Samsung dikabarkan masih mempertahankan Exynos 2500 untuk Galaxy S26 FE, sementara Galaxy S26 dan Galaxy S26+ disebut akan naik ke Exynos 2600. Jika informasi ini benar, selisih performa antarmodel dalam keluarga Galaxy S26 bisa terasa sangat jelas, terutama bagi pengguna yang peka pada kecepatan sistem, gaming, dan efisiensi daya.
Petunjuk awalnya muncul dari perangkat Samsung bernomor model SM-S741U yang terdaftar di Geekbench 6. Pola nomor model tersebut dinilai cocok dengan jejak lini FE sebelumnya, sehingga banyak pihak menduga perangkat itu merupakan Galaxy S26 FE yang sedang diuji internal.
Indikasi awal dari Geekbench
Pengujian di Geekbench 6 memang menunjukkan chipset Exynos 2500 di perangkat tersebut. Namun, hasil ini belum tentu mewakili performa akhir karena unit uji kemungkinan masih berupa engineering sample dan belum menjalankan optimasi penuh.
Dalam konteks itu, performa versi ritel kemungkinan akan lebih baik dari hasil awal. Meski begitu, bila Galaxy S26 FE benar memakai Exynos 2500, maka posisinya tetap berada satu tingkat di bawah Galaxy S26 yang sudah mengandalkan Exynos 2600.
Perbedaan generasi chipset ini menjadi sorotan karena seri FE biasanya dipasarkan sebagai alternatif yang lebih terjangkau, bukan sebagai model dengan jarak performa yang terlalu lebar. Di atas kertas, keputusan Samsung bisa dipahami sebagai langkah efisiensi biaya, tetapi dari sisi pengalaman pakai, selisihnya berpotensi terasa di banyak skenario harian.
Selisih performa yang tidak kecil
Data benchmark yang beredar menunjukkan jarak yang cukup tegas antara Exynos 2500 dan Exynos 2600. Pada Geekbench 6 single-core, Exynos 2500 mencatat 2522 poin, sedangkan Exynos 2600 mencapai 3455 poin.
Untuk multi-core, Exynos 2500 berada di angka 9015 poin, sementara Exynos 2600 menembus 11621 poin. Sementara itu, pada pengujian grafis 3DMark Steel Nomad Light, Exynos 2500 meraih 2231 poin dan Exynos 2600 membukukan 3108 poin.
Berikut ringkasannya:
- Single-core: Exynos 2600 unggul sekitar 37 persen.
- Multi-core: Exynos 2600 unggul sekitar 29 persen.
- Grafis 3DMark: Exynos 2600 unggul sekitar 43 persen.
Angka tersebut tergolong besar untuk sebuah ponsel yang masih berada di ekosistem flagship Samsung. Dalam penggunaan nyata, selisih itu bisa memengaruhi respons antarmuka, kemampuan multitasking, proses edit foto, serta performa gaming saat beban kerja tinggi.
Dampak bagi pengalaman pengguna
Performa bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Artikel referensi juga menyoroti aspek konsumsi daya, yang menjadi penting karena lini FE biasanya ditujukan bagi pengguna yang ingin rasa flagship tanpa harus membayar setinggi model utama.
Jika Exynos 2500 ternyata lebih boros daripada Exynos 2600, maka komprominya terasa berlipat. Pengguna tidak hanya menerima performa yang lebih rendah, tetapi juga berpotensi mendapat efisiensi baterai yang kurang menarik dalam pemakaian harian.
Kondisi ini relevan karena pasar ponsel premium sekarang makin sensitif terhadap kombinasi kecepatan dan daya tahan. Banyak pembeli flagship tidak lagi hanya melihat spesifikasi kamera atau desain, tetapi juga seberapa mulus perangkat berjalan setelah dipakai lama dan seberapa stabil suhu saat dipaksa bekerja berat.
Strategi hemat biaya yang berisiko
Dari sisi bisnis, penggunaan Exynos 2500 bisa dipandang sebagai cara Samsung menjaga biaya produksi Galaxy S26 FE tetap terkendali. Strategi seperti ini lazim di industri ponsel, terutama ketika produsen ingin mempertahankan margin tanpa memangkas elemen premium lain seperti layar, kamera, atau material bodi.
Namun, keputusan ini juga membawa risiko persepsi. Nama FE tetap membawa ekspektasi tinggi, sehingga konsumen akan langsung membandingkannya dengan Galaxy S26 yang sudah memakai Exynos 2600.
Perbandingan harga generasi sebelumnya menunjukkan bahwa seri FE memang dihadirkan sebagai opsi yang lebih murah. Di pasar AS, Galaxy S23 dibanderol $799 dan Galaxy S23 FE hadir di $599, sementara Galaxy S24 dan Galaxy S25 sama-sama berada di $799 dan model FE-nya di $649.
Di India, pola serupa juga terlihat. Galaxy S23 dan Galaxy S24 diluncurkan di ₹79,999, Galaxy S25 di ₹79,999, sedangkan Galaxy S23 FE dan Galaxy S25 FE sama-sama di ₹59,999. Galaxy S26 sendiri disebut berada di $899 atau ₹87,999.
Posisi harga akan menentukan nilai Galaxy S26 FE
Jika Galaxy S26 FE benar memakai chipset yang lebih lama, maka harga akan menjadi faktor penentu utama. Artikel referensi menyebut Samsung idealnya menjaga selisih minimal $180 di bawah Galaxy S26 untuk pasar AS, agar kompromi performa dan efisiensi masih terasa masuk akal.
Untuk pasar India, selisih yang dianggap layak disebut sekitar ₹25,000 lebih rendah dari model standar. Tanpa jarak harga seperti itu, Galaxy S26 FE akan sulit menjelaskan kenapa konsumen harus menerima performa yang lebih rendah sementara model reguler sudah mendapat chipset yang lebih baru.
Karena itu, nasib Galaxy S26 FE kini sangat bergantung pada eksekusi Samsung saat peluncuran nanti. Bila perusahaan berhasil menjaga harga tetap kompetitif, perangkat ini masih bisa menarik bagi pengguna yang lebih mengutamakan ekosistem Galaxy, pengalaman flagship, dan nilai beli keseluruhan daripada skor benchmark tertinggi.





