Google Drive Makin Mahal Dan Lebih Rakus Data, Saatnya Cari Pengganti

Google Drive yang selama ini terasa paling praktis di Android mulai dipandang sebagian pengguna sebagai jebakan cloud storage. Pemicu utamanya bukan cuma soal ruang simpan, tetapi juga biaya yang naik, privasi yang makin sensitif, dan syarat baru yang membuat akses ke penyimpanan gratis terasa tidak lagi benar-benar gratis.

Perubahan kecil pada aturan bisa berdampak besar ketika jutaan pengguna sudah telanjur bergantung pada ekosistem Google. Di titik ini, perpindahan dari Google Drive tidak lagi hanya soal mencari tempat menyimpan file, melainkan soal menilai ulang berapa banyak data pribadi yang rela diserahkan untuk tetap nyaman memakai layanan cloud.

Aturan gratis yang berubah diam-diam

Google disebut mengubah keterangan soal penyimpanan gratis bagi pemilik akun secara diam-diam pada Maret. Perubahan itu baru ramai disadari setelah seorang pengguna Reddit menemukannya ketika membuat akun Gmail baru.

Sebelumnya, pengguna mendapat 15GB ruang gratis tanpa syarat tambahan. Kini, jatah yang terlihat muncul sebagai 5GB, sedangkan 10GB sisanya baru bisa didapat jika pengguna memasukkan nomor ponsel.

Google menyebut nomor ponsel itu sebagai verifikasi identitas. Namun, sebagian komentator di Reddit menilai langkah tersebut sebagai penukaran data pribadi dengan akses penyimpanan.

Bagi banyak orang, syarat itu terasa jauh lebih berat. Nomor ponsel dianggap informasi yang sulit dimanipulasi, sehingga sebagian pengguna enggan memberikannya hanya demi mempertahankan kapasitas yang dulu tersedia tanpa imbalan tambahan.

Biaya berlangganan ikut menekan pengguna

Di saat yang sama, harga Google Drive juga ikut naik. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa beban biaya akan terus membesar, terutama jika lonjakan harga berikutnya terjadi pada 2026.

Menurut Incentro, paket Business Standard sempat berada di kisaran $14.40 per pengguna per bulan saat memakai skema fleksibel pada 2020. Pada 2025, harga itu naik menjadi sekitar $16.80 per pengguna per bulan.

Selisihnya memang tampak kecil, tetapi efeknya menumpuk dari bulan ke bulan. Sebagian pengguna juga mempertanyakan apa yang dibeli dari kenaikan tersebut, dengan AI dan sejumlah pembaruan Google lain disebut ikut menjadi alasan perubahan harga.

Privasi jadi alasan paling sensitif

Masalah privasi membuat kegelisahan ini terasa lebih besar dari sekadar urusan tarif. Google sebelumnya meluncurkan Privacy Sandbox pada 2019 untuk meredakan keresahan pengguna Google dan Android soal cookie pihak ketiga, tetapi proyek itu akhirnya ditinggalkan pada 2025 setelah lama tertunda dan berubah arah.

Sejak itu, pertanyaan tentang keamanan dan privasi di ekosistem Google Workspace belum reda. Google disebut melacak aktivitas pengguna di aplikasi dan situs miliknya untuk menyesuaikan iklan secara sangat personal, sesuatu yang dianggap berguna oleh sebagian orang tetapi mengganggu bagi yang lain.

Kekhawatiran bertambah karena Google juga mengumpulkan informasi dari Gmail dan file Google Drive. Layanan ini juga tidak memakai enkripsi end-to-end untuk melindungi dokumen dari pengintaian, berbeda dari perlindungan yang diharapkan banyak pengguna cloud modern.

Alternatif mulai dilirik

Bagi pengguna yang tidak nyaman dengan arah kebijakan Google, opsi lain masih tersedia. Proton, iWork untuk pengguna Apple, LibreOffice untuk yang tidak keberatan dengan pengalaman offline yang lebih klasik, Zoho Workspace, Lark, dan Microsoft 365 disebut layak dipertimbangkan.

Namun, setiap pilihan tetap datang dengan kompromi. Microsoft 365, misalnya, disebut mengharuskan pengguna rela melepaskan enkripsi end-to-end jika ingin memakai pesaing utama Google Workspace tersebut.

Karena itu, keputusan meninggalkan Google Drive kini tidak lagi semata-mata soal kapasitas penyimpanan. Banyak pengguna mulai memandangnya sebagai pilihan yang menyangkut harga, privasi, dan seberapa jauh data pribadi pantas diserahkan hanya untuk tetap berada di ekosistem Android.

Berita Terkait

Back to top button