Booming AI Mengguncang Ponsel Murah China, Harga Miring Mulai Runtuh

Author: Qoo Media

Lonjakan kebutuhan chip untuk kecerdasan buatan mulai mengubah peta persaingan ponsel murah asal China. Harga komponen inti naik cepat, sementara produsen tetap dituntut menjaga banderol serendah mungkin agar tetap kompetitif di pasar global.

Tekanan itu membuat model bisnis yang selama ini bertumpu pada volume besar dan margin tipis kini makin rapuh. Jika biaya memori dan pasokan chip terus memburuk, segmen ponsel murah berisiko menyusut lebih cepat dari perkiraan.

AI menyedot pasokan chip memori

Ledakan pusat data AI mendorong permintaan chip memori berkecepatan tinggi atau HBM semakin tinggi. Oleh karena itu, produsen besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mengalihkan kapasitas produksi dari memori konvensional ke segmen yang lebih menguntungkan.

Peralihan itu berdampak langsung pada perangkat konsumen seperti ponsel pintar dan laptop. TrendForce mencatat harga DRAM naik 90-95 persen hanya dalam satu kuartal, sedangkan harga NAND flash naik 55-60 persen pada periode yang sama.

Kenaikan tersebut terbaca jelas di rantai pasok. Saat memori untuk AI menyerap kapasitas produksi, ketersediaan chip untuk ponsel murah menipis dan harga komponennya ikut terkerek.

Harga ponsel murah mulai sulit dipertahankan

Dampak biaya tinggi mulai terlihat di pasar ponsel kelas menengah China. Beberapa model terbaru dilaporkan harus dijual lebih mahal sekitar 100 hingga 600 yuan, atau naik sekitar 20 persen, demi menutup ongkos produksi yang membengkak.

Kondisi itu menjadi pukulan bagi merek seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor yang selama ini agresif menekan harga untuk menjaga volume penjualan. Strategi harga rendah masih penting, tetapi ruang untuk menyerap kenaikan biaya kini jauh lebih sempit.

Berikut gambaran tekanan yang paling terasa di industri:

Faktor tekanan Dampak utama
Lonjakan harga DRAM Biaya produksi ponsel naik
Naiknya harga NAND flash Memori internal makin mahal
Pengalihan produksi ke AI Pasokan chip untuk ponsel menipis
Margin pabrikan yang tipis Kenaikan biaya sulit diserap

Pabrikan kecil menghadapi risiko terbesar

Perusahaan skala kecil berada dalam posisi paling rentan karena tidak memiliki kontrak pasokan harga tetap seperti pemain besar. Akibatnya, harga DRAM bisa berubah dalam hitungan jam, sementara mereka harus berebut stok yang makin mahal.

Ratusan ribu produsen ponsel kelas menengah ke bawah kini menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni biaya komponen yang naik dan pasokan yang tidak pasti. Situasi itu bisa mengganggu jadwal produksi, memperlambat peluncuran produk baru, dan memaksa mereka mengubah spesifikasi.

Dalam kondisi seperti ini, produsen kecil biasanya paling cepat kehilangan daya saing. Mereka tidak punya ruang besar untuk memberi diskon, tetapi juga tidak bisa terus menaikkan harga tanpa kehilangan pembeli.

Tanda pergeseran terlihat di ajang industri

Gejala tekanan pasar mulai tampak dalam pameran teknologi besar seperti Mobile World Congress di Barcelona. Sejumlah vendor tetap memamerkan perangkat baru, tetapi banyak yang belum berani memastikan harga final karena biaya komponen masih bergerak naik-turun.

Xiaomi menjadi salah satu contoh yang paling disorot, setelah mengumumkan ponsel seri terbarunya seharga 999 euro. Namun analis menilai harga itu masih bisa berubah saat produk benar-benar masuk pasar, terutama jika harga chip memori belum stabil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penetapan harga ponsel kini tidak lagi semudah sebelumnya. Produsen harus menghitung ulang biaya dengan jauh lebih hati-hati sebelum produk diluncurkan ke toko.

Geopolitik menambah ketidakpastian

Selain tekanan biaya, industri chip juga terdampak faktor geopolitik. Perebutan kendali terhadap Nexperia memperlihatkan bagaimana alasan keamanan nasional bisa memicu pembatasan ekspor dan mengganggu rantai pasok global.

Pemerintah Belanda mengambil alih kendali Nexperia, pemasok chip komponen otomotif penting, dengan alasan keamanan nasional karena perusahaan tersebut dimiliki Wingtech asal China. Langkah seperti ini mempertegas bahwa rantai pasok semikonduktor kini tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh pertimbangan politik dan keamanan.

Ketidakpastian itu membuat produsen ponsel semakin sulit menyusun strategi jangka menengah. Mereka harus bersiap menghadapi perubahan pasokan, perubahan harga, dan kemungkinan keterlambatan produksi secara bersamaan.

Dampak ke pasar ponsel murah makin nyata

Sejumlah merek sudah mulai mengambil langkah defensif untuk menahan tekanan. Meizu dilaporkan menghentikan pengembangan perangkat baru dan menarik seluruh ponselnya dari toko online, sebuah sinyal bahwa pasar murah sedang memasuki fase yang lebih berat.

Berikut sejumlah tanda perubahan yang kini muncul di industri:

  1. Harga komponen utama naik cepat dan sulit diprediksi.
  2. Produsen ponsel harus menaikkan harga jual di beberapa model.
  3. Merek kecil kesulitan mengamankan pasokan chip.
  4. Peluncuran produk baru menjadi lebih berisiko.
  5. AI menyerap kapasitas produksi yang sebelumnya bisa menopang pasar konsumen.

IDC menyebut kondisi ini sebagai “structural reset”, yakni perubahan mendasar dalam struktur industri ponsel pintar. Di tengah lonjakan kebutuhan chip untuk AI, segmen ponsel murah yang selama ini menjadi pintu masuk miliaran orang ke internet kini memasuki fase yang jauh lebih sulit untuk dipertahankan.

Terbaru