Dyson akhirnya masuk lebih serius ke pasar robot vacuum premium lewat Spot+Scrub AI. Model ini langsung menonjol karena menawarkan dock tanpa kantong debu, AI untuk mengenali rintangan, dan sistem pel yang berbeda dari banyak pesaingnya.
Dalam pengujian yang dilaporkan tekno.kompas.com, robot ini disebut sebagai robot vacuum Dyson terbaik yang pernah dibuat. Itu membuat Spot+Scrub AI bukan sekadar penerus 360 Vis Nav, tetapi juga penanda bahwa Dyson mulai mengejar ketertinggalan di segmen yang sangat padat.
Dock tanpa kantong, pembeda paling mencolok
Salah satu sorotan terbesar dari Dyson Spot+Scrub AI ada pada docking station yang tidak memakai kantong debu sekali pakai. Dyson tetap mengandalkan teknologi siklon khas mereka, sehingga debu dipisahkan dengan gaya sentrifugal dan pengguna tidak perlu membeli kantong pengganti.
Konsep ini menjadi nilai jual penting karena banyak robot vacuum premium lain masih bergantung pada kantong sekali pakai. Dalam pengujian hampir dua minggu di kantor, sistem tersebut dinilai mampu menangani debu dengan baik tanpa mengalami penyumbatan.
| Aspek | Dyson Spot+Scrub AI | Catatan |
|---|---|---|
| Dock | Tanpa kantong debu | Memakai teknologi siklon |
| Pengosongan debu | Auto-empty dock | Debu dipisahkan dengan gaya sentrifugal |
| Perawatan | Tidak perlu kantong pengganti | Mengurangi biaya konsumsi rutin |
AI lebih pintar membaca lantai
Dyson juga meningkatkan kemampuan AI pada robot terbarunya. Spot+Scrub AI menggunakan kamera dan pencahayaan LED hijau untuk mengenali objek di lantai, lalu menganalisisnya langsung di perangkat atau on-device.
Dalam pengujian, robot ini berhasil menghindari berbagai rintangan seperti kabel, mainan anak, dan benda kecil lain di depannya. Pendekatan ini membuat robot tidak bergantung pada komputasi cloud, meski detail teknis yang lebih jauh tidak dijelaskan.
Sistem pelnya beda dari kebanyakan robot vacuum
Berbeda dari robot vacuum yang memakai dua pel berbentuk cakram, Dyson memilih roller mop untuk Spot+Scrub AI. Roller ini terus dibersihkan dengan air panas sekitar 60 derajat Celsius, lalu dikeringkan dengan udara hangat sekitar 45 derajat Celsius saat robot kembali ke docking station.
Dyson juga merancang roller agar dapat menjangkau lebih dekat ke dinding dibanding sistem pel konvensional. Selain itu, roller bisa terangkat sekitar 10 milimeter saat melewati karpet untuk mengurangi risiko permukaan karpet menjadi basah.
Daya jelajah cukup jauh, tapi bodinya tinggi
Soal efisiensi, Spot+Scrub AI disebut mampu membersihkan area sekitar 70 meter persegi dalam sekali pengisian daya. Jika dibandingkan dengan spesifikasi yang beredar di internet, kapasitas dayanya disebut dua kali lipat Dyson 360 Vis Nav.
Namun ada kompromi yang perlu diperhatikan. Dengan bodi setinggi sekitar 10 cm, robot ini sulit masuk ke bawah sebagian furnitur rendah.
Lewat aplikasi Dyson, pengguna bisa membuat peta ruangan, membagi area ke beberapa zona, menjadwalkan pembersihan, memilih mode penyedotan dan pel, serta menetapkan no-go zone. Aplikasi juga menampilkan posisi robot secara real-time, riwayat pembersihan, status baterai, dan notifikasi saat tangki air perlu diisi, air kotor dikosongkan, atau roller mop perlu dirawat.
Layak dibeli, tapi bukan untuk semua orang
Dyson Spot+Scrub AI dipasarkan di Indonesia dengan harga Rp 18,8 juta. Di kelas harga ini, persaingan datang dari Dreame, Ecovacs, dan Eufy yang juga menawarkan daya isap tinggi serta sistem pel otomatis.
Karena itu, perangkat ini lebih cocok untuk pengguna yang mencari inovasi khas Dyson, terutama dock tanpa kantong debu berbasis teknologi siklon dan AI untuk mendeteksi noda secara otomatis. Bagi pembeli yang lebih mengejar rasio harga dan performa, opsi dari merek pesaing masih terlihat lebih kompetitif di segmen premium.
Source: tekno.kompas.com






