Apple dilaporkan mulai membuka pintu untuk Intel dan Samsung dalam produksi chip, sebuah langkah yang menandai upaya mengurangi ketergantungan pada TSMC. Isu ini penting karena chip A-series dan M-series menjadi inti pasokan untuk iPhone, iPad, Mac, dan perangkat Apple lain.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa Apple ingin punya ruang gerak lebih besar di tengah kebutuhan kapasitas manufaktur chip canggih yang semakin sensitif. Meski begitu, diversifikasi pemasok tidak otomatis mudah karena Apple tetap membutuhkan skala besar dan konsistensi produksi yang sangat ketat.
Bloomberg menyebut Apple sudah memasuki diskusi awal dengan Intel. Perusahaan itu juga disebut pernah mengunjungi fasilitas Samsung di Texas, Amerika Serikat, yang kelak akan memproduksi chip canggih.
Apple mulai menata ulang strategi chip
Arah ini muncul setelah Apple melakukan reorganisasi internal di divisi perangkat keras. Dalam penataan itu, tim engineering perangkat keras dan tim teknologi perangkat keras digabung di bawah Chief Hardware Officer Johny Srouji.
Tim hardware Apple kemudian dibagi ke dalam lima area utama. Salah satunya adalah Silicon yang dipimpin Sri Santhanam, dan pembagian ini memperlihatkan bahwa strategi chip kini mendapat fokus yang lebih terpusat.
Perubahan internal tersebut memperkuat sinyal bahwa Apple sedang memikirkan ulang rantai pasok chipnya. Di sisi lain, perusahaan tetap harus berhitung matang karena perubahan pemasok untuk chip kelas atas bukan perkara sederhana.
TSMC masih jadi pembanding utama
Bloomberg menyebut Intel dan Samsung belum mampu menawarkan jenis dan skala produksi yang setara dengan TSMC. Inilah hambatan utama bila Apple benar-benar ingin memindahkan sebagian produksi chip canggih ke mitra lain.
Kekhawatiran Apple tidak hanya soal kapasitas pabrik. Perusahaan itu juga disebut berhati-hati terhadap penggunaan teknologi non-TSMC, yang selama ini menjadi fondasi penting bagi kesuksesan Apple Silicon dan chip mobile Apple.
Karena itu, pembicaraan dengan Intel dan Samsung belum mengarah pada kepastian kerja sama. Bloomberg menilai Apple pada akhirnya bisa saja tetap mempertahankan pendekatan yang ada sekarang dan tidak mencari mitra tambahan.
Mengapa sekarang isu ini jadi lebih mendesak
Pembicaraan ini disebut sudah dimulai sebelum lonjakan permintaan memori untuk kebutuhan infrastruktur AI. Namun, tekanan pasar dalam beberapa bulan terakhir membuat kebutuhan diversifikasi pemasok terlihat semakin penting.
Bagi Apple, memiliki opsi produksi tambahan bisa memberi fleksibilitas lebih besar saat industri chip menghadapi tekanan kapasitas di banyak lini. Hal itu juga dapat membantu menjaga kesinambungan produksi perangkat utama jika terjadi gangguan atau keterbatasan di satu jalur pasokan.
Bagi Intel, peluang bekerja sama dengan Apple punya arti besar. Jika terealisasi, kerja sama itu dapat menjadi validasi penting bagi bisnis foundry yang masih baru di bawah CEI Lip-Bu Tan.
Hubungan Apple dan Intel sendiri bukan hal baru. Keduanya pernah bermitra sejak 2006, sebelum Apple beralih ke chip Apple Silicon buatannya sendiri.
Samsung ikut masuk radar
Samsung berada dalam posisi yang berbeda, tetapi tetap strategis bagi Apple. Selama ini Samsung sudah lama memasok display untuk iPhone, sehingga hubungan bisnis kedua perusahaan bukan sesuatu yang asing.
Jika Samsung bisa memperluas kerja sama ke produksi chip canggih, posisinya di pasar semikonduktor kelas atas akan mendapat dorongan besar. Apple dikenal sebagai pelanggan yang sangat menuntut dari sisi kualitas, volume, dan kestabilan produksi.
Kunjungan Apple ke fasilitas Samsung di Texas memperlihatkan bahwa opsi ini setidaknya sedang dipelajari serius. Meski belum ada komitmen resmi, langkah itu cukup untuk menunjukkan bahwa Apple sedang menilai lebih dari satu jalur produksi di luar TSMC.
Diskusi yang masih sangat awal membuat semua kemungkinan tetap terbuka. Apple bisa terus mengevaluasi Intel dan Samsung, atau pada akhirnya memutuskan bahwa TSMC tetap menjadi pilihan paling aman untuk chip-chip terpentingnya.
