7 Tips Bikin Konten Travel Pakai Smartphone, Tak Perlu Bawa Gear Berat Lagi

Konten travel tak lagi identik dengan tas penuh kamera, lensa, tripod, dan gimbal. Bagi kreator, smartphone kini dipandang cukup ringkas untuk merekam perjalanan sekaligus menjaga pengalaman traveling tetap menyenangkan.

Pandangan itu disampaikan travel content creator asal Indonesia, Andy Garcia, dalam workshop Galaxy S26 Ultra #YouandAICan di Hanoi, Vietnam. Ia menilai terlalu banyak gear justru membuat fokus bergeser dari menikmati perjalanan menjadi sibuk mengejar hasil gambar.

Kurangi gear agar perjalanan tetap nyaman

Andy menekankan bahwa membawa terlalu banyak alat membuat proses produksi konten jadi merepotkan. Perlengkapan tambahan memakan ruang di tas atau koper, sekaligus menuntut perhatian ekstra untuk daya dan keamanan.

Menurut dia, pengalaman traveling bisa terasa kurang utuh saat perhatian terus tersedot ke urusan teknis. Karena itu, ia mendorong penggunaan perangkat yang lebih sederhana seperti ponsel agar momen perjalanan tidak mudah terlewat.

Prioritaskan konten yang natural

Selain soal alat, Andy melihat selera penonton juga ikut berubah. Ia mengatakan tren media sosial kini bergerak ke konten yang lebih raw, authentic, dan simple.

Artinya, video dengan gaya terlalu sinematik tidak lagi selalu menjadi kebutuhan utama. Konten yang dibungkus sederhana justru bisa terasa lebih dekat dengan pengalaman asli saat traveling.

Manfaatkan fitur video LOG untuk editing

Andy mengaku sering memakai fitur LOG di Samsung Galaxy S26 Ultra saat membuat video. Format ini membuat proses editing lebih fleksibel, terutama untuk mengatur warna, highlight, dan shadow saat color grading.

Ia menyebut tampilan flat pada video LOG memberi ruang lebih besar untuk mengolah hasil akhir. Dengan begitu, pengguna bisa membangun karakter visual yang sesuai dengan gaya masing-masing.

Pakai tele lens untuk landmark

Untuk foto bangunan besar atau landmark, Andy menyarankan penggunaan tele lens. Menurut dia, lensa ini membantu menghasilkan efek kompresi sehingga subyek dan latar belakang terlihat lebih proporsional.

Teknik tersebut membuat hasil foto tampak lebih estetik dibanding memotret terlalu dekat dengan objek. Andy juga menilai pendekatan ini membantu menjaga bentuk visual tetap enak dilihat.

Ambil gambar dulu, atur framing belakangan

Saat traveling, Andy menyarankan pengguna lebih dulu menangkap momen secepat mungkin. Setelah itu, framing atau crop bisa diatur saat proses editing.

Cara ini efektif jika kamera ponsel punya resolusi tinggi. Andy sendiri memanfaatkan mode 200 MP di Galaxy S26 Ultra agar hasil foto tetap tajam meski dipotong kembali.

Gunakan AI untuk kebutuhan perjalanan

Andy juga mendorong pemakaian fitur AI seperti Gemini, Circle to Search, dan Live Translate. Fitur-fitur itu membantunya mencari informasi tempat wisata, menerjemahkan bahasa asing, dan menemukan lokasi dari video di media sosial.

Ia mengatakan tiga fitur itu sudah menjadi bagian yang hampir selalu dipakai saat traveling. Selama dua tahun terakhir, ia menilai teknologi tersebut sangat membantu dalam banyak situasi perjalanan.

Percepat transfer file dengan Quick Share

Selain saat memotret dan merekam, alur kerja setelah pengambilan gambar juga penting. Andy menyoroti Quick Share di Samsung Galaxy S26 Ultra karena memudahkannya memindahkan file dari smartphone ke laptop tanpa kabel tambahan.

Bagi kreator yang bekerja di perjalanan, proses ini memangkas langkah teknis yang sering memakan waktu. Alur transfer yang lebih cepat membuat file foto dan video bisa segera masuk ke tahap editing.

Source: tekno.kompas.com
Terkait