
Industri tekstil di Indonesia mulai memasuki fase baru dalam efisiensi distribusi dengan mengandalkan truk listrik. PT Primarajuli Sukses, anak usaha PT Ever Shine Tex Tbk, menjadi salah satu pelaku awal yang menerapkan kendaraan listrik komersial untuk jalur logistiknya bersama KALISTA.
Langkah ini muncul ketika biaya energi terus menekan industri dan pasokan BBM kerap menimbulkan ketidakpastian. Bagi sektor tekstil yang bergantung pada pengiriman rutin ke pelanggan dan mitra ritel, penghematan armada menjadi isu operasional yang sangat penting.
Transisi awal yang menonjol di sektor tekstil
Adopsi truk listrik oleh PRS menjadi catatan penting karena mencerminkan perubahan di luar sektor logistik murni. Perusahaan manufaktur dengan jaringan distribusi luas kini mulai melihat kendaraan listrik sebagai alat efisiensi, bukan sekadar simbol transisi energi.
Direktur Ever Shine Group, Michael Sung, mengatakan perusahaan merespons kelangkaan BBM dengan langkah strategis. Ia menyebut enam truk listrik kini dipakai untuk distribusi produk di Jakarta dan Bandung ke sejumlah pelanggan seperti Uniqlo, Atalon, Shopee, Gojek, Grab, Torch, dan Eiger.
Penghematan BBM jadi alasan utama
Sebelum masuk ke operasional penuh, PRS dan KALISTA lebih dulu melakukan uji coba pada dua tipe truk yang digunakan. Hasilnya menunjukkan penghematan biaya bahan bakar hingga 40%, angka yang langsung menjadi dasar kuat untuk melanjutkan transisi armada.
Efisiensi itu juga terlihat pada biaya operasional yang turun hingga 27% per bulan. Di saat yang sama, emisi tercatat berkurang 30%, sehingga penggunaan truk listrik memberi manfaat ganda bagi perusahaan, yaitu menekan biaya dan mengurangi jejak karbon.
Armada dan kemampuan operasional
Armada distribusi PRS terdiri dari 4 unit Foton E-Miller dan 2 unit Foton E-Aumark. Foton E-Miller dibekali baterai 81,14 kWh dengan daya angkut hingga 4 ton, sedangkan Foton E-Aumark menggunakan baterai 63,75 kWh dengan kapasitas angkut hingga 2,5 ton.
Dalam pengujian, kedua model tersebut mampu menempuh jarak hingga 200 km dalam sekali pengisian. Untuk rute Tangerang-Bandung, pengisian daya dilakukan saat waktu istirahat agar jadwal pengiriman tetap berjalan, dengan durasi sekitar 40 menit dari 20% ke 80%.
Skema operasional tanpa investasi awal
PRS memakai skema fleet-as-a-service dengan model operating lease dari KALISTA. Skema ini membuat perusahaan tidak perlu menanggung investasi awal untuk membeli kendaraan, karena kepemilikan unit berada pada penyedia layanan.
Model tersebut juga memindahkan tanggung jawab pemeliharaan, purna jual, pengelolaan fitur, hingga integrasi Internet of Things kepada KALISTA. Dengan begitu, perusahaan dapat fokus pada distribusi produk tanpa terbebani pengelolaan teknis armada secara langsung.
Faktor yang membuat truk listrik mulai dilirik industri
Ada beberapa alasan yang mendorong perusahaan manufaktur dan distribusi mulai melirik kendaraan listrik komersial.
- Biaya bahan bakar lebih terkendali saat harga energi berfluktuasi.
- Operasional harian bisa lebih efisien melalui pemantauan digital.
- Emisi kendaraan turun sehingga target keberlanjutan lebih mudah dicapai.
- Investasi awal dapat ditekan lewat skema sewa operasional.
- Perusahaan bisa menjaga keandalan pengiriman tanpa bergantung penuh pada BBM.
Dukungan infrastruktur jadi penentu keberhasilan
KALISTA tidak hanya menyediakan kendaraan, tetapi juga menyesuaikan strategi pengisian daya dengan pola operasional PRS. Dukungan itu mencakup pemanfaatan SPKLU KALISTA di jalur Jakarta-Bandung serta pembangunan infrastruktur charger yang diperlukan.
Seluruh armada juga terhubung ke Fleet Management System KALISTA melalui K-Move Dashboard. Sistem ini memungkinkan pemantauan operasional secara real-time dan membantu perusahaan membaca pola penggunaan kendaraan dengan lebih rinci.
Bagian dari strategi energi yang lebih luas
Langkah PRS tidak berdiri sendiri karena Ever Shine Group juga menargetkan sekitar 70% kebutuhan energinya dipenuhi dari sumber terbarukan. Perseroan saat ini memiliki PLTS berkapasitas 1,34 MWp dan pembangkit berbasis gas 1 MW.
Selain itu, PLTS fase 2 berkapasitas 2.1 MWp dijadwalkan mulai beroperasi di Juli 2026. Rangkaian inisiatif ini menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik menjadi bagian dari strategi energi yang lebih luas, bukan sekadar uji coba armada.
Dampak yang mungkin lebih luas untuk industri tekstil
Jika efisiensi biaya dan kelancaran operasional dapat dipertahankan, model seperti ini berpotensi diikuti oleh pelaku industri lain. Sektor tekstil termasuk kategori yang sangat bergantung pada ketepatan distribusi, sehingga penghematan BBM dan pengurangan emisi bisa langsung memengaruhi daya saing.
Di tengah tekanan biaya energi dan tuntutan pasar terhadap praktik yang lebih berkelanjutan, truk listrik mulai tampil sebagai opsi yang semakin realistis. Bagi industri tekstil, perubahan ini menandai pergeseran penting dari ketergantungan pada BBM menuju sistem logistik yang lebih hemat, terukur, dan siap menghadapi kebutuhan distribusi harian yang terus meningkat.





