Serangan militer Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz kembali menyorot salah satu titik paling sensitif dalam peta energi dan keamanan global. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan pasukannya menjatuhkan amunisi penembus bunker ke situs rudal bawah tanah Iran yang berada di sepanjang pesisir dekat jalur pelayaran strategis tersebut.
Operasi ini menjadi perhatian karena dilakukan saat arus pelayaran di kawasan Teluk Persia terganggu. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi di kawasan itu segera memicu kekhawatiran pasar energi, pelayaran internasional, dan keamanan regional.
Serangan ke fasilitas bawah tanah Iran
Dalam pernyataan resmi di platform X, CENTCOM mengatakan pasukan AS mengerahkan “sejumlah amunisi penembus dalam seberat 5.000 pon” ke situs-situs rudal Iran yang diperkuat. Menurut militer AS, target itu berada di garis pantai Iran dekat Selat Hormuz dan dinilai berisiko bagi pelayaran internasional.
CENTCOM menyebut situs tersebut menyimpan rudal jelajah anti-kapal Iran. Jenis rudal ini dipandang mampu mengancam kapal niaga maupun kapal militer yang melintas di salah satu choke point maritim terpenting di dunia.
Seorang pejabat AS, seperti dikutip CNN dalam laporan yang dirujuk artikel referensi, mengatakan amunisi yang digunakan adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator. Bom ini dikenal sebagai senjata khusus untuk menghantam target yang diperkuat dan terkubur di bawah tanah.
Apa itu GBU-72 penghancur bunker
GBU-72 Advanced 5K Penetrator merupakan bom penembus bunker generasi lebih baru yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah. Bobotnya sekitar 5.000 pon atau kurang lebih 2.200 kilogram, sesuai data yang disebut dalam artikel referensi.
Menurut keterangan Angkatan Udara AS yang pernah dipublikasikan sebelumnya, senjata ini dikembangkan untuk menghadapi target yang diperkokoh dan tertanam dalam. Amunisi ini juga dirancang agar dapat dibawa oleh pesawat tempur maupun pesawat pengebom.
Hingga kini, Angkatan Udara AS pernah menyebut hanya dua platform yang disetujui untuk menggunakan GBU-72/B. Keduanya adalah pembom B-1B Lancer dan jet tempur F-15E Strike Eagle.
Bom ini pertama kali dilaporkan dijatuhkan oleh pesawat AS pada periode sebelumnya. Kehadirannya menandai fokus baru militer AS terhadap ancaman bunker, fasilitas komando bawah tanah, dan lokasi peluncuran rudal yang sulit dihancurkan oleh bom konvensional biasa.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Jalur ini menjadi lintasan penting bagi ekspor minyak mentah dan gas dari negara-negara produsen utama di kawasan.
Dalam artikel referensi disebutkan bahwa gangguan di Selat Hormuz sempat menghentikan 27% pasokan energi maritim global. Data itu menggambarkan betapa besarnya dampak kawasan ini terhadap rantai pasok energi internasional.
Ketika lalu lintas di selat terganggu, efeknya cepat terasa pada harga minyak global. Artikel referensi menyebut harga minyak sempat melonjak di atas USD 100 per barel setelah blokade dan ancaman keamanan meningkat.
Faktor yang memicu ketegangan terbaru
Menurut artikel referensi, Iran menutup akses Selat Hormuz melalui blokade yang melibatkan ranjau laut, drone, dan kapal. Langkah itu disebut sebagai balasan atas serangan gabungan AS dan Israel.
Militer AS kemudian menilai ancaman terhadap kebebasan navigasi sudah berada pada level yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, target rudal anti-kapal di dekat pesisir Iran dipilih untuk dilemahkan lebih dulu.
Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, menyatakan AS akan terus bergerak cepat untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi. Pernyataan itu menunjukkan bahwa fokus operasi bukan hanya pada target darat, tetapi juga pada pembukaan kembali jalur laut yang aman.
Dampak langsung bagi pelayaran dan energi
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz hampir selalu berdampak pada tiga sektor utama. Dampak tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
- Pelayaran komersial menghadapi risiko serangan rudal, ranjau, dan drone.
- Pasokan energi global terganggu karena kapal tanker menunda atau mengubah rute.
- Harga minyak naik akibat kekhawatiran pasar terhadap gangguan suplai.
Bagi negara importir energi, situasi ini berarti kenaikan biaya logistik dan tekanan inflasi. Bagi pelaku pasar, setiap perkembangan militer di dekat selat menjadi indikator penting untuk membaca arah harga komoditas energi.
Respons politik dan dimensi internasional
Presiden Donald Trump, menurut artikel referensi, mengkritik sejumlah sekutu Eropa seperti Prancis dan Inggris. Kritik itu diarahkan pada sikap mereka yang dinilai tidak membantu membuka kembali jalur air yang krusial tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa krisis di Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu militer, tetapi juga ujian koordinasi antarnegara Barat. Di sisi lain, negara-negara Teluk, perusahaan pelayaran, dan importir minyak besar juga berkepentingan menjaga agar eskalasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Secara militer, penggunaan GBU-72 mengirimkan sinyal bahwa AS memilih kemampuan serangan presisi terhadap target keras dan bawah tanah. Secara strategis, operasi itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap kapal di Selat Hormuz dipandang setara dengan ancaman terhadap stabilitas energi dunia.
Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan yang sulit dipisahkan dari rivalitas AS-Iran. Selama rudal anti-kapal, ranjau laut, dan aset asimetris lain masih berada di sekitar pesisir Iran, jalur ini akan terus menjadi pusat perhatian militer, diplomatik, dan pasar energi global.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: inet.detik.com