HP Rp 200 Jutaan dengan Jam Analog di Punggung, Dreame Pamer Konsep Mewah Tak Biasa

Dreame memamerkan konsep ponsel mewah yang langsung mencuri perhatian karena desainnya tidak biasa. Salah satu model membawa jam analog berukuran besar di bagian belakang, fitur yang lebih dekat dengan dunia arloji premium ketimbang smartphone arus utama.

Harga perangkat ini juga berada di level sangat eksklusif, yakni 10.000 dollar AS hingga 15.000 dollar AS. Mengacu pada laporan Kompas.com yang mengutip GSMArena, rentang harga itu setara sekitar Rp 169 jutaan sampai Rp 250 jutaan.

Ponsel mewah dengan sentuhan jam analog

Konsep ini menunjukkan upaya Dreame masuk ke pasar ponsel lewat jalur yang berbeda. Alih-alih bersaing lewat spesifikasi umum, perusahaan ini menonjolkan kemewahan material dan pendekatan desain yang sangat artistik.

Pada bagian punggung, Dreame menampilkan panel dekoratif dengan ukiran dan ornamen yang menonjol. Salah satu unit konsep bahkan dilengkapi jam analog besar di belakang perangkat, menjadikannya tampak seperti perpaduan ponsel, aksesori mewah, dan karya kerajinan.

Menurut referensi dari Kompas.com, desain tersebut dibangun memakai material premium seperti emas dan permata. Proses pembuatannya juga disebut menggunakan teknik pengerjaan tradisional, sebuah pendekatan yang lazim ditemui pada barang mewah edisi khusus.

Ciri visual lain yang terlihat dari materi promosi adalah modul kamera besar di bagian atas perangkat. Di sekeliling bodi juga tampak elemen logam dekoratif yang mempertegas bahwa produk ini memang diarahkan untuk segmen ultra-premium.

Bukan sekadar mahal, tapi dibuat untuk pasar niche

Di pasar smartphone global, banderol di atas 10.000 dollar AS jelas bukan untuk konsumen massal. Produk seperti ini biasanya menyasar kolektor, pembeli barang mewah, atau pengguna yang melihat ponsel sebagai simbol status, bukan sekadar alat komunikasi.

Strategi semacam ini bukan hal baru di industri perangkat premium. Sejumlah merek sebelumnya juga pernah menghadirkan ponsel berlapis emas, berlian, atau kulit eksotis, tetapi pendekatan Dreame terlihat menambahkan identitas yang lebih kuat lewat jam analog besar di punggung.

Fitur itu memberi kesan mekanikal yang biasanya diasosiasikan dengan dunia horologi. Karena itu, perangkat ini punya daya tarik visual yang kuat bagi pasar yang menghargai detail, kerajinan, dan keunikan desain.

Dreame dikenal dari IoT, kini masuk ke ponsel

Sebelum memamerkan konsep smartphone ini, Dreame lebih dikenal lewat lini produk teknologi lain. Kompas.com menyebut perusahaan tersebut sebelumnya hadir di kategori Internet of Things, mulai dari smart ring, action camera, hingga mobil listrik.

Masuknya Dreame ke ranah ponsel menunjukkan ekspansi yang agresif. Namun, konsep yang dipamerkan sejauh ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak ingin langsung bermain di segmen umum, melainkan mencoba membangun identitas melalui produk yang ekstrem dan mudah dibicarakan.

Pendekatan ini bisa dipahami sebagai strategi pencitraan merek. Saat nama belum sekuat pemain mapan di pasar smartphone, desain yang sangat berbeda bisa menjadi cara cepat untuk menarik perhatian publik dan media.

Tak hanya mewah, Dreame juga pamer konsep kamera lepas

Selain ponsel mewah dengan jam analog, Dreame juga memperlihatkan konsep smartphone lain yang berfokus pada fotografi. Perangkat ini membawa modul kamera detachable atau bisa dilepas dari bodi utama.

Modul tersebut disebut memakai sensor 1 inci, ukuran yang umum dipakai pada smartphone flagship untuk mengejar kualitas gambar lebih tinggi. Dreame juga membekalinya dengan koneksi WiFi, sehingga modul dapat dioperasikan secara terpisah dari bodi ponsel.

Menurut laporan GSMArena yang dikutip Kompas.com, pendekatan ini mengingatkan pada konsep kamera eksternal Sony di masa lalu. Bedanya, Dreame menekankan operasi nirkabel agar penggunaan lebih fleksibel.

Konsep ini dinilai memberi keleluasaan dalam menentukan sudut pengambilan gambar. Bahkan, Dreame menyebut sistem tersebut memungkinkan perekaman A-roll dan B-roll hanya dengan satu perangkat.

Chip AI internal ikut dipamerkan

Dreame tidak hanya membawa konsep hardware dari sisi desain dan kamera. Perusahaan ini juga memperkenalkan chip kecerdasan buatan buatannya sendiri yang bernama Chixiao 01.

Chip itu diklaim mampu menghadirkan daya komputasi hingga 200 TOPS. Sebagai pembanding, Kompas.com menulis bahwa Snapdragon X2 Elite memiliki kemampuan komputasi sekitar 80 TOPS.

Angka tersebut menunjukkan Dreame ingin menempatkan proyek ponselnya bukan cuma sebagai barang mewah, tetapi juga sebagai perangkat yang sarat teknologi. Chixiao 01 direncanakan akan dipakai pada seri ponsel mewah dan model dengan kamera modular yang sedang dikembangkan.

Rangkuman fakta utama konsep ponsel Dreame

  1. Dreame memamerkan konsep ponsel mewah dengan harga 10.000 dollar AS hingga 15.000 dollar AS.
  2. Salah satu model memiliki jam analog besar di bagian belakang perangkat.
  3. Material yang digunakan meliputi emas dan permata dengan teknik pengerjaan tradisional.
  4. Dreame juga menampilkan konsep ponsel dengan modul kamera detachable bersensor 1 inci.
  5. Modul kamera itu mendukung koneksi WiFi untuk pengoperasian nirkabel.
  6. Perusahaan turut memperkenalkan chip AI internal bernama Chixiao 01 dengan klaim performa 200 TOPS.

Jika hanya melihat dari tampilannya, konsep ini memang lebih dekat ke barang koleksi daripada smartphone harian. Namun justru di situlah nilai jualnya, karena Dreame tampak ingin membentuk kategori sendiri: ponsel ultra-mewah yang memadukan material premium, elemen jam analog, dan eksperimen teknologi seperti kamera modular serta chip AI internal.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: tekno.kompas.com

Terkait