Telkom membawa sejumlah bekal strategis dari Mobile World Congress di Barcelona untuk memperkuat arah pengembangan bisnis perseroan. Fokus yang dibawa pulang tidak hanya kerja sama baru, tetapi juga peta teknologi yang dinilai penting untuk infrastruktur digital, AI, pusat data, hingga konektivitas masa depan.
Langkah itu terlihat dari serangkaian kolaborasi yang diumumkan Telkom Group selama ajang industri telekomunikasi global tersebut. Dari infrastruktur digital sampai internet berbasis stratosfer, forum di Barcelona dipakai Telkom untuk mencari mitra, membaca tren, dan menyiapkan pijakan bisnis jangka menengah.
MWC jadi arena baca arah industri
Director Strategy Business Development and Portofolio Telkom, Seno Soemadji, menyebut MWC sebagai ajang yang sangat penting bagi perusahaan. Menurut dia, forum itu memperlihatkan teknologi terbaru langsung dari para pengembang, pemilik paten, dan pelaku riset yang mendorong kemajuan industri.
Seno menilai sektor telekomunikasi merupakan industri yang padat teknologi. Karena itu, Telkom memanfaatkan MWC untuk memantau perkembangan teknologi, mencari tolok ukur, dan membandingkan langkah internal perusahaan dengan dinamika global.
Ia juga menekankan bahwa forum seperti MWC bukan hanya tempat melihat produk baru. Kegiatan ini dipandang sebagai ruang diskusi yang membantu pelaku industri memahami bagaimana adopsi teknologi bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi Telkom, nilai penting lain dari MWC terletak pada jaringan relasi bisnis. Seno mengatakan lanskap industri saat ini makin menegaskan bahwa persaingan murni tidak lagi dominan, karena pelaku usaha justru saling melengkapi melalui kolaborasi.
Pernyataan itu sejalan dengan tren industri telekomunikasi global yang kini bergerak ke model kemitraan lintas sektor. Operator tidak lagi hanya menjual konektivitas, tetapi juga masuk ke layanan cloud, AI, keamanan digital, data center, dan solusi enterprise.
Deretan amunisi yang dibawa dari Barcelona
Telkom Group meresmikan beberapa kolaborasi penting di MWC. Kesepakatan ini menunjukkan area bisnis yang menjadi perhatian utama perusahaan dalam beberapa waktu ke depan.
Berikut kerja sama yang diumumkan dari Barcelona:
- Telkom dan Huawei menjalin kerja sama infrastruktur digital dan pengembangan AI.
- PT Mitratel dan AALTO HAPS menandatangani MoU untuk pengembangan internet dari stratosfer serta infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.
- NeutraDC dan F5 menandatangani MoU untuk kolaborasi AI Connectivity.
- Telkomsel bersama Huawei meraih GLOMO Awards kategori Best Mobile Operator Service for Connected Consumers.
Rangkaian kerja sama itu memberi sinyal yang cukup jelas. Telkom tidak hanya melihat pertumbuhan dari bisnis konektivitas konvensional, tetapi juga dari ekosistem digital yang lebih luas dan bernilai tambah tinggi.
Kolaborasi dengan Huawei, misalnya, memperlihatkan perhatian pada penguatan fondasi jaringan dan pemanfaatan AI. Di tengah percepatan transformasi digital, kemampuan infrastruktur dan pemrosesan data makin menjadi faktor yang menentukan daya saing operator.
Sementara itu, kerja sama Mitratel dengan AALTO HAPS mengarah pada pengembangan konektivitas dari lapisan stratosfer. Teknologi ini relevan untuk memperluas jangkauan internet ke wilayah yang sulit dilayani jaringan terestrial secara efisien.
Di sisi lain, MoU antara NeutraDC dan F5 menegaskan pentingnya konektivitas untuk beban kerja AI. Kebutuhan AI tidak hanya soal komputasi, tetapi juga soal jalur data yang cepat, aman, dan stabil antara pengguna, aplikasi, dan pusat data.
Fokus pada 5G, 6G, IoT, dan data center AI
Dari hasil pengamatan Telkom di MWC, Seno menilai perusahaan perlu menyiapkan infrastruktur digital lebih matang. Ia menyebut penguatan 5G untuk internet of things, kesiapan menyambut 6G, serta pengembangan data center untuk AI sebagai area yang perlu diantisipasi.
Arah ini sejalan dengan kebutuhan industri global yang makin bergantung pada konektivitas berlatensi rendah dan kapasitas besar. IoT untuk manufaktur, logistik, transportasi, energi, hingga kota pintar membutuhkan jaringan yang andal serta dukungan analitik data secara real time.
Persiapan menuju 6G juga menjadi bagian dari pembacaan jangka panjang. Meski komersialisasinya belum dekat, diskusi mengenai 6G sudah berkembang di level global karena teknologi ini diproyeksikan membawa lompatan pada kecepatan, efisiensi, dan integrasi AI dalam jaringan.
Seno juga menyinggung perkembangan AI yang bergerak sangat cepat, mulai dari AI generatif hingga agentic AI. Menurut dia, industri bahkan segera berbicara lebih jauh mengenai AGI atau Artificial General Intelligence.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Telkom melihat AI bukan sekadar tren sesaat. AI diposisikan sebagai elemen yang akan memengaruhi model bisnis, kebutuhan komputasi, arsitektur data center, dan layanan digital yang dapat ditawarkan ke pelanggan korporasi maupun konsumen.
Mengapa hasil dari Barcelona penting bagi Telkom
Amunisi yang dibawa dari Barcelona penting karena bisnis telekomunikasi tengah mengalami perluasan peran. Operator kini dituntut menjadi enabler ekonomi digital, bukan hanya penyedia jaringan.
Dalam konteks itu, kerja sama lintas teknologi memberi peluang bagi Telkom untuk memperkuat portofolio bisnis. Potensinya mencakup penyediaan kapasitas data center, solusi enterprise berbasis AI, perluasan cakupan konektivitas, hingga monetisasi layanan digital baru.
Forum seperti MWC juga memberi ruang bagi Telkom untuk belajar langsung dari pemain global. Bagi perusahaan nasional, kemampuan membaca benchmark internasional menjadi krusial agar investasi teknologi tetap relevan dengan perubahan pasar.
Jaringan relasi dari ajang tersebut juga berpotensi membuka kerja sama lanjutan di luar yang sudah diumumkan. Di industri yang makin kompleks, akses ke mitra teknologi, vendor, dan pengembang solusi menjadi modal penting untuk mempercepat pengembangan bisnis.
Dari Barcelona, Telkom membawa lebih dari sekadar nota kesepahaman dan penghargaan. Yang ikut dibawa pulang adalah pembacaan arah industri telekomunikasi dan digital, yakni bahwa pertumbuhan ke depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan menangkap peluang di 5G, AI, konektivitas baru, dan pusat data.
