang lebih berani di pasar Indonesia dengan masuk ke kelas harga menengah atas. Perubahan arah itu terlihat dari Infinix Note 60 Pro yang dibanderol mulai Rp5.499.000 dan rencana kehadiran Infinix Note 60 Ultra yang sudah diperkenalkan di angka 760 dollar AS atau sekitar Rp12,8 juta.
Langkah ini punya arti besar karena Infinix selama ini identik dengan ponsel harga terjangkau di rentang Rp1 juta hingga Rp4 jutaan. Kini, brand di bawah Transsion itu berupaya mengubah persepsi lama dan bersaing di kelas yang menuntut desain lebih matang, material lebih premium, serta pengalaman pakai yang lebih meyakinkan.
Perubahan strategi yang tidak datang tiba-tiba
Dorongan Infinix ke harga Rp10 jutaan menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi ingin bertahan sebagai pemain value-for-money semata. Pasar yang lebih tinggi menawarkan peluang berbeda, termasuk margin yang lebih besar dan citra merek yang lebih kuat.
Strategi ini juga menunjukkan upaya Infinix untuk membangun identitas baru tanpa meninggalkan basis pengguna yang sudah terbentuk. Di pasar smartphone yang sangat kompetitif, merek yang berhasil naik kelas biasanya punya dua modal utama, yaitu loyalitas pengguna dan diferensiasi produk yang jelas.
Transsion membagi peran tiga merek
Perubahan arah Infinix tidak berdiri sendiri karena Transsion tampak menata ulang posisi tiga merek utamanya. Infinix didorong ke segmen menengah ke atas, sementara Tecno dan Itel tetap fokus pada kelas menengah ke bawah.
Pembagian itu dirancang agar ketiga merek tidak saling berebut pasar yang sama. Model seperti ini umum dipakai perusahaan besar untuk memperluas jangkauan konsumen tanpa saling mengganggu posisi masing-masing brand.
- Infinix diarahkan ke segmen menengah ke atas.
- Tecno dan Itel tetap fokus di segmen menengah ke bawah.
- Setiap merek diposisikan agar tidak saling bertabrakan langsung.
Skema tersebut membuat Transsion bisa menjangkau lebih banyak lapisan pasar. Di saat yang sama, perusahaan juga dapat menjaga identitas Infinix agar naik kelas tanpa membuat Tecno dan Itel kehilangan fungsi utamanya di segmen harga lebih rendah.
Saat brand lama berubah menjadi modal persaingan
Product Marketing Manager Infinix Indonesia, Jordan, menyebut langkah ini sebagai tantangan baru bagi timnya. “Ya ini tantangan bagi kami dan Infinix tetap optimis untuk bersaing di produk menengah ke atas,” ujarnya kepada Selular pada 6 Maret 2026.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Infinix sadar pasar premium tidak bisa ditembus hanya dengan harga agresif. Konsumen di segmen ini biasanya menilai reputasi merek, kualitas material, desain, daya tahan, kamera, dan layanan purnajual secara lebih ketat.
Jordan juga menekankan bahwa merek Infinix sudah melekat di hati masyarakat Indonesia dan memiliki komunitas besar yang mempercayai produknya. Modal ini penting karena kepercayaan konsumen sering menjadi pintu awal untuk mendorong pembelian pada kelas harga yang lebih tinggi.
Infinix Note 60 Ultra jadi simbol perubahan arah
Kehadiran Infinix Note 60 Ultra menjadi penanda paling jelas dari strategi baru tersebut. Ponsel ini dirancang oleh Pininfarina, perusahaan desain otomotif asal Italia yang dikenal lewat karya untuk mobil performa tinggi seperti Ferrari.
Kolaborasi dengan Pininfarina memberi pesan bahwa Infinix tidak hanya mengejar spesifikasi, tetapi juga ingin membangun persepsi premium melalui desain. Di pasar yang makin padat, aspek visual dan identitas merek menjadi nilai tambah yang penting bagi konsumen kelas atas.
Berikut beberapa poin pembeda yang menonjol dari strategi Infinix saat ini:
| Langkah | Dampak |
|---|---|
| Masuk ke harga Rp5 juta hingga di atas Rp10 juta | Mengangkat posisi merek di mata konsumen |
| Menggandeng Pininfarina | Memberi identitas desain premium |
| Memisahkan segmen dengan Tecno dan Itel | Mengurangi benturan internal antar merek |
| Memanfaatkan basis pengguna Infinix | Menjaga peluang penerimaan pasar |
Persaingan di kelas atas tidak mudah
Masuk ke segmen premium berarti Infinix harus berhadapan dengan pemain besar yang sudah lama kuat di pasar Indonesia. Samsung, Apple, Oppo, vivo, dan Xiaomi memiliki rekam jejak panjang, basis pengguna luas, serta ekspektasi pasar yang sudah terbentuk.
Di fase ini, harga tinggi harus dibarengi kualitas yang terasa langsung oleh pengguna. Layar, performa, kamera, material bodi, dan layanan purnajual menjadi faktor yang bisa menentukan apakah konsumen bersedia berpindah dari brand yang sudah lebih dulu dikenal di kelas atas.
Tantangan lain terletak pada persepsi lama terhadap Infinix sebagai merek ponsel murah. Untuk mengubah citra itu, perusahaan harus konsisten menghadirkan produk yang bukan hanya terlihat premium, tetapi juga benar-benar memberi pengalaman yang sepadan dengan banderolnya.
Pasar Indonesia masih punya ruang untuk diferensiasi
Meski persaingan ketat, pasar Indonesia tetap membuka peluang bagi pemain yang mampu menawarkan pembeda yang jelas. Konsumen kelas atas tidak selalu mencari merek yang sama dari waktu ke waktu, selama produk baru punya desain kuat, fitur relevan, dan pesan yang meyakinkan.
Dalam konteks itu, Infinix Note 60 Pro dan Note 60 Ultra menjadi bagian dari upaya membentuk ulang posisi Infinix di Indonesia. Transsion tampak ingin membawa Infinix lebih dekat ke segmen premium, sambil tetap menjaga fondasi pengguna yang selama ini membuat brand tersebut kuat di kelas harga terjangkau.





