Samsung resmi menghadirkan dua smartphone kelas menengah terbarunya, Galaxy A37 dan Galaxy A57, lewat peluncuran global pada 5 Maret. Kehadiran keduanya langsung menyita perhatian karena Samsung tetap mempertahankan desain yang familier, tetapi memberi peningkatan di sisi material, performa, kamera, daya tahan, dan dukungan perangkat lunak yang panjang.
Bagi pasar mid-range, dua perangkat ini menjadi penting karena Samsung tidak hanya mengandalkan nama besar, tetapi juga menawarkan paket fitur yang terasa lebih matang untuk penggunaan harian. Galaxy A57 tampil sebagai model yang lebih premium, sementara Galaxy A37 dibidik sebagai opsi yang lebih terjangkau namun tetap membawa sejumlah fitur utama yang sama.
Desain serupa, A57 terasa lebih mewah
Samsung masih memakai pendekatan desain yang mirip di kedua ponsel ini, sehingga pengguna lama Galaxy A akan langsung merasa familiar. Meski begitu, ada perbedaan material yang membuat Galaxy A57 berada satu tingkat di atas Galaxy A37.
Galaxy A57 memakai bingkai aluminium, sedangkan Galaxy A37 masih mengandalkan bingkai plastik. Keduanya sama-sama membawa layar Super AMOLED+ 6,7 inci dengan resolusi Full HD+, refresh rate 120Hz, dan tingkat kecerahan puncak 1.900 nit.
Dari sisi tampilan, bezel Galaxy A57 dibuat lebih tipis sehingga memberi kesan lebih modern. Selain itu, dimensi Galaxy A57 juga lebih ringkas dengan ukuran 161,5 x 76,8 x 6,9 mm dan bobot 179 gram, sementara Galaxy A37 memiliki ukuran 162,9 x 78,2 x 7,4 mm dengan berat 196 gram.
Kamera ultrawide 12MP jadi nilai tambah utama A57
Di sektor kamera, Samsung memberi konfigurasi yang hampir serupa pada kedua model. Keduanya sama-sama memakai kamera depan 12MP f/2.2 yang ditempatkan di punch hole, lalu dipadukan dengan tiga kamera belakang dalam modul berbentuk kapsul.
Komposisi kamera belakangnya terdiri dari kamera utama 50MP f/1.8 dengan OIS, kamera makro 5MP f/2.4, dan kamera ultrawide. Pembeda paling penting ada pada kamera ultrawide, karena Galaxy A37 menggunakan sensor 8MP f/2.2, sementara Galaxy A57 membawa sensor 12MP f/2.2.
Peningkatan ini membuat Galaxy A57 lebih menarik untuk pengguna yang sering memotret pemandangan, foto rombongan, atau konten dengan sudut pandang lebih luas. Dalam praktiknya, kamera ultrawide yang lebih besar umumnya membantu menjaga detail dan fleksibilitas pemotretan, terutama saat kondisi cahaya tidak selalu ideal.
Exynos 1680 dorong performa Galaxy A57
Samsung membekali kedua ponsel ini dengan chipset buatan sendiri. Galaxy A37 menggunakan Exynos 1480 dengan clock speed 2,75GHz, sedangkan Galaxy A57 memakai Exynos 1680 dengan clock speed 2,9GHz.
Untuk pengguna yang mengejar performa lebih tinggi, Galaxy A57 jelas punya ruang lebih besar. Nama Exynos 1680 juga menjadi sorotan karena Samsung menempatkannya sebagai otak utama untuk model yang lebih premium di lini ini.
Berikut opsi memori yang diumumkan Samsung:
| Model | Opsi memori |
|---|---|
| Galaxy A37 | 6/128GB, 8/128GB, 8/256GB, 12/256GB |
| Galaxy A57 | 8/128GB, 8/256GB, 12/256GB, 12/512GB |
Samsung menegaskan bahwa ketersediaan varian bisa berbeda di tiap negara. Artinya, tidak semua pasar akan menerima seluruh opsi memori yang diumumkan secara global.
Baterai 5.000 mAh dan fast charging 45W tetap dipertahankan
Kedua perangkat sama-sama mengusung baterai 5.000 mAh. Kapasitas ini masih tergolong aman untuk kebutuhan harian, mulai dari komunikasi, media sosial, hingga konsumsi konten yang cukup intens.
Untuk pengisian daya, Samsung tetap mempertahankan fast charging 45W melalui USB Type-C. Dukungan ini sejalan dengan Galaxy A36 dan Galaxy A56 yang lebih dulu hadir sebagai seri awal Galaxy A dengan pengisian cepat 45W.
Samsung belum menyematkan pengisian daya nirkabel pada dua model ini. Dengan begitu, fokus utama tetap pada efisiensi baterai, kecepatan isi ulang kabel, dan kestabilan penggunaan harian.
One UI 8.5, Android 16, dan jaminan update panjang
Salah satu daya tarik terbesar Galaxy A37 dan Galaxy A57 ada pada sisi perangkat lunak. Keduanya langsung menjalankan One UI 8.5 berbasis Android 16 saat dirilis.
Samsung juga memberi jaminan 6 tahun software update dan 6 tahun security update. Dengan kebijakan ini, perangkat berpeluang terus menerima pembaruan hingga Android 22 dan perlindungan keamanan sampai 2032.
Dukungan software panjang menjadi faktor penting bagi banyak pembeli di kelas menengah. Selain menjaga keamanan, kebijakan ini juga membantu ponsel tetap relevan lebih lama dibanding perangkat yang dukungan pembaruannya pendek.
IP68 dan warna yang disiapkan untuk pasar global
Samsung turut meningkatkan ketahanan kedua model dengan sertifikasi IP68. Status ini memberi perlindungan terhadap debu dan air dalam batas tertentu, sehingga perangkat lebih aman saat dipakai untuk aktivitas harian.
Fitur lain yang disiapkan mencakup speaker stereo, pemindai sidik jari di dalam layar, dan Samsung Knox. Untuk pilihan warna, Galaxy A37 hadir dalam awesome lavender, awesome charcoal, awesome graygreen, serta awesome white.
Sementara itu, Galaxy A57 tersedia dalam awesome navy, awesome gray, awesome icyblue, dan awesome lilac. Samsung menyebut kedua model akan tersedia mulai 10 April di beberapa negara dan kemudian menyusul ke pasar lain, termasuk Indonesia.
Dari kombinasi desain yang tetap familiar, layar 120Hz, kamera utama 50MP, baterai 5.000 mAh, dan jaminan update panjang, Galaxy A37 dan Galaxy A57 diposisikan untuk menjangkau pengguna yang mencari smartphone mid-range dengan keseimbangan fitur dan umur pakai yang lebih panjang, sementara Galaxy A57 menonjol berkat Exynos 1680, bodi aluminium, dan kamera ultrawide 12MP yang menjadi pembeda utamanya.





