Bagi pencinta konser, merekam momen idola di atas panggung sudah menjadi bagian penting dari pengalaman menonton. Masalahnya, kondisi konser sering tidak ramah untuk kamera ponsel karena cahaya minim, jarak pandang jauh, dan gerakan panggung yang cepat.
Kebutuhan itu kini dijawab lewat kelas belajar konten konser bertajuk “Creator Lab: Concert Mode with Galaxy S26 Ultra”. Kelas ini dihadirkan KompasTekno bersama Samsung untuk membantu penonton menghasilkan foto, video, dan fancam yang lebih rapi serta layak unggah ke media sosial.
Kelas belajar konten konser untuk penonton yang ingin hasil lebih maksimal
Berdasarkan informasi dari KompasTekno, kelas ini dirancang dari pengalaman liputan langsung di berbagai konser sepanjang beberapa tahun terakhir. Materi disusun dari situasi nyata di lapangan, bukan sekadar teori umum fotografi ponsel.
Sejumlah konser yang menjadi rujukan pengalaman tersebut antara lain Seventeen dan Bruno Mars di Rajamangala Stadium Bangkok, Taylor Swift dan Coldplay di Singapore National Stadium, Maroon 5 di Jakarta International Stadium, G-Dragon dan J-Hope BTS di Indonesia Arena, serta Blackpink World Tour di Stadion Gelora Bung Karno. Pengalaman itu menjadi dasar pembahasan tentang tantangan memotret di venue besar, baik indoor maupun outdoor.
Di konser, penonton biasanya menghadapi tiga hambatan utama. Hambatan itu meliputi pencahayaan rendah, subjek yang bergerak cepat, dan hasil gambar yang menurun saat melakukan zoom dari tribun atau area penonton yang jauh.
KompasTekno menyebut kelas ini akan membahas cara memanfaatkan fitur kamera ponsel agar hasil konten lebih optimal. Fokusnya tidak hanya pada foto, tetapi juga pada perekaman video dan fancam yang stabil serta tetap detail.
Mengapa kelas ini relevan untuk pemburu fancam
Fenomena fancam makin kuat seiring budaya konser yang tumbuh di kota-kota besar Asia, termasuk Jakarta. Banyak penonton kini tidak sekadar mendokumentasikan acara untuk arsip pribadi, tetapi juga membuat konten singkat untuk TikTok, Instagram Reels, X, dan platform video lainnya.
Di tengah tren itu, kualitas visual menjadi pembeda. Konten dengan framing rapi, eksposur tepat, dan zoom yang masih tajam cenderung lebih mudah menarik perhatian pengguna lain di media sosial.
Kelas seperti ini menjadi relevan karena tidak semua penonton memahami teknik dasar pengambilan gambar di situasi ekstrem. Padahal, ponsel kelas atas sekalipun tetap membutuhkan pengaturan dan cara pakai yang tepat agar hasilnya tidak blur, pecah, atau terlalu gelap.
Perangkat yang dibahas dan peningkatan kameranya
Dalam artikel referensi, KompasTekno menyebut pihaknya selama ini kerap memakai Samsung Galaxy S24 series dan Galaxy S25 series sebagai “HP konser”. Alasannya, lini tersebut dinilai cocok untuk kebutuhan pemotretan di kondisi konser yang menantang.
Samsung juga disebut telah memperkenalkan Galaxy S26 Ultra sebagai generasi terbaru yang diarahkan untuk kebutuhan serupa. Perangkat ini membawa beberapa peningkatan pada sektor kamera dibanding generasi sebelumnya.
Berikut fitur yang disorot dalam kelas tersebut:
- Kamera utama 200 MP yang disebut lebih terang.
- Lensa telefoto ganda.
- Kemampuan zoom hingga 25x.
- Aperture rendah untuk membantu foto lebih cerah di kondisi minim cahaya.
Secara teknis, kombinasi resolusi tinggi, telefoto, dan bukaan yang mendukung cahaya rendah memang penting untuk konser. Fitur itu membantu pengguna menangkap ekspresi artis dari jarak jauh tanpa terlalu bergantung pada zoom digital ekstrem yang biasanya menurunkan kualitas gambar.
Namun, spesifikasi perangkat bukan satu-satunya faktor penentu hasil. Teknik memegang ponsel, memilih sudut, mengatur durasi rekaman, hingga memahami kapan harus memakai zoom juga sangat berpengaruh pada hasil akhir fancam.
Materi yang akan dipelajari peserta
KompasTekno menjelaskan sesi pembelajaran tidak berhenti pada pemaparan teori. Peserta juga akan mendapat ruang untuk bertanya dan praktik langsung membuat konten foto maupun video.
Format ini penting karena kebutuhan ngonten di konser sangat praktis. Penonton biasanya harus mengambil keputusan cepat dalam hitungan detik saat artis bergerak, pencahayaan berganti, atau momen favorit muncul di panggung.
Secara umum, peserta kemungkinan akan mendapat bekal dasar seperti berikut:
| Materi utama | Manfaat untuk penonton konser |
|---|---|
| Teknik foto di cahaya minim | Mengurangi risiko foto gelap atau noise berlebihan |
| Penggunaan zoom | Membantu menangkap subjek jauh dengan hasil lebih layak |
| Dasar videografi konser | Membuat fancam lebih stabil dan enak ditonton |
| Praktik langsung | Memberi gambaran kondisi nyata saat membuat konten |
| Sesi tanya jawab | Menjawab kendala teknis yang sering dialami pengguna |
Model kelas semacam ini juga sejalan dengan kebutuhan kreator pemula. Banyak pengguna ponsel sebenarnya sudah memiliki perangkat memadai, tetapi belum memahami cara memaksimalkan mode kamera saat suasana panggung berubah cepat.
Jadwal, lokasi, dan biaya pendaftaran
Bagi yang ingin ikut, KompasTekno telah membagikan rincian kelas Creator Lab. Kuota peserta dibuat terbatas sehingga pendaftaran perlu dilakukan lebih awal.
Berikut informasi yang tersedia:
- Pendaftaran early bird: 24–29 Maret
- Tanggal acara: 7 April
- Waktu: 16.00—18.00 WIB
- Lokasi: Nako, Cipete
- Slot peserta: 30 orang
- Harga early bird: Rp 65.000
- Harga normal: Rp 120.000
Biaya pendaftaran tersebut sudah termasuk makan dan minum. Informasi lebih lanjut juga disebut bisa ditanyakan melalui direct message Instagram @teknokompas atau TikTok @kompastekno.
Dengan kuota hanya 30 peserta, kelas ini menyasar format yang lebih intim dan interaktif. Pendekatan itu memberi peluang lebih besar bagi peserta untuk berdiskusi langsung soal kendala yang sering muncul saat merekam konser, mulai dari pengaturan kamera sampai strategi membuat fancam yang tetap tajam dari jarak jauh.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di artikel sumber: tekno.kompas.com






