Samsung baru-baru ini mulai mengurangi penjualan Galaxy Z TriFold, ponsel lipat tiga pertamanya yang masuk pasar dengan harga $2,899. Penjualan di Korea Selatan disebut sudah menurun, sementara pasar lain seperti Amerika Serikat diperkirakan akan mengikuti setelah stok habis. Perangkat ini awalnya digadang sebagai teknologi unjuk kemampuan, sehingga bukan produk yang ditujukan untuk konsumsi masal.
Meskipun Galaxy Z TriFold pertama mulai ditarik, Samsung tampaknya tidak meninggalkan segmen ponsel fleksibel. Bocoran terbaru mengungkap bahwa perusahaan tengah mengembangkan penerus dengan fokus pada desain lebih tipis dan ringan. Selain itu, Samsung juga menguji produk baru berupa ponsel berlayar geser (slidable) yang menawarkan mekanisme berbeda dari model lipat tradisional.
Galaxy Z TriFold 2: Perangkat Lebih Tipis dengan Engsel Lebih Baik
Menurut laporan dan kabar dari tipster Korea, Galaxy Z TriFold 2 sudah memasuki tahap prototipe awal. Samsung memberi perhatian khusus pada pengembangan engsel. Desain engsel anyar dirancang agar ponsel bisa lebih tipis dan ringan dibanding generasi pertama yang tebalnya mencapai sekitar 12,9 mm saat dilipat. Ketebalan tersebut dinilai masih kurang praktis untuk penggunaan sehari-hari.
Samsung berusaha memperbaiki dimensi agar penerus Galaxy Z TriFold bisa mendekati ketebalan Galaxy Z Fold 7, meskipun mekanisme lipat tiga akan tetap sedikit lebih kompleks. Engsel yang konsisten dan kokoh menjadi fokus utama agar daya tahan perangkat meningkat serta bekas lipatan pada layar dapat diminimalkan. Peluncuran model ini diperkirakan berlangsung sekitar pertengahan tahun.
Tantangan Teknis pada Ponsel Lipat Tiga
Perangkat lipat tiga menghadirkan tantangan yang lebih besar dibanding ponsel lipat dua. Mekanisme engsel harus mengakomodasi tiga titik lipatan yang berbeda, sehingga menguji kelenturan dan ketahanan layar serta bingkai. Selain itu, bobot jadi faktor penting. Jika terlalu tebal dan berat, ponsel jenis ini berpotensi kurang diminati sebagai perangkat utama oleh konsumen.
Masalah bekas lipatan juga menjadi sorotan pada perangkat layar fleksibel. Pengulangan buka tutup berulang kali dengan tiga lipatan akan memberi tekanan lebih tinggi pada material layar dan engsel dibanding model lipat biasa. Oleh karena itu, pengujian ketahanan dan inovasi material menjadi kunci sukses teknologi ini ke depannya.
Eksperimen Baru Samsung: Ponsel Slidable dengan Layar Geser
Selain pengembangan Galaxy Z TriFold 2, Samsung juga dikabarkan tengah menguji konsep ponsel slidable. Berbeda dari ponsel dengan layar lipat, perangkat slidable mengandalkan layar geser manual tanpa mekanisme motorik. Ketika diluncurkan penuh, layar OLED dapat membesar hingga sekitar 7 inci, mengubah format ponsel menjadi semacam tablet kecil.
Pendekatan layar geser ini menawarkan alternatif baru pada kategori perangkat fleksibel. Model slidable menghilangkan kebutuhan engsel lipat yang kompleks dan berpotensi meminimalkan bekas lipatan pada layar. Sistem sederhana dan manual ini juga diharapkan dapat menjaga bobot perangkat tetap ringan.
Strategi Samsung di Pasar Perangkat Layar Fleksibel
Samsung tampaknya menggunakan Galaxy Z TriFold generasi pertama sebagai ajang uji coba teknologi dan respons pasar. Penjualan yang terbatas dan penarikan cepat memberi ruang bagi perusahaan untuk mempelajari aspek teknis maupun selera konsumen. Pendekatan “proof-of-concept” ini biasa dilakukan oleh produsen besar dalam segmen premium.
Berdasarkan data bocoran:
- Galaxy Z TriFold dilepas dengan harga tinggi $2,899 dan penjualannya mulai menyusut.
- Pasar Korea Selatan menjadi yang pertama mengalami penurunan stok.
- Model penerus kini dalam tahap desain prototipe dengan fokus pada engsel dan dimensi.
- Samsung juga memperluas inovasi ke perangkat slidable dengan layar geser manual.
- Layar ponsel slidable dapat memperbesar hingga 7 inci, memberikan pengalaman lebih luas.
Dari langkah ini, terlihat bahwa Samsung masih percaya pada potensi kategori perangkat fleksibel meskipun menghadapi banyak tantangan desain dan teknis. Investasi pada engsel yang lebih efisien dan mekanisme alternatif seperti layar geser diharapkan dapat membuka peluang bagi format baru dalam lini Galaxy di masa depan.
Dengan beragam proyek tersebut, Samsung memperlihatkan keberlanjutan riset dan pengembangan pada teknologi layar lipat dan geser. Hal ini menjadi sinyal bahwa pasar ponsel premium cukup tertarik dengan inovasi bentuk perangkat yang dapat menyuguhkan layar lebih besar tanpa mengorbankan portabilitas. Selanjutnya, konsumen dan pengamat teknologi dapat menantikan bagaimana Samsung membawa inovasi ini ke tahap komersial yang lebih matang.







